Kabupaten Nganjuk genap berusia 1.089 tahun pada 10 April 2026. Penetapan itu berdasarkan isi Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan dekat situs Candi Lor Desa Candirejo, Kecamatan Loceret.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk, Sukadi mengatakan, Prasasti Anjuk Ladang atau nama lainnya Jayastamba memang menjadi rujukan utama penentuan hari jadi Nganjuk.
Penetapannya tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor 495 Tahun 1993.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di dalam Prasasti Anjuk Ladang terdapat angka tanggal 12 Bulan Caitra tahun 859 Caka, yang bertepatan dengan 10 April 937 Masehi," ujar Sukadi kepada detikJatim, Minggu (5/4/2026).
Menurut Sukadi, temuan Prasasti Anjuk Ladang pertama kali dicatat oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java pada 1817.
Secara fisik, Prasasti Anjuk Ladang terbuat dari batu andesit dengan tinggi 2,6 meter dan lebar 100 sentimeter. Adapun tebal luarnya 27 sentimeter dan lebar tengah 33 sentimeter.
Di sisi depan prasasti terdapat 49 baris tulisan dan bagian belakang memuat 36 baris tulisan yang menggunakan aksara Jawa Kuno.
"Prasasti aslinya kini disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.59. Sedangkan replika yang bentuk dan ukurannya sama persis dapat dilihat di Museum Anjuk Ladang," ujar Sukadi.
Dalam prasasti terdapat kata "Anjuk Ladang" yang merujuk pada tokoh Pu Anjuk Ladang atau wilayah bernama Anjuk Ladang.
"Anjuk Ladang lambat laun berubah menjadi Nganjuk," imbuh Sukadi.
Secara umum, lanjut Sukadi, prasasti menceritakan peristiwa penting berupa pemberian status Sima Swantantra atau daerah bebas pajak oleh Raja Mataram Medang, Pu Sindok, kepada masyarakat Anjuk Ladang.
Penghargaan itu diberikan karena warga setempat membantu kerajaan dalam peperangan melawan Sriwijaya.
"Pu Sindok memerintahkan agar sebidang sawah di Anjuk Ladang ditetapkan sebagai daerah bebas pajak untuk dipersembahkan kepada Bhatara di Sang Hyang Prasada Kebhaktyan Sri Jayamerta (Candi Lor)," kata Sukadi.
Sebagai upaya melestarikan sejarah, setiap tanggal 10 April digelar upacara Manusuk Sima di kawasan Candi Lor. Prosesinya melibatkan puluhan orang yang memerankan tokoh-tokoh, lengkap dengan kostumnya, mengulangi kembali adegan-adegan yang tertulis dalam prasasti.
"Agar masyarakat tidak melupakan dan memahami sejarah Nganjuk yang sebenarnya," pungkas Sukadi.
