Drama kolosal pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) dengan mengusung tema Alap - Alap Daidan PETA Blitar digelar secara meriah, malam ini. Drama kolosal tahunan itu digelar dengan melibatkan 200 peserta, yang terdiri dari seniman dan siswa Kota Blitar.
Pantauan detikJatim, drama kolosal dalam rangka memperingati hari cinta tanah air itu digelar sekitar pukul 20.30 WIB di Monumen PETA Kota Blitar. Ribuan masyarakat hadir menonton langsung drama kolosal tersebut.
Drama kolosal dimulai dengan pertunjukan dan penampilan sendratari dari Kota Blitar. Selanjutnya drama kolosal pemberontakan PETA berlangsung dengan penuh emosial dan magis Penampilan peserta kolosal itu mampu memukau penonton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Drama kolosal peringatan perjuangan PETA kali ini temanya itu Alap - Alap Daidan PETA Blitar. Makna yaitu perjuangan para pejuang PETA yang digambarkan melalui simbol Alap - Alap atau burung Rajawali," kata Plt Kepala Disbudpar Kota Blitar Rike Rochmawati kepada detikJatim, Sabtu (14/2/2026).
Rike menyebutkan drama kolosal pemberontak PETA selalu berbeda setiap tahunnya. Kali ini, pertunjukan PETA digelar dengan mengusung perjuangan pasukan PETA dalam melawan penjajah Jepang. Semangat perjuangan itu digambarkan dengan burung Rajawali.
"Tahun kemarin pertunjukan ditambah dengan cerita cinta Soepriyadi. Tapi tahun ini fokus terhadap bagaimana perjuangan tentara PETA dalam melawan penjajah," terangnya.
Menurut Rike, ada sekitar 200 peserta yang turut berpartisipasi dalam drama kolosal tersebut. Pesertanya yakni seniman dan siswa Kota Blitar. Para peserta disiapkan selama hampir satu bulan.
"Persiapanya sekitar 1 bulan. Dengan melibatkan sekitar 200 peserta, dari seniman dan siswa - siswi Kota Blitar," imbuhnya.
Lanjut Rike, drama kolosal PETA menjadi agenda tahunan dalam rangka memperingati hari cinta Tanah Air dan perjuangan PETA. Adapun tujuannya yakni untuk mendorong rasa nasionalisme bagi para generasi muda dan masyarakat.
"Tentunya harapan kami agar generasi muda mengenal perjuangam PETA, dan menanamkan jiwa nasionalisme dan cinta tanah air. Kemudian pertunjukan (PETA) digelar untuk umum, agar masyarakat selalu ingat terhadap PETA Blitar," pungkasnya.
(ihc/abq)











































