Masyarakat dan layanan yang beroperasi di Pantai Cengkrong Trenggalek mengggelar upacara adat labuh laut Ladung Sembonyo dan sedekah bumi. Kemeriahan tampak terasa saat warga saling berebut hasil bumi dan tumpeng durian.
Tradisi adat ini diawali dengan kirab tiga tumpeng agung berupa nasi, aneka sayur mayur dan buah durian dari Balai Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo menuju Pantai Cengkrong.
Acara dilanjutkan seremonial dan doa yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Momen tahunan ini menjadi magnet bagi masyarakat dan wisatawan di Pantai Cengkrong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme semakin terasa saat warga saling berebut aneka sayur mayur dan hasil bumi serta gunungan buah durian. Namun, sayang rebutan buah durian dilakukan saat aba-aba dimulai. Dalam sekejap tumpukan durian ludes diperebutkan warga.
Panitia pelaksana Larung Sembonyo Imam Syaifudin, mengatakan tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat dan nelayan di Desa Karanggandu atas karunia Tuhan Yang Maha Esa berupa hasil laut dan bumi.
"Jadi ini bentuk rasa syukur kami, sehingga ini dua acara yang kami gelar sekaligus yaitu labuh laut dan sedekah bumi," kata Imam, Rabu (17/6/2026).
Usai rangkaian doa, salah satu tumpeng agung dibawa ke tengah laut untuk dilarung oleh para nelayan. Tumpeng tersebut sebagai simbol syukur dan doa nelayan.
"Tentu harapan kami ke dapan, para nelayan dan masyarakat diberikan rezeki berupa tangkapan ikan yang banyak dan hasil bumi yang melimpah. Kami juga berdoa semoga warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya," jelasnya.
Imam menjelaskan selama setahun terakhir hasil laut di pesisir selatan Kecamatan Watulimo sempat mengalami paceklik. Nelayan kesulitan mendapatkan ikan akibat cuaca buruk dan beberapa faktor lainnya.
"Tapi Alhamdulillah beberapa bulan ini walaupun masih paceklik tapi sudah mulai ada ikan. Semoga ke depan semakin melimpah," imbuhnya.
Sementara itu untuk hasil bumi, saat ini kawasan Desa Karanggandu mulai memasuki musim panen raya durian. Ribuan hektare lahan di kawasan hutan menghasilkan raja buah dengan melimpah.
"Musim durian ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Bisa dikatakan panen raya. Namun, untuk ini agak mundur panennya dan tidak bersamaan, ada yang sudah tua, ada yang masih muda dan ada yang masih berbunga," jelasnya.
Pada penen raya, para pedagang banyak yang berbelanja di Desa Karanggandu dan sekitarnya untuk berburu buah durian. "Biasanya itu bulan April Mei sudah habis, tapi ini justru mulai panen," kata Imam.
