Festival Ronthek Pacitan dikenal sebagai salah satu agenda budaya terbesar di Jawa Timur. Ribuan masyarakat selalu memadati jalanan setiap kali festival ini digelar untuk menyaksikan pertunjukan musik bambu yang dipadukan dengan tari, kostum, hingga parade seni yang spektakuler.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, Festival Ronthek berawal dari tradisi sederhana masyarakat Pacitan saat bulan Ramadan. Tradisi membangunkan warga untuk makan sahur menggunakan bunyi bambu itu dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi pertunjukan budaya yang kini masuk dalam kalender pariwisata daerah sekaligus menjadi salah satu identitas budaya Kabupaten Pacitan. Lantas, bagaimana perjalanan Festival Ronthek hingga dikenal luas seperti sekarang?
Apa Itu Festival Ronthek Pacitan?
Festival Ronthek merupakan pertunjukan seni tradisional yang berakar dari budaya masyarakat Pacitan. Ciri khasnya adalah permainan musik menggunakan bambu yang dipukul sehingga menghasilkan irama ritmis yang khas.
Nama Ronthek berasal dari gabungan dua kata, yakni "ronda" dan "thethek". Istilah thethek merujuk pada bambu yang diberi celah memanjang sehingga dapat menghasilkan bunyi nyaring ketika dipukul.
Alat sederhana tersebut dahulu digunakan masyarakat saat berkeliling kampung pada malam hari. Seiring waktu, suara bambu yang awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi masyarakat berkembang menjadi simbol kreativitas sekaligus identitas budaya Kabupaten Pacitan.
Berawal dari di Bulan Ramadan
Jauh sebelum dikenal sebagai festival budaya, Ronthek merupakan bagian dari tradisi gugah sahur yang dilakukan masyarakat selama bulan Ramadan.
Sekelompok pemuda berkeliling kampung pada dini hari sambil memukul bambu untuk membangunkan warga agar tidak terlambat makan sahur.
Tradisi tersebut berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Pacitan.
Selain membangunkan warga, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antar masyarakat karena dilakukan secara gotong royong.
Dari sinilah lahir berbagai pola tabuhan bambu yang kemudian berkembang menjadi pertunjukan musik tradisional.
Transformasi Menjadi Festival Budaya
Perjalanan baru Ronthek dimulai pada 18-19 Agustus 2011 ketika Pemerintah Kabupaten Pacitan mengemas tradisi tersebut menjadi sebuah festival budaya. Penyelenggaraan perdana Festival Ronthek langsung mendapat perhatian nasional.
Saat itu, sebanyak 2.818 peserta terlibat dalam pertunjukan massal yang kemudian tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Momentum tersebut menjadi titik penting perkembangan Ronthek.
Tradisi yang sebelumnya hanya hadir di lingkungan masyarakat kemudian berubah menjadi festival tahunan yang melibatkan desa, kecamatan, komunitas seni, hingga pelaku industri kreatif.
Dampak Festival Ronthek bagi Pacitan
Festival Ronthek tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Saat festival berlangsung, ribuan pengunjung memadati pusat Kota Pacitan.
Kondisi ini membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, pengrajin suvenir, penyedia transportasi, hingga pelaku usaha pariwisata lainnya.
Karena itu, Festival Ronthek kini dipandang bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan juga salah satu penggerak ekonomi kreatif yang mendukung sektor pariwisata Kabupaten Pacitan.
Jejak Prestasi dan Para Juara Festival Ronthek
Sejak pertama kali diselenggarakan, Festival Ronthek telah melahirkan banyak kelompok seni yang menunjukkan kreativitas tinggi. Pada penyelenggaraan perdana tahun 2011, Desa Sedayu, Kecamatan Arjosari, berhasil menjadi juara pertama.
Pada tahun-tahun berikutnya, sejumlah kelompok dari Desa Bangunsari dan Desa Tanjungsari juga berhasil mencatatkan prestasi dalam festival tersebut.
Sementara itu, hingga penyelenggaraan tahun 2018, grup Raung Bambu dari Kecamatan Pringkuku dikenal sebagai salah satu peserta paling berprestasi setelah meraih gelar juara umum berkat kekompakan pertunjukan serta konsep artistik yang mereka tampilkan.
Persaingan antarkelompok tersebut turut mendorong lahirnya berbagai inovasi, tanpa meninggalkan ciri khas musik bambu yang menjadi identitas utama Festival Ronthek.
Mengapa Festival Ronthek Tetap Bertahan hingga Sekarang?
Keberhasilan Festival Ronthek bertahan selama bertahun-tahun tidak lepas dari kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai tradisi tetap dipertahankan melalui penggunaan alat musik bambu dan semangat gotong royong masyarakat.
Di sisi lain, penyelenggara juga terus menghadirkan inovasi pada konsep pertunjukan sehingga festival tetap relevan dan menarik bagi generasi muda maupun wisatawan.
Perpaduan antara warisan budaya dan kreativitas modern inilah yang membuat Festival Ronthek terus berkembang sebagai salah satu ikon budaya sekaligus destinasi wisata unggulan Kabupaten Pacitan.
Simak Video "Video: Khusyuknya Warga Pacitan Salat Id di Tepi Pantai"
(ihc/irb)