Barongsai dan Regenerasi: Kala Anak Muda Menjaga Seni Tradisi

Barongsai dan Regenerasi: Kala Anak Muda Menjaga Seni Tradisi

Jihan Navira - detikJatim
Senin, 02 Feb 2026 23:00 WIB
Pertunjukan barongsai di ITC Surabaya
Pertunjukan barongsai di ITC Surabaya (Foto: Jihan Navira/detikJatim)
Surabaya -

Seni barongsai kerap identik dengan perayaan Imlek dan atraksi musiman di pusat perbelanjaan. Namun, di balik dentuman dan gerak lincah kepala singa, barongsai sejatinya menyimpan proses panjang yang kini semakin menarik minat anak muda untuk tergabung di dalamnya.

Fenomena itu terlihat dalam pertunjukan barongsai di ITC Surabaya. Selama tiga jam, pemain barongsai menyusuri lima lantai mal, mengunjungi tiap kiosnya, hingga menyapa para penonton tanpa kehilangan energi dan fokus.

Penonton yang memadati setiap lantai, tak hanya menyaksikan tontonan, tetapi juga hasil latihan disiplin yang dijalani para pemain barongsai yang sebagian besar rupanya berusia muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu di antaranya adalah Firmansah (26), pemain kepala barongsai sekaligus senior di tim Barongsai dan Liong Singa Sakti Surabaya. Ia mengaku sudah menekuni barongsai sejak duduk di bangku sekolah dasar.

"Saya mulai tertarik belajar barongsai saat masih kelas 6 SD. Kalau dihitung, itu sudah separuh umur saya. Kalau dari pengalaman saya sendiri, suka barongsai itu karena dia topeng. Tapi, kalau dipakai bisa seperti hewan sungguhan. Dari suka, jadi hobi, rata-rata anak-anak pasti gitu," kata Firmansah.

ADVERTISEMENT

Firman sendiri juga menuturkan bahwa tim Singa Sakti tidak membatasi usia anggotanya. Regenerasi yang berlangsung secara alami, dari anak-anak hingga dewasa ini dilakukan dengan pendekatan latihan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing.

"Kalau anaknya lincah dan percaya diri, biasanya langsung kita arahkan ke barongsai. Tapi, kalau masih kurang pede, kita mulai dari musik dulu agar terbiasa dengan situasi perform," ujar Firmansah.

Pemain barongsai harus bisa menguasai baik musik maupun yang menjadi singa, sebagaimana dalam pertunjukannya terlihat para pemain saling bergantian mengisi satu posisi ke posisi lainnya.

Oleh karena itu, metode latihan benar-benar disesuaikan tanpa meninggalkan dasar teknik barongsai. Pendekatan ini penting agar anak-anak tidak kapok di awal dan ini menjadi tantangan terbesar yaitu soal fisik serta kedisiplinan.

"Kalau mereka dididik sama seperti aku dulu, pasti kapok dan besoknya tidak latihan. Misalnya teknik kuda-kuda yang dulu minimal lima menit, anak-anak sekarang banyak yang mengeluh capek. Bahkan dulu saya juga mengalami kuda-kuda dengan durasi satu bakaran dupa, bisa setengah jam," ujar Firmansah.

Singa Sakti ini rupanya baru resmi terbentuk di awal tahun ini. Meski demikian, sebagian besar anggotanya merupakan pemain lama dari tim sebelumnya yang memilih untuk membangun identitas baru.

"Kita ini tim baru, tapi isinya wajah lama. Anggota yang aktif saat ini sekitar 15 orang, total keseluruhan kurang lebihnya 25 orang," ujar Firmansah.

Dalam struktur tim Singa Sakti ini, tidak ada pelatih formal. Para senior yang lebih berpengalaman berperan untuk membimbing pemain junior, terutama dalam persiapan lomba.

"Saya yang paling senior dan sering ikut-ikut lomba, jadi saya yang dianggap pelatih sama anak-anak," kata Firmansah.

Tiap tahunnya, sebagian anggota rutin mengikuti pelatihan ke Malaysia untuk memperdalam teknik dan pemahaman permainan barongsai. Singa Sakti sendiri fokus pada Barongsai Hoksan dengan gerakan yang lebih tenang jika dibandingkan dengan karakter barongsai Fatsan yang cenderung lebih galak.

Di satu sisi yang sama, Singa Sakti saat ini sudah mulai mengembangkan alur cerita pertunjukan. Firmansah menyebut barongsai yang awalnya masih mengikuti alur cerita asli dari legenda Tiongkok mulai berkembang mengikuti perkembangan zaman.

"Kan sekarang teknologi sudah canggih, jadi kita tahu bagaimana modernnya barongsai sekarang. Tidak hanya alur ceritanya saja yang dikembangkan, tapi juga musik, variasi, ekspresi barongsai yang sekarang itu gimana, kita pelajari terus. Cuma kita tetap buat variasi yang menjadi ciri khas tim kita sendiri, karena pada dasarnya permainan barongsai sedunia itu sama saja, yang membedakan ya ciri khas itu," ujar Firmansah.

Semua inovasi itu, Singa Sakti kembangkan di rooftop Balai RW Tambak Bening yang menjadi tempat latihan.

"Kita diizinkan untuk latihan di sana. Kita latihan sederhana dulu, mulai dari awal lagi," kata Firmansah.

Meski tergolong baru, Firmansah mengatakan Singa Sakti dalam perayaan Imlek 2026 ini sudah mendapatkan banyak kepercayaan untuk mengisi pertunjukan barongsai. Padatnya jadwal pertunjukkan, bahkan bisa mencapai tujuh lokasi dalam sehari.

Firmansah berharap tim Singa Sakti semakin berkembang hingga mendapatkan kejuaraan di perlombaan. Selain itu, ia juga berharap ekosistem barongsai di Indonesia khususnya Surabaya untuk semakin maju dalam persaingan sehat agar dapat berkembang bersama.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads