Sakralnya Jamasan 6 Pusaka Kiai Ageng Ngaliman Nganjuk

Sakralnya Jamasan 6 Pusaka Kiai Ageng Ngaliman Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Jumat, 26 Jun 2026 17:15 WIB
Tradisi jamasan pusaka di Nganjuk
Tradisi jamasan pusaka di Nganjuk/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Sebanyak enam pusaka Kiai Ageng Ngaliman dijamas oleh masyarakat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jumat (26/6/2026). Jamas pusaka ini berlangsung penuh kesakralan.

Enam pusaka yang dijamas itu terdiri dari Kiai Kembar, Kiai Bondan, Kiai Jogotruno, Kiai Bethik, Raden Panji dan Nyai Dukun. Prosesi berlangsung mulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Tradisi turun temurun itu melibatkan masyarakat adat setempat.

Sebelum dijamas, enam pusaka itu terlebih dahulu dikirab menuju Makam Kiai Ageng Ngaliman. Dalam kirab, terdapat tokoh membawa kemenyan, cucuk lampah, kemudian barusan pembawa pusaka dan para pengikut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi jamasan pusaka di NganjukTradisi jamasan pusaka di Nganjuk Foto: Bakrie/detikJatim

"Enam pusaka ini dibawa dulu ke Makam Mbah Ngaliman sebelum dijamas. Intinya pamit dulu ke beliau sambil kita mengirim doa bagi beliau," ujar Ketua Tokoh Adat Desa Ngliman, Mbah Tulus.

ADVERTISEMENT

Mbah Tulus menjelaskan bahwa tradisi ini sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakat setempat.

"Pusaka-pusaka itu, kalau dilihat dari tahunnya, sejak tahun 972 masehi, era Pu Sindok. Dulu pusaka itu dipakai untuk berperang dengan wilayah Kediri atau Dhoho, baik oleh Pu Sindok maupun Mbah Yai Ngaliman," tutur Mbah Tulus.

Menurut Mbah Tulus, tradisi ini dilakukan untuk keselamatan bagi seluruh masyarakat Nganjuk.

"Jadi harapannya, agar tradisi ini terus kita uri-uri, dimeriahkan semeriah mungkin, agar semua masyarakat punya adab, punya adat," jelasnya.

Setelah dikirab ke Makam Kiai Ageng Ngaliman, enam pusaka itu kemudian dibawa kembali ke gedong pusaka yang ada di Balai Desa Ngliman untuk dijamas. Setelah itu, air bekas jamasan pusaka, diperebutkan masyarakat.

"Air bekas jamasan tadi dibawa oleh masyarakat untuk dibawa pulang. Yang tani untuk pertanian, untuk orang sakit. Karena dulu kan tidak ada dokter, jadi air bekas jamasan itu buat obat," bebernya.

Jamasan pusaka ini dihadiri oleh perangkat Desa Ngliman, Forkopimcam Sawahan, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk Gunawan Widagdo serta Kepala Dinas Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasar.



(abq/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads