Tradisi Sakral Jamasan Pusaka Kiai Upas Tulungagung

Tradisi Sakral Jamasan Pusaka Kiai Upas Tulungagung

Adhar Muttaqin - detikJatim
Jumat, 03 Jul 2026 16:45 WIB
Tradisi jamasan pusaka tombak Kiai Upas di Griya Dalem Kanjengan, Tulungagung
Tradisi jamasan pusaka tombak Kiai Upas di Griya Dalem Kanjengan, Tulungagung. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Tradisi tahunan upacara adat jamasan pusaka tombak Kiai Upas kembali digelar di Griya Dalem Kanjengan, Tulungagung. Sembilan jenis air digunakan untuk melakukan ritual pencucian.

Tradisi diawali dengan kirab nawa tirta atau sembilan air dari simpang empat Prayit menuju Griya Dalem Kanjengan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung. Tirta nawa selanjutnya diserahkan kepada Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin.

Selanjutnya, pusaka tombak Kiai Upas dikeluarkan dari Dalem Kanjengan dan dibawa ke buritan untuk dilakukan prosesi jamasan. Secara perlahan pembungkus dan warangka tombak dibuka oleh tokoh adat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pencucian tombak dilakukan oleh penjamas dengan menggunakan tirta nawa. Debu dan kotoran yang menempel pada ujung tombak dibersihkan. Pada saat jamasan berlangsung hanya boleh dilihat boleh kaum laki-laki, sedangkan perempuan tidak boleh mendekat.

Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, upacara adat ini digelar setahun sekali setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Upacara ini sebagai bentuk pelestarian adat sekaligus menjaga pusaka milik kabupaten.

ADVERTISEMENT

"Pusaka Kiai Upas ini adalah ikon dari Tulungagung. Jamasan rutin kita gelar setiap tahun untuk merawat pusaka tersebut," kata Ahmad Baharudin, Jumat (3/7/2026).

Selain sebagai bentuk pelestarian kebudayaan, jamasan tombak Kiai Upas juga untuk meningkatkan UMKM yang ada di sekitarnya dan menjadi daya tarik wisata budaya.

Menurutnya tombak Kiai Upas memiliki nilai historis antara Tulungagung (Kadipaten Ngrowo) dengan Kerajaan Mataram dan Yogyakarta. "Jadi ada nilai sejarah yang kuat," ujarnya.

Pihaknya berharap, tradisi adat ini terus dilestarikan dan pusaka peninggalan masa lalu tersebut tetap terawat dan terjaga keberadaannya.

Di akhir upacara, masyarakat saling berebut aneka sesaji berupa pisang hingga kelapa yang yang terpasang di lokasi. Warga juga mengambil air sisa jamasan.

Pusaka Kiai Upas awalnya merupakan milik Ki Wonoboyo yang kemudian diwariskan kepada anaknya, Ki Ageng Mangir. Pusaka ini kemudian diserahkan kepada Adipati Ngrowo atau saat ini disebut Tulungagung.

Pusaka Kiai Upas dipercaya memiliki kesaktian. Konon, pada masa perjuangan, pusaka ini mampu menghalau pasukan Belanda masuk ke Tulungagung.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads