Warga pesisir Sidoarjo, khususnya dari Desa Balongdowo dan sekitarnya, kembali menggelar tradisi Nyadran ke makam Dewi Sekardadu di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur nelayan atas hasil laut sekaligus doa memohon keselamatan saat melaut.
Ritual yang digelar setiap akhir bulan Ruwah ini diawali dengan arak-arakan perahu yang membawa tumpeng hasil bumi. Warga, yang didominasi kaum ibu, turut membawa tumpeng untuk dihantarkan ke makam Dewi Sekardadu, yang diyakini sebagai ibunda Sunan Giri.
Pantauan detikJatim di Sungai Desa Balongdowo, arak-arakan berlangsung meriah. Tumpeng raksasa diarak menuju lokasi pemberangkatan sebelum akhirnya diperebutkan warga sebagai simbol berkah. Tak hanya itu, belasan perahu turut memeriahkan prosesi dengan dilengkapi sound system atau yang dikenal warga sebagai sound horeg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persiapan dilakukan sejak dua hari sebelumnya. Setiap kelompok perahu bahkan merogoh kocek hingga Rp 45-55 juta untuk perlengkapan, termasuk mendatangkan crane guna menempatkan genset dan perangkat suara di atas perahu.
Setelah berziarah dan menggelar doa bersama, warga melarungkan tumpeng dan sesaji ke laut dekat Selat Madura. Prosesi ini menjadi simbol sedekah bumi dan laut, serta harapan agar nelayan diberi rezeki melimpah dan keselamatan selama melaut.
Asisten II Pemkab Sidoarjo, Bahrul Amiq, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga dalam melestarikan tradisi tersebut.
"Kegiatan hari ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmat keselamatan dan rezeki yang telah diberikan. Banyak nilai yang bisa kita petik, terutama kebersamaan dan gotong royong yang harus terus kita jaga," ujar Amiq dalam sambutannya
Ia juga menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Sidoarjo yang tidak dapat hadir secara langsung, serta berharap kegiatan berjalan lancar tanpa kendala.
"Dari pemerintah, kami berterima kasih kepada panitia dan seluruh petugas pengamanan yang sudah bekerja keras. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua," tambahnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Zahlul Yuzar menegaskan bahwa nyadran bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi bagian dari upaya melestarikan warisan leluhur masyarakat pesisir.
"Ini tradisi turun-temurun. Lewat nyadran, para nelayan berdoa agar diberi keselamatan saat melaut dan hasil tangkapan yang melimpah. Selain itu, ini juga mempererat kebersamaan warga," kata Zahlul.
(auh/hil)











































