Lima Tradisi Sambut Ramadhan di Jawa Timur

Lima Tradisi Sambut Ramadhan di Jawa Timur

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Minggu, 01 Feb 2026 09:40 WIB
Lima Tradisi Sambut Ramadhan di Jawa Timur
Ilustrasi Ramadhan. Simak Tradisi Ramdhan di Jawa Timur. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Maen Mahmood)
Surabaya -

Memasuki bulan suci Ramadan, masyarakat Muslim di Jawa Timur tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual melalui ibadah dan introspeksi diri, tetapi juga melestarikan berbagai tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi menyambut Ramadan ini menjadi bentuk ungkapan syukur, kegembiraan, sekaligus sarana mempererat kebersamaan antarwarga.

Perpaduan nilai agama, budaya lokal, dan kearifan sosial menjadikan tradisi Ramadan di Jawa Timur unik dan sarat makna, serta tetap relevan hingga kini di tengah modernisasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beragam tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya identitas masyarakat Jawa Timur sebagai daerah yang religius sekaligus menjunjung tinggi tradisi.

Daftar 5 Tradisi Menyambut Ramadhan

Berikut lima tradisi menyambut Ramadan yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakat Jawa Timur hingga sekarang.

ADVERTISEMENT

1. Megengan, Simbol Permohonan Maaf dan Doa Bersama

megengan di Lidah Wetan, SurabayaMegengan di Lidah Wetan, Surabaya Foto: Jemmi Purwodianto

Megengan berasal dari kata Jawa "Megeng" yang secara harfiah berarti menahan, sebagai simbol kesiapan mental umat Muslim untuk menahan hawa nafsu selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadan yang akan datang.

Tradisi ini sangat populer di wilayah Surabaya dan Malang ini melibatkan pembagian makanan khas berupa kue apem sebagai simbol permohonan maaf. Kata apem sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab yakni "Afuwan".

Secara filosofis, kue apem diletakkan dalam wadah sebagai simbol permintaan maaf kepada sesama manusia dan kepada Tuhan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan hati yang bersih. Biasanya dimulai dengan kenduri atau tahlilan di masjid atau musholla, di mana warga membawa nasi berkat untuk dinikmati bersama setelah doa bersama dipanjatkan.

2. Nyadran, Ziarah dan Mengingat Leluhur

Warga berkumpul dalam tradisi Nyadran di kompleks Pemakaman Umum Sentono, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026). Tradisi turun temurun penyembelihan hingga 48 ekor kambing dilanjutkan memasak gulai, berdoa bersama dan berziarah ke petilasan tokoh ulama setempat KH Asyari serta makam keluarga itu sebagai wujud rasa syukur warga atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.Tradisi Nyadran di Semarang Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan

Nyadran merupakan ritual ziarah makam yang dilakukan masyarakat Jawa Timur, khususnya di daerah pedesaan seperti Madiun, Bojonegoro dan Tulungagung, sebagai bentuk penghormatan dan pengiriman doa kepada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia.

Aktivitas ini tidak hanya sebatas berdoa, tetapi juga melibatkan gotong royong warga dalam membersihkan area pemakaman umum. Tradisi ini memperkuat ikatan silaturahmi antarwarga yang sering kali pulang kampung demi melakukan ritual tahunan.

Nyadran menjadi pengingat bagi yang masih hidup bahwa kematian adalah keniscayaan, sehingga manusia perlu memperbaiki diri melalui refleksi spiritual sebelum memasuki bulan penuh ampunan (Ramadan). Di beberapa tempat, Nyadran diakhiri dengan makan bersama di area pemakaman menggunakan "besek" (wadah bambu) sebagai wujud syukur dan kebersamaan.

3. Padusan, Membersihkan Diri Secara Lahir dan Batin

Masyarakat Indonesia memiliki sejumlah tradisi unik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah padusan.Sambut Ramadan, Warga Solo Ikuti Tradisi Padusan di Masjid Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya

Padusan diambil dari akar kata "Adus" atau mandi, yang merupakan ritual pembersihan diri menggunakan air di sumber-sumber mata air alami maupun tempat pemandian yang dianggap memiliki nilai sejarah atau sakralitas.

Masyarakat di daerah Kediri, Tuban, dan Gresik melakukan tradisi ini sebagai simbol untuk membuang segala kotoran batin dan kesalahan masa lalu. Tujuannya adalah agar badan dan jiwa benar-benar suci dalam beribadah.

Saat ini padusan sering kali menjadi ajang wisata air keluarga, namun nilai spiritualnya sebagai simbol pertobatan dan kesiapan fisik untuk menjalankan puasa tetap melekat kuat di hati masyarakat. Biasanya dilakukan satu hari sebelum puasa dimulai (H-1) pada waktu sore hari atau sebelum matahari terbenam.

4. Dandangan, Penanda Datangnya Ramadan

Warga memilih kerajinan gelang saat mengunjungi pasar malam dalam Tradisi Dandangan di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/3/2024). Tradisi setahun sekali yang berlangsung hingga Minggu (10/3) tersebut diikuti 680 pedagang dengan menjual berbagai produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai daerah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan 1445 Hijriah sekaligus upaya mendukung UMKM naik kelas.  ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/nym.Tradisi Dandangan sambut Ramadhan di Kudus Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Dandangan merupakan festival budaya yang ditandai dengan bunyi tabuhan bedug secara bertalu-talu sebagai pertanda masuknya awal Ramadan. Di Jawa Timur, tradisi ini sering kali berwujud pasar rakyat yang menjual berbagai kebutuhan harian.

Ruang interaksi ini mempertemukan aspek ekonomi, sosial, dan budaya dalam satu perayaan yang sangat meriah. Masyarakat berkumpul dengan antusiasme tinggi untuk mendengarkan pengumuman resmi mengenai kepastian waktu mulainya ibadah puasa tahunan.

Di beberapa titik, Dandangan juga disertai dengan pawai obor (oncor) oleh anak-anak dan remaja sebagai simbol cahaya keimanan yang menerangi kegelapan selama bulan suci berlangsung. Tradisi ini menjadi penggerak ekonomi lokal bagi UMKM karena tingginya daya beli masyarakat yang mempersiapkan kebutuhan pokok menjelang sahur dan berbuka.

5. Ruwahan, Doa dan Sedekah untuk Sesama

Ilustrasi ruwahanIlustrasi ruwahan Foto: iStock

Ruwahan dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Sya'ban sebagai sarana memperbanyak sedekah kepada tetangga maupun orang yang membutuhkan. Tradisi ini menonjolkan nilai kepedulian sosial yang sangat tinggi di tengah masyarakat agraris Jawa Timur.

Melalui kegiatan berbagi makanan dan doa bersama, masyarakat berusaha menanamkan semangat dermawan sebelum memasuki bulan Ramadan. Hal ini dianggap sebagai bekal spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa dan mempererat solidaritas antar sesama.

Fokus utama Ruwahan adalah "ngirim" doa kepada arwah leluhur, di mana keluarga berkumpul untuk membacakan Surat Yasin dan Tahlil sebagai bentuk bakti kepada orang tua yang telah tiada.

Sering kali kegiatan puncaknya bertepatan dengan malam Nisfu Sya'ban, di mana umat Muslim percaya bahwa catatan amal perbuatan manusia akan dilaporkan dan diperbarui.

Tradisi-tradisi ini bukan hanya ritual budaya, tetapi juga media pendidikan spiritual dan sosial bagi generasi muda agar tetap terhubung dengan akar budaya dan nilai keislaman

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/dpe)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads