7 Tradisi Lebaran di Jawa Timur

7 Tradisi Lebaran di Jawa Timur

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Senin, 16 Mar 2026 04:00 WIB
Festival balon udara menghiasi langit Ponorogo. Sebanyak 49 balon meramaikan festival yang digelar di Lapangan Nongkodono, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman ini.
Balon udara di Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/ detikjatim)
Surabaya -

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang dinantikan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadhan. Selain identik dengan saling bermaafan dan berkumpul bersama keluarga, Lebaran juga diwarnai berbagai tradisi khas di setiap daerah.

Di Jawa Timur, terdapat sejumlah tradisi Lebaran yang masih dilestarikan masyarakat hingga kini. Tradisi tersebut biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

7 Tradisi Lebaran di Jawa Timur

Berikut sejumlah tradisi lebaran di Jawa Timur yang masih dilestarikan hingga kini :

1. Balon Lebaran

Salah satu tradisi lebaran yang masih lestari hingga kini adalah tradisi Balon Lebaran di wilayah Ponorogo, Jawa Timur. Tradisi tersebut rutin diselenggarakan setiap tahunnya dengan tujuan sebagai media belajar bagi masyarakat agar tidak menerbangkan balon udara secara liar.

ADVERTISEMENT
Balon udara di PonorogoBalon udara di Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)

Sejak tahun 2018, pengadaan festival balon udara di Ponorogo ini mendapat pengawasan ketat dari pihak yang berwenang. Hal ini supaya pelaksanaan tradisi tetap berlangsung secara lancar dan tidak mengakibatkan kerugian pihak lain.

2. Barong Ider Bumi

Selanjutnya, ada tradisi Barong Ider Bumi yang berasal dari Desa Adat Osing Kemiren, Banyuwangi. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari kedua Lebaran dengan tujuan menolak bala.

Kemeriahan Barong Ider Bumi Banyuwangi Setelah 2 Tahun Digelar SederhanaKemeriahan Barong Ider Bumi Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)

Seperti berbagai ritual lain di Banyuwangi, Tradisi Ider Bumi juga diwarnai dengan sajian seni pertunjukan yang ditampilkan melalui sebuah arak-arakan. Kegiatan ini menyerupai festival atau karnaval yang melintasi rute tertentu, dimulai dari bagian timur hingga ke ujung barat Desa Kemiren.

3. Bibien

Terdapat tradisi di Desa Kasemek, Tenggarang, Kabupaten Bondowoso untuk menyambut Lebaran yakni Bibien. Tradisi tersebut berupa berburu nasi bungkus. Sejumlah warga biasanya akan menghadirkan nasi bungkus di depan rumah.

Nasi bungkus tersebut dapat diambil oleh siapa saja tanpa memandang usia ataupun status sosial. Biasanya, anak-anak menjadi pihak yang paling sering berburu nasi bungkus. Mereka berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya untuk mencari nasi bungkus yang disediakan di teras rumah warga.

4. Dus-Dusan

Tradisi Dus-Dusan atau mandi air laut di desa setempat merupakan tradisi ketika hari Lebaran Ketupat bagi warga Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Warga setempat meyakini tradisi tersebut dapat menjauhkan dari penyakit dan bahaya, terutama bagi para nelayan yang melaut.

Selain itu, tradisi tersebut menjadi ajang silaturahmi serta dipercaya dapat menyehatkan tubuh sekaligus membawa keberkahan, kesehatan, hingga keselamatan bagi keluarga.

5. Tompokan

Warga Kabupaten Jember juga memiliki tradisi dalam menyambut datangya Hari Raya Idul Fitri yang dikenal dengan Tompokan. Tompokan tersebut berasal dari Bahasa Madura yang artinya tumpukan.

Konsep tradisi ini kurang lebih sama dengan arisan. Warga akan menyetor uang dengan nominal yang telah ditetapkan, lalu dikumpulkan menjadi satu. Hasil uang tersebut akan dibelikan sapi dan dagingnya akan dibagi secara merata dan diolah saat Lebaran datang.

6. Makan Ribuan Ketupat Ramai-Ramai

Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan memiliki tradisi unik yaitu warga setempat membuat ketupat hingga ribuan kemudian dipajang di pinggir jalan. Ketupat berwarna kecoklatan tersebut digantung sehingga menciptakan pemandangan yang menarik.

Para pengunjung pun dipersilahkan menikmati ketupat sepuasnya di Desa Turi. Warga setempat juga menyediakan pelengkap seperti sayur berkuah dan berbagai lauk-pauk. Hidangan tersebut disantap bersama dengan penuh selera, terlebih karena dapat berkumpul dan menikmati ketupat secara ramai-ramai.

7. Makan Besar di Tanggal 7 Syawal

Di beberapa daerah seperti Tulungagung dan sekitarnya, masyarakat tidak langsung menyantap ketupat setelah salat Idul Fitri. Mereka biasanya terlebih dahulu menikmati hidangan lain sesuai selera keluarga masing-masing. Ketupat baru disajikan pada tanggal 8 Syawal.

Tanggal 8 Syawal menjadi momen istimewa karena masyarakat telah menuntaskan puasa sunah Syawal. Perayaan tersebut kemudian dikenal sebagai Lebaran Ketupat, yang ditandai dengan makan bersama. Ketupat biasanya tidak disajikan dengan opor ayam atau telur petis, melainkan dengan ayam lodho khas Tulungagung yang berkuah santan dan bercita rasa pedas.

Itulah tujuh tradisi Lebaran di Jawa Timur yang menarik untuk diketahui. Beragam tradisi tersebut menunjukkan kekayaan budaya sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat saat Idul Fitri.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads