Prof Amal Fathullah Zarkasyi merupakan salah satu figur sentral dalam perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor dan pendidikan pesantren modern di Indonesia. Sepanjang hidupnya, ia menapaki karier panjang sebagai pendidik, akademisi, dan pemimpin pondok, dengan kontribusi nyata.
Pengabdian Prof Amal tidak hanya terhenti di ruang kelas atau jabatan struktural semata. Ia terlibat aktif dalam proses transformasi kelembagaan, penguatan sistem pendidikan pesantren, hingga perjuangan pengakuan negara terhadap pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.
Karier Prof Amal di Pondok Modern Darussalam Gontor dimulai sejak ia lulus dari Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyyah (KMI) pada 1969. Sejak saat itu, ia mengabdikan diri sebagai guru di KMI Gontor, dan terus berkiprah di lingkungan pendidikan pesantren, seiring dengan perjalanan akademiknya di dalam dan luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karier Akademik dan Kepemimpinan
Amal mengabdikan diri sebagai guru di KMI Gontor sejak lulus dari KMI Gontor pada 1969. Seiring dengan karier akademiknya, Amal terus mengabdikan diri di Pondok Modern Gontor.
Selain menjadi tenaga pendidik, Amal memegang jabatan penting. Ia menjadi guru di Kuliyatul Mu'allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor sejak 1969. Setelah itu, menjadi dosen di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor tahun 1978-1980, dan menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin IPD Gontor tahun 1988-2000.
Amal juga sempat menjadi Pembantu Rektor III Institut Studi Islam Darussalam (ISID) padan 1996-2000. Pada 2001-2005, ia menjadi salah satu anggota Tim Diknas dalam penyetaraan Madrasah KMI dengan SMU. Amal kembali menjabat sebagai Pembantu Rektor IV ISID pada 2006-2014.
Setelah dua kali menjadi Pembantu Rektor, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Darussalam (UNIDA Gontor pada 2014-2020. Hingga akhirnya, Amal menjadi Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor pada 2020 hingga sekarang.
Daftar karier Akademik dan Kepemimpinan
- Guru di Kuliyatul Mu'allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor sejak 1969.
- Dosen di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor tahun 1978-1980.
- Dekan Fakultas Ushuluddin IPD Gontor tahun 1988-2000.
- Anggota Tim Diknas dalam penyetaraan Madrasah KMI dengan SMU pada tahun 2001-2005.
- Pembantu Rektor III Institut Studi Islam Darussalam (ISID) tahun 1996-2000.
- Pembantu Rektor IV ISID sejak tahun 2006-2014.
- Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor 2014-2020.
- Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2020-sekarang.
Peran pentingnya terlihat dalam proses transformasi Institut Studi Islam Darussalam (ISID) menjadi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) yang menandai babak baru pengembangan pendidikan tinggi pesantren di Indonesia.
Peran strategis di Dunia Pesantren Nasional
Amal dikenal sebagai sosok pejuang pendidikan pesantren. Ia sebelumnya telah memperjuangkan kesetaraan sarjana muda Gontor dengan lulusan perguruan tinggi di Mesir, sehingga nantinya dapat melanjutkan studi magister di negara tersebut.
Sekembalinya ke tanah air usai memperjuangkan pengakuan Gontor di Mesir, ia bersama ribuan kiai pesantren dan pemerhati pesantren mendorong pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren salaf dan khalaf.
Apa yang diperjuangkan Amal membuahkan hasil. Pada 2018, Undang-Undang Pesantren disahkan, dan menjadi landasan hukum pengakuan negara terhadap pesantren.
Selain teologi, Amal aktif mengembangkan pola pendidikan mu'allimin, yakni integrasi kurikulum agama dan umum di pesantren. Amal menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu'adalah, yang mengoordinasi pesantren-pesantren mu'adalah di Indonesia, sesuai UU No 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Setelah wafatnya KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Syamsul Hadi Abdan pada 2020, Amal ditunjuk langsung oleh Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Amal merupakan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor periode kelima sejak 2020. Periode pertama dipimpin Trimurti pendiri, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.
Periode kedua dipimpin KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Shoiman Lukmanul Hakim. Periode ketiga KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Imam Badri.
Periode keempat KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan A Sahal, dan KH Syamsul Hadi Abdan. Amanah yang diembannya sebagai pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dijalankan hingga akhir hayatnya.
Karya Tulis
Sepanjang hayatnya, Ama menorehkan pemikiran dan gagasannya melalui sejumlah karya tulis. Karya-karya tersebut tidak hanya merekam perjalanan intelektualnya, tetapi menjadi rujukan penting dalam dunia pendidikan dan pemikiran Islam hingga kini.
- Theology Hindu Dharma dan Islam (1996)
- Manhaj al-Bahth al-Falsafi (1997)
- 'Ilmu Kalam (1998)
- Al-Salaf wa al-Salafiyyah fi al-Fikr al-Silami (2002)
- Nazariyah al-Fana' 'inda Abi Yazid al-Bustami (2003)
- Al-Ittijah al-Salafi al-Fikr al-Islami al-Hadith bi Indonesiya (2006)
- Aqidah al-Tawhid 'inda al-Falasifah wa al-Mutakallimin wa al-Sufiyah (2009)
Amanah sebagai pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dijalankan Prof Amal hingga akhir hayatnya. Jejak pengabdian, kepemimpinan, dan pemikirannya menjadi warisan penting yang terus hidup dalam sistem pendidikan pesantren dan generasi yang ia didik.
Sekilas Sosok Prof Amal Zarkasyi
Prof Amal merupakan ulama, akademisi, dan pendidik pesantren yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi pengembangan Pondok Modern Darussalam Gontor dan pendidikan Islam modern di Indonesia.
Ia lahir di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada 4 November 1949, yang merupakan putra keempat KH Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama dan pendidik, Amal ditempa dengan nilai disiplin, keilmuan, dan pengabdian sejak usia dini. Pendidikan keislaman yang ditempuh, baik di dalam maupun luar negeri, memperkaya perspektif keilmuannya dan membentuk karakter kepemimpinan yang berakar pada tradisi pesantren dan pendekatan akademik modern.
Menjelang akhir hayatnya, kondisi kesehatan Amal sempat menurun hingga wafat pada 3 Januari 2026. Ia meninggalkan istri, tiga anak, Jaziela Huwaida, Arif Afandi Zarkasyi, dan Ahmad Zakky Mubarok, serta sejumlah cucu. Warisan pemikiran, karya tulis, dan pengabdiannya akan terus hidup dalam dunia pesantren dan pendidikan Islam.
