Nelayan Popoh Tulungagung Gelar Larung Sembonyo Berharap Kondisi Membaik

Nelayan Popoh Tulungagung Gelar Larung Sembonyo Berharap Kondisi Membaik

Adhar Muttaqin - detikJatim
Minggu, 05 Jul 2026 19:00 WIB
Tradisi Larung Sembonyo digelar Nelayan Popoh Tulungagung.
Tradisi Larung Sembonyo digelar Nelayan Popoh Tulungagung. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Masyarakat dan nelayan di Pantai Popoh, Tulungagung menggelar upacara adat Larung Sembonyo. Acara yang dimeriahkan rebutan gunungan hasil bumi ini diiringi harapan agar cuaca buruk tidak kembali terjadi.

Tradisi yang digelar setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa ini diawali dengan kirab tumpeng agung dan aneka sesaji. Selanjutnya prosesi dilanjutkan dengan selamatan doa bersama di dalam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Popoh.

Sementara itu ratusan masyarakat yang berada area pelabuhan tampak mengerumuni tumpeng agung yang berisi aneka hasil bumi berupa sayur dan buah-buahan. Belum tuntas tokoh adat memimpin doa, keriuhan langsung pecah, para pengunjung langsung berebut aneka sayur dan buah yang ada di gunungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal serupa juga terjadi di dalam TPI, masyarakat saling berebut aneka jajanan yang dirangkai pada gunungan.

Puncak rangkaian Sembonyo adalah pelarungan aneka sesaji yang dibawa ke tengah laut. Nuansa sakral tampak terasa saat sesaji dibawa ke dermaga.

ADVERTISEMENT

Dengan diiringi puluhan kapal nelayan, sesaji tersebut kemudian dibawa ke tengah laut untuk dilarung.

Tradisi Larung Sembonyo digelar Nelayan Popoh Tulungagung.Tradisi Larung Sembonyo digelar Nelayan Popoh Tulungagung. Foto: Adhar Muttaqin

Panitia Larung Sembonyo, Mohammad Sadad, mengatakan tradisi ini merupakan kegiatan rutin yang digelar masyarakat nelayan setiap bulan Suro. Upacara adat tersebut sebagai simbolisasi rasa syukur para nelayan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Ini wujud rasa syukur kami atas hasil laut dan bumi yang diberikan oleh Yang Kuasa. Kegiatan ini juga untuk pelestarian budaya dan kearifan masyarakat Popoh," kata Mohammad Sadad, Minggu (5/7/2026).

Dengan tradisi ini pihaknya berharap hasil tangkapan nelayan ke depan bisa melimpah dan seluruh masyarakat yang beroperasi di Pantai Popoh dijauhkan dari marabahaya.

"Semoga hasil laut melimpah, hasil bumi juga melimpah," ujarnya.

Menurutnya selama dua tahun terakhir masyarakat nelayan Popoh dihadapkan dengan musim paceklik ikan. Tangkapan laut mengalami penurunan tajam akhirnya kondisi cuaca buruk.

"Cuaca buruk sering terjadi, sehingga nelayan kami tidak berani melaut. Semoga ke depan kondisinya lekas membaik," imbuhnya.

Sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat nelayan dilarang melaut selama tiga hari berturut-turut sebelum puncak Larung Sembonyo. Cara ini sebagai simbol untuk mengistirahatkan laut, setelah setahun terakhir memberikan rezeki kepada nelayan.




(abq/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads