Wayang Timplong Nganjuk Diupayakan Jadi WBTB Nasional

Wayang Timplong Nganjuk Diupayakan Jadi WBTB Nasional

Bakrie - detikJatim
Minggu, 17 Mei 2026 21:00 WIB
Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.
Wayang Timplong yang dibuat perajin asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Wayang Timplong sebagai kesenian tradisional khas Nganjuk terus diupayakan agar tetap lestari. Salah satu langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) ialah mendorong kesenian tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional.

Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Nganjuk, Amin Fuadi mengatakan, pihaknya telah memulai proses pendaftaran wayang timplong sebagai WBTB nasional sejak beberapa tahun terakhir.

"Dari pendataan dan pengumpulan persyaratan-persyaratan sedang dilakukan. Memang tidak mudah dan tahapannya banyak," ungkap Amin kepada detikJatim, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Amin optimistis wayang timplong nantinya dapat ditetapkan sebagai WBTB nasional sehingga lebih dikenal luas dan mendapat pengakuan resmi secara nasional.

"Wayang timplong merupakan identitas budaya lokal yang harus dijaga keberadaannya," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Selain proses pengajuan WBTB, Disporabudpar juga berupaya menjaga keberlangsungan ekosistem kesenian wayang timplong, baik dari sisi perajin maupun dalang. Amin menekankan pentingnya regenerasi agar kesenian tersebut tidak punah.

Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.Perajin wayang timplong Sulianto berharap generasi muda ikut menjaga kelestarian warisan budaya khas Nganjuk yang kini mulai jarang memiliki penerus. (Foto: Bakrie/detikJatim)

Menurutnya, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, Disporabudpar tetap berusaha memperluas ruang tampil bagi wayang timplong. Salah satunya dengan melibatkan kesenian tersebut dalam berbagai event daerah maupun kerja sama dengan berbagai pihak.

"Kami dorong agar wayang timplong lebih sering tampil di pameran dan kegiatan budaya," ujarnya.

Tak hanya itu, pengenalan wayang timplong kepada generasi muda juga menjadi fokus utama. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga menyisipkan materi tentang wayang timplong dalam pembelajaran.

"Semua pihak harus berperan, untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Dengan begitu, wayang timplong tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga tetap hidup dan berkembang di masa depan," pungkas Amin.



(ihc/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads