Tradisi Saparan menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang masih bertahan hingga kini. Di Jawa Timur, tradisi yang berkaitan dengan bulan Safar hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari selamatan, doa bersama, hingga kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat.
Meski tidak selalu disebut dengan nama Saparan, sejumlah tradisi masyarakat Jawa Timur pada bulan Safar menunjukkan nilai yang sama, yakni ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta upaya menjaga hubungan sosial antarwarga.
Apa Itu Tradisi Saparan?
Istilah Saparan tidak merujuk pada satu bentuk tradisi yang sama di seluruh wilayah Jawa. Nama dan pelaksanaannya berkembang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saparan berasal dari kata Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender Hijriah. Dalam budaya Jawa, bulan Safar dikenal dengan berbagai tradisi yang berkembang sesuai dengan kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.
Secara umum, tradisi Saparan berkaitan dengan kegiatan selamatan atau doa bersama yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur dan harapan mendapatkan keselamatan.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari budaya Jawa yang mengalami proses akulturasi antara nilai lokal dan ajaran Islam. Bentuk pelaksanaannya pun beragam, tergantung daerah yang menjalankannya.
Makna Tradisi Saparan bagi Masyarakat Jawa Timur
Bagi sebagian masyarakat Jawa Timur, tradisi bulan Safar bukan hanya sekadar kegiatan tahunan, tetapi menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial. Beberapa nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Ungkapan Rasa Syukur
Kegiatan Saparan sering dikaitkan dengan rasa syukur atas kesehatan, rezeki, dan kehidupan yang diberikan Tuhan. Masyarakat biasanya menggelar doa bersama atau berbagi makanan sebagai simbol kebersamaan.
2. Mempererat Silaturahmi
Tradisi yang melibatkan banyak warga menjadi kesempatan untuk berkumpul dan menjaga hubungan antaranggota masyarakat. Nilai gotong royong terlihat dari persiapan acara hingga pelaksanaan kegiatan.
3. Menjaga Warisan Budaya
Tradisi Saparan menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Jawa Timur mempertahankan tradisi leluhur tanpa meninggalkan nilai keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Tradisi Bulan Safar di Jawa Timur
Berbeda dengan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang memiliki tradisi Saparan besar seperti Yaqowiyu atau Saparan Bekakak, di Jawa Timur tradisi bulan Safar lebih banyak berkembang dalam bentuk kegiatan lokal masyarakat.
Salah satu tradisi bulan Safar yang dikenal di Jawa Timur adalah Rebo Wekasan di Desa Suci Gresik. Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini berkembang di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, dan menjadi salah satu warisan budaya masyarakat setempat.
Menurut laman Pemerintah Desa Suci, tradisi tersebut berkaitan dengan sejarah masyarakat Desa Suci dan dilakukan sebagai bentuk doa, sedekah, serta rasa syukur. Dalam perkembangannya, Rebo Wekasan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gresik.
Pelaksanaan tradisi biasanya diisi dengan kegiatan keagamaan dan kebersamaan masyarakat. Selain doa bersama, masyarakat juga menjaga unsur sosial melalui kegiatan silaturahmi dan penyajian makanan tradisional.
Kajian akademik dari UIN Sunan Ampel Surabaya menyebut Rebo Wekasan Desa Suci sebagai bentuk pertemuan antara budaya lokal Jawa dengan nilai-nilai Islam yang berkembang melalui proses dakwah dan kehidupan masyarakat setempat.
Saparan dan Rebo Wekasan, Apa Bedanya?
Saparan dan Rebo Wekasan sering dianggap sama karena sama-sama berkaitan dengan bulan Safar. Namun, keduanya memiliki perbedaan. Saparan merupakan istilah umum untuk tradisi yang dilakukan masyarakat pada bulan Safar.
Sementara itu, Rebo Wekasan lebih khusus merujuk pada tradisi yang dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Di beberapa daerah, Rebo Wekasan dapat menjadi bagian dari rangkaian tradisi bulan Safar, tetapi tidak semua tradisi Safar dapat disebut sebagai Rebo Wekasan.
Dalam praktiknya, tradisi Rebo Wekasan memiliki beragam pandangan di masyarakat. Sebagian menjalankannya sebagai tradisi budaya dan doa bersama, sementara sebagian lainnya melihatnya dari sudut pandang keagamaan masing-masing. Karena itu, pelaksanaannya berbeda antara satu daerah dengan daerah lain.
Perubahan zaman tidak membuat tradisi bulan Safar sepenuhnya hilang. Sebaliknya, sejumlah masyarakat masih mempertahankannya sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Tradisi Saparan menunjukkan budaya lokal dapat terus berkembang dengan menyesuaikan kehidupan masyarakat masa kini.
Bagi masyarakat Jawa Timur, tradisi tersebut bukan hanya tentang ritual tahunan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan menjaga hubungan sosial.
Tradisi Saparan di Jawa Timur menjadi gambaran bagaimana budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Melalui doa, kebersamaan, dan gotong royong, masyarakat menjaga warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
(irb/hil)
