Alasan Gontor Tetap Pentaskan Wayang Kulit di Usia 100 Tahun

Alasan Gontor Tetap Pentaskan Wayang Kulit di Usia 100 Tahun

Charolin Pebrianti - detikJatim
Minggu, 07 Jun 2026 18:00 WIB
Di usia yang genap 100 tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor tetap mempertahankan pagelaran wayang kulit.
Wayang kulit di peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (Foto: Istimewa)
Ponorogo -

Di tengah peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, satu tradisi yang telah lama melekat kembali ditampilkan, yakni pagelaran wayang kulit. Bagi Gontor, kesenian tradisional tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan yang sarat akan pesan moral dan nilai kehidupan.

Pagelaran wayang kulit digelar di Lapangan Hijau Gontor pada Sabtu (6/6/2026) malam. Ribuan santri dan masyarakat memadati arena untuk menyaksikan pertunjukan yang menghadirkan dalang asal Surakarta, Ki Bayu Aji.

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Hasan Abdullah Sahal, mengatakan kecintaannya terhadap wayang telah tumbuh sejak kecil. Menurutnya, dunia pewayangan menyimpan banyak gambaran tentang watak manusia dan perjalanan hidup yang relevan untuk dipelajari hingga saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak kecil saya memang senang menonton wayang. Di dalam pewayangan itu banyak menggambarkan watak manusia dan perjalanan kehidupan yang bisa menjadi pelajaran," kata Hasan.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, alasan Gontor rutin menghadirkan wayang kulit dalam berbagai momentum penting tidak terlepas dari nilai edukatif yang terkandung di dalamnya. Karena itu, pagelaran wayang hampir selalu menjadi bagian dari perayaan besar di lingkungan pondok.

"Setiap ada peringatan atau perayaan besar, Gontor mengundang wayang kulit. Sebab wayang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik," ujarnya.

Di usia yang genap 100 tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor tetap mempertahankan pagelaran wayang kulit.Pertunjukan wayang kulit di Pondok Modern Darussalam Gontor Foto: Istimewa)

Menurut Hasan, cerita dan simbol yang disampaikan dalam pertunjukan wayang dapat membantu santri memahami kehidupan sosial, termasuk pentingnya membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.

"Santri harus bisa bergaul dengan siapa saja. Kadang pelajaran itu tidak hanya disampaikan lewat bahasa, tetapi juga lewat gerak, simbol, dan cerita yang ada dalam pertunjukan wayang," tambahnya.

Pagelaran tersebut menjadi salah satu agenda budaya dalam rangkaian peringatan 100 tahun Gontor. Lakon Parikesit Dadi Ratu dipilih sebagai media penyampaian nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan kepada generasi muda.

Sementara itu, Pimpinan PMDG KH M Akrim Mariyat menilai esensi utama pewayangan tidak terletak pada sosok dalang maupun perangkat pertunjukannya, melainkan pada pesan yang disampaikan kepada penonton.

"Yang paling penting dalam perwayangan adalah syiar dan nilai yang terkandung di dalamnya. Itulah yang menjadi pelajaran bagi masyarakat," ujar Akrim.

Lebih dari 4.000 penonton disebut menghadiri pagelaran yang berlangsung hingga menjelang pagi tersebut. Selain menjadi hiburan rakyat, pertunjukan wayang kulit itu juga menjadi sarana dakwah dan penguatan nilai-nilai karakter dalam momentum peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads