Ritual jamasan dan bedol sepasang pusaka digelar di Pendopo KRT Sosro Koesoemo Kabupaten Nganjuk, Jumat (5/6/2026) malam. Kedua pusaka dipercaya menjadi 'penjaga' yang sejak dahulu bersemayam di pendopo.
Suasana sakral sangat terasa sepanjang ritual berjalan. Aroma dupa dan melati tercium pekat.
Kedua pusaka itu masing-masing berwujud tombak besar bernama Kyai Jurang Penatas. Satunya lagi payung pusaka bernama Kyai Tunggul Wulung.
Bukan sekadar pusaka warisan leluhur, kedua pusaka itu mengiringi jejak panjang perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk pada 6 Juni 1880 silam.
Kyai Jurang Penatas tampak gagah dengan wujud tombak berukuran sekitar dua meter. Gagangnya terbuat dari kayu dengan ukiran berwarna emas yang menghiasi hampir seluruh bagian pegangan. Di ujungnya terpasang mata tombak berbahan logam yang tampak kokoh.
Sedangkan Kyai Tunggul Wulung berwujud songsong atau payung pusaka berwarna hijau tua berornamen emas. Gagang kayunya juga dipenuhi ukiran bernuansa keemasan yang menambah kesan agung dan berwibawa.
Ritual diawali dengan mengeluarkan kedua pusaka, dari lemari penyimpanan di ruang Peringgitan Pendopo KRT Sosro Koesoemo oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.
Dengan hati-hati, pusaka diserahkan Marhaen kepada para sesepuh adat untuk menjalani prosesi jamasan atau penyucian.
Lantunan tembang macapat mengiringi jalannya ritual. Suara merdu para pelantun tembang berpadu dengan harum kemenyan yang dibakar di sudut pendopo. Suasana khidmat terasa ketika doa-doa keselamatan dipanjatkan untuk masyarakat Nganjuk.
"Diringi mocopatan, Pak Bupati menyerahkan dua pusaka, yaitu Payung Tunggul Wulung dan Tombak Jurang Penatas kepada sesepuh yang biasa melakukan jamasan pusaka," ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk Gunawan Widagdo.
Menurut Gunawan jamasan adalah ritual pembersihan atau penyucian pusaka. Prosesi ini merupakan bagian penting dari rangkaian Boyong Hamangun Projo, yakni prosesi pawai memperingati perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk.
"Setelah jamasan kering selesai, pusaka akan diserahkan kembali kepada Bupati. Selanjutnya dari Bupati diserahkan kepada Caraka untuk dibawa menuju Pendopo Kacangan (Berbek)," terangnya.
Perjalanan pusaka dilakukan oleh para Caraka yang merupakan trah atau keturunan Kanjeng Djimat KRT Sosro Koesoemo, bupati pertama Kabupaten Nganjuk.
Setibanya di Balai Desa Kacangan, pusaka diserahkan kepada pemangku desa dan diterima langsung oleh Kepala Desa Kacangan bersama Camat Berbek untuk diinapkan semalam.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi mengatakan prosesi jamasan dan bedol pusaka menjadi awal rangkaian Boyong Hamangun Projo yang akan mencapai puncaknya pada Sabtu (6/6/2026).
"Besok kita akan melaksanakan Boyong Hamangun Projo. Sebelum pawai boyong, malam ini ada agenda jamasan dan bedhol pusaka. Pusaka kita antar dulu malam ini, besok siang akan kita kirab dari Berbek menuju Pendopo Sosrokusumo Nganjuk," terang Marhaen.
Menurut Marhaen, ritual ini bukan hanya upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membangun Kabupaten Nganjuk.
"Ini juga dalam rangka membangun budaya, memperingati Boyong yang dulu perpindahan Kabupaten Nganjuk dari Berbek ke sini. Dan kita mohon doanya semua masyarakat Nganjuk sehat walafiat semuanya, rezekinya banyak," pungkas Marhaen.
Simak Video "Menyusuri Pasar Berbek di Nganjuk untuk Menjual Kue Apem Buatan Sendiri"
(auh/abq)