Puluhan warga bersama juru pelihara cagar budaya menggelar tradisi Jamasan Arca Totok Kerot di Kabupaten Kediri. Kegiatan yang bertepatan dengan momentum bulan Suro ini ditujukan sebagai upaya pelestarian sekaligus edukasi kepada masyarakat untuk menjaga warisan leluhur.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, tradisi jamasan ini mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri.
Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priyatno, menjelaskan bahwa jamasan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud rasa syukur menyambut Tahun Baru Jawa serta ruang untuk mengedukasi warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Momentum bulan Suro dimanfaatkan untuk melakukan jamasan atau perawatan cagar budaya sekaligus sebagai wujud rasa syukur menyambut Tahun Baru Jawa dan memohon keselamatan," kata Eko, Jumat (10/7/2026).
Prosesi jamasan diawali dengan selamatan, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan arca secara simbolis oleh para juru pelihara dan masyarakat sekitar. Eko menegaskan bahwa seluruh proses pembersihan fisik arca wajib menerapkan kaidah konservasi yang ketat untuk menjaga keaslian situs.
"Perawatan cagar budaya memang tidak diperkenankan menggunakan cairan apa pun selain air. Tidak boleh memakai sabun ataupun bahan lainnya. Sikat yang digunakan juga khusus, berbulu halus. Teman-teman juru pelihara sudah memahami teknik perawatan tersebut," jelasnya.
Selain prosesi pembersihan arca, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan legenda Totok Kerot yang berkembang di tengah masyarakat. Kendati demikian, Disparbud tetap mengimbangi tradisi tersebut dengan memberikan penjelasan ilmiah dari sudut pandang arkeologi.
"Kalau secara arkeologi, benda ini merupakan Arca Dwarapala. Namun masyarakat juga mengenalnya sebagai Totok Kerot karena adanya legenda yang berkembang turun-temurun," pungkas Eko.
