Tradisi tedak siten merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Jawa yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. Ritual ini menjadi penanda penting dalam fase tumbuh kembang bayi, khususnya saat anak mulai belajar menginjakkan kaki ke tanah dan mengenal dunia di sekitarnya.
Lebih dari seremoni adat, tedak siten mengandung nilai filosofis, doa, dan harapan orang tua terhadap masa depan sang anak. Dalam praktiknya, tradisi ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan atas pertumbuhan dan kesehatan bayi, sekaligus bentuk penghormatan kepada alam dan bumi tempat manusia berpijak.
Tedaksiten juga merefleksikan kuatnya hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat Jawa. Lalu, apa makna secara keseluruhan serta bagaimana prosesinya? Yuk, simak artikel berikut ini, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filosofi Tedak Siten
Dilansir dari situs Kemendikbud, secara etimologis, "tedak siten" berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni tedak yang berarti turun, dan siten atau siti yang berarti tanah. Dengan demikian, tedak siten dimaknai sebagai upacara "turun tanah", yaitu momen pertama kali seorang bayi diperkenalkan untuk menginjak bumi.
Tradisi Tedak Siten Foto: Erliana Riady |
Bagi masyarakat Jawa, tanah bukan sekadar pijakan fisik, melainkan simbol kehidupan, sumber penghidupan, dan bagian dari ibu pertiwi. Oleh karena itu, prosesi tedak siten dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada bumi, sekaligus pengenalan awal anak terhadap alam dan lingkungan tempat tumbuh dan berkembang.
Tradisi ini umumnya dilaksanakan ketika bayi berusia tujuh bulan menurut penanggalan Jawa. Dalam sistem kalender Jawa, satu bulan terdiri dari 35 hari, sehingga usia tujuh bulan Jawa setara dengan sekitar 245 hari.
Atau dalam kalender Masehi, usia bayi delapan bulan. Momentum ini diyakini sebagai fase penting ketika anak mulai siap secara fisik dan simbolis untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya.
Tujuan Pelaksanaan Tedak Siten
Tujuan utama tedak siten adalah memanjatkan doa dan harapan agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama, serta mampu menjalani kehidupan dengan bahagia dan bertanggung jawab.
Selain itu, tedak siten juga berfungsi sebagai sarana pendidikan nilai sejak dini. Melalui simbol-simbol dalam setiap prosesi, orang tua berharap anak mampu menghadapi berbagai tantangan hidup, memiliki keteguhan hati, serta diberi kemudahan dalam mencari rezeki dan menentukan jalan hidupnya.
Bagi keluarga dan lingkungan sekitar, tedak siten menjadi media mempererat hubungan sosial. Prosesi ini biasanya dihadiri oleh keluarga besar, tetangga, dan kerabat, sehingga menciptakan kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.
Prosesi Tedak Siten dan Makna Simboliknya
Ritual tedak siten terdiri dari beberapa tahapan yang sarat makna simbolis. Seluruh rangkaian umumnya dilaksanakan pagi hari dan diawali persiapan hidangan tradisional untuk selamatan, seperti tumpeng, jadah, dan ingkung ayam. Dilansir buku "Keragaman Negari Tiada Tepi", berikut tahapan tedak siten.
1. Membersihkan Kaki Anak
Urutan pertama adalah orang tua membersihkan kaki si anak dan menggendongnya sebelum menginjak kaki ke tanah. Tujuan ini dimaknai sebagai sucian sebelum memulai segala sesuatu dengan harapan agar anak menapaki kehidupan baru dengan hati dan sifat yang suci.
2. Melewati Tujuh Jadah
Anak Melewati Tujuh Jadah dalam Tradisi Tedak Sinten Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Anak kemudian dituntun ibunya untuk berjalan di atas tujuh jadah atau bubur ketan berwarna. Jadah dibuat dari beras ketan yang dicampur kelapa parut, lalu diberi pewarna makanan dengan tujuh warna, seperti hitam, merah, putih, kuning, biru, jingga, dan ungu.
Warna-warna tersebut melambangkan beragam perjalanan hidup yang kelak akan dilalui anak, penuh dinamika dan tantangan. Susunan warna dari gelap ke terang mencerminkan harapan agar setiap kesulitan yang dihadapi akan selalu menemukan jalan keluar.
- Warna merah melambangkan keberanian, sebagai doa agar anak tumbuh dengan keberanian dalam menghadapi setiap langkah kehidupan.
- Warna kuning mencerminkan kekuatan fisik dan batin yang menjadi bekal penting bagi setiap individu.
- Warna putih menggambarkan kesucian hati dan kejernihan pikiran dalam bersikap dan mengambil keputusan.
- Warna merah muda melambangkan cinta serta kasih sayang yang tertanam kuat kepada orang tua, keluarga, dan sesama.
- Warna biru merepresentasikan ketenangan jiwa, sebagai harapan agar anak mampu menjalani hidup dengan rasa damai.
- Warna hijau mencerminkan kesuburan dan kedekatan dengan lingkungan sekitar sebagai sumber kehidupan.
- Warna ungu melambangkan kesempurnaan, yang dimaknai sebagai puncak harapan akan kehidupan yang utuh dan bermakna.
3. Naik Tangga
Anak dituntun menaiki tangga kecil yang terbuat dari tebu jenis arjuna. Tangga ini dihias dengan kertas warna-warni dan bunga.
Tebu dalam tradisi Jawa dimaknai sebagai antebing kalbu, atau kemantapan hati. Prosesi ini melambangkan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang teguh, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa ksatria dalam menjalani hidup.
4. Injak Tanah
Anak diarahkan untuk menginjak tanah atau tumpukan pasir dan mengaisnya dengan kedua kaki. Prosesi ini menjadi simbol harapan agar kelak anak mampu mencari rezeki dengan usaha sendiri, penuh semangat, dan rasa syukur.
5. Masuk Kurungan
Tradisi Tedak Siten Foto: Erliana Riady |
Selanjutnya, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihias. Di dalam kurungan tersebut diletakkan berbagai benda, seperti uang, alat tulis, alat musik, bola, kapas, atau cermin.
Benda yang dipilih bayi dipercaya mencerminkan potensi dan kecenderungan minatnya di masa depan, yang diharapkan dapat menjadi petunjuk bagi orang tua dalam mendukung perkembangan anak.
6. Memandikan Anak
Tahap selanjtnya adalah anak dimandikan dengan air bunga setaman sebagai simbol harapan agar anak membawa nama baik dan keharuman bagi keluarga dan lingkungannya.
7. Menyebar Udhik-Udhik-an
Anak dipakaikan baju baru yang bersih dan layak. Dari beberapa pakaian yang disiapkan, pakaian terakhir yang dikenakan melambangkan doa agar anak senantiasa sehat, sejahtera, dan memberi manfaat bagi sesama, sebagaimana nilai luhur yang diajarkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjaga Warisan Budaya Leluhur
Tradisi tedak siten bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan cerminan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan leluhur masyarakat Jawa. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya rasa syukur, penghormatan terhadap alam, serta pembentukan karakter sejak dini.
Melalui pelestarian tradisi tedak siten, generasi masa kini tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur yang sarat makna bagi generasi mendatang. Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang beragam dan bermakna.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



