Kapten Kasihin, Pejuang Muda yang Namanya Abadi di Alun-Alun Nganjuk

Kapten Kasihin, Pejuang Muda yang Namanya Abadi di Alun-Alun Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Jumat, 13 Mar 2026 07:00 WIB
Sosok Kapten Kasihin abadi di Alun-alun Nganjuk
Sosok Kapten Kasihin abadi di Alun-alun Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Sosok yang diabadikan dalam monumen di tengah Alun-Alun Nganjuk bukan orang sembarangan. Ia adalah Kapten Kasihin, pejuang muda kemerdekaan Republik Indonesia yang jejak heroiknya terus masih dikenang masyarakat Nganjuk.

"Kapten Kasihin diabadikan namanya menjadi monumen di Alun-Alun Nganjuk, sebagai penghormatan atas pengorbanannya dalam melawan penjajah Belanda," ujar Sukadi, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk kepada detikJatim, Jumat (13/3/2026).

Sukadi menjelaskan, Kapten Kasihin memiliki nama lengkap Kasihin Hadi Soetomo. Ia merupakan perwira TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Komandan Kompi III Batalyon 22/Sriti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sukadi, Kapten Kasihin dikenal sebagai sosok pejuang yang gagah berani dan patriotik. Puncak perjuangannya terjadi saat Agresi Militer Belanda II pada 1949.

ADVERTISEMENT

Dalam pertempuran melawan tentara Belanda di wilayah Nganjuk, Kapten Kasihin tertembak pada 22 April 1949 saat usianya masih sangat muda, yakni 32 tahun.

"Lokasi pertempuran itu berada di wilayah yang kini berada di Dusun Tawangsari, Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom. Tepatnya di utara SDN Kedungombo I," ujar penggiat Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk) tersebut.

Kala itu, dalam keadaan terluka, Kapten Kasihin sempat berusaha menyelamatkan diri ke rumah salah satu warga di Dusun Tawangsari, Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom.

Namun keberadaannya diketahui oleh pasukan Belanda hingga akhirnya ia gugur di tempat itu.

Untuk mengenang perjuangannya, di lokasi pertempuran di Dusun Tawangsari juga didirikan monumen, selain di Alun-Alun Nganjuk.

Sukadi menambahkan, jenazah Kapten Kasihin awalnya dimakamkan di Desa Kedungombo. Namun pada 1969 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Rejoagung, Kabupaten Tulungagung.

Ini karena Kapten Kasihin memang berasal dari Tulungagung. Ia lahir di Desa Kalangbret, Kecamatan Kauman, Tulungagung.

Hingga kini, nama Kapten Kasihin terus dikenang masyarakat. Selain melalui monumen dan tugu peringatan, namanya juga diabadikan menjadi sejumlah nama jalan, di antaranya Jalan Kapten Kasihin HS di depan SMAN 1 Nganjuk, Jalan Kapten Kasihin di Dusun Tawangsari Desa Kedungombo Kecamatan Tanjunganom, serta Jalan Kapten Kasihin di Desa Plandaan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung.

"Kisah Kapten Kasihin menjadi teladan keberanian dan pengorbanan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia," pungkas Sukadi.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads