Wayang timplong menyimpan cerita menarik dari asal-usul namanya. Disebut timplong, karena penonton pertunjukannya selalu mendengar bunyi-bunyian khas dari gamelan yang mengiringi.
Beberapa alat musik yang ditabuh menciptakan suara yang berbunyi "timplang... timplong... timplang... timplong".
"Dari situ awalnya. Lalu orang-orangnya menyebutnya wayang timplong," ujar Sulianto (60), perajin wayang timplong asal Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom pada Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunyi itu menjadi identitas kuat dalam setiap pementasan. Irama gamelan yang sederhana itu kemudian melekat sebagai penanda khas kesenian asli Nganjuk ini.
"Jadi setiap orang dengar langsung ingat pertunjukan wayang ini," imbuh Sulianto.
Karakter wayang timplong khas Nganjuk yang memiliki bentuk menyerupai wayang kulit, namun dibuat dari papan kayu mentaos sehingga lebih tebal dan kokoh. (Foto: Bakrie/detikJatim) |
Ada perbedaan bunyi gamelan pengiring wayang timplong dan wayang kulit. Ini karena perangkat gamelan wayang timplong lebih ringkas, tidak sebanyak gamelan wayang kulit.
"Pemain musiknya juga lebih sedikit dari wayang kulit. Pertunjukannya lebih sering pagi atau siang," ungkap Sulianto.
Wayang timplong juga dikenal dengan nama lain, yakni wayang krucil. Meski secara visual sekilas menyerupai wayang kulit, bahan yang digunakan berbeda.
Wayang timplong dibuat dari kayu mentaos, sehingga menghasilkan bentuk yang lebih tebal dan kokoh.
Kekhasan tidak hanya terletak pada bahan dan bunyi pengiringnya. Karakter dalam wayang timplong juga memiliki ciri tersendiri. Salah satunya adalah tokoh Semar versi timplong yang disebut Kedrah atau Sabdo Palon Noyo Genggong, dengan warna hitam dan rambut panjang terurai ke belakang.
Di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Ngliman, tokoh ini bahkan dianggap sakral dan digunakan dalam ritual adat tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa wayang timplong bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang kuat.
(ihc/hil)

