Sejarah pers Indonesia tidak hanya ditulis melalui media berbahasa nasional. Di Surabaya, Panjebar Semangat tumbuh sebagai media berbahasa Jawa yang sejak 1933 berperan menyebarkan semangat kebangsaan sekaligus menjaga budaya lokal.
Saat pertama kali terbit pada 2 September 1933, Panjebar Semangat hanya memiliki empat halaman. Formatnya masih formal seperti surat kabar dengan oplah awal sekitar 2.000 eksemplar. Meski peminatnya belum besar, media ini perlahan menemukan pembacanya dan dikenal sebagai media penyemangat di era penjajahan sesuai dengan namanya.
Kelahiran Panjebar Semangat tak bisa dilepaskan dari media pendahulunya yaitu Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya pada 1929. Surat kabar milik Dr Soetomo ini menjadi sarana penyebaran gagasan kebangsaan pada masa itu. Kadangkala Soeara Oemoem juga kerap disebut sebagai media propaganda Dr Soetomo untuk menyuarakan pemikiran dan sikap politiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soeara Oemoem sempat menjadi ruang penting bagi para penulis pergerakan. Salah satu tokoh yang terlibat di dalamnya adalah Imam Supardi, yang kelak berperan besar dalam penerbitan Panjebar Semangat. Namun perjalanan Soeara Oemoem tidak berlangsung lama. Pemberitaan yang dianggap melanggar hukum oleh pemerintah kolonial Belanda membuat surat kabar ini akhirnya ditutup. Salah satu kasus yang memicu penindakan adalah pemberitaan mengenai tenggelamnya sebuah kapal yang berujung pada pencekalan dan penangkapan salah satu awak redaksi.
Meski Soeara Oemoem dibredel, Dr Soetomo mencari cara lain untuk tetap bersuara. Pada 2 September 1933, ia mengajak Imam Supardi untuk mendirikan media baru bernama Panjebar Semangat dengan kantor yang tetap berlokasi di kawasan Bubutan, Surabaya. Nama Panjebar Semangat sendiri digagas langsung oleh Dr. Soetomo sebagai cerminan tujuan media ini.
Berbeda dari pendahulunya, Panjebar Semangat menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar utama. Dalam editorial pertamanya, Dr Soetomo menegaskan bahwa pemilihan bahasa Jawa bertujuan untuk mengedukasi masyarakat pribumi yang pada masa itu sebagian besar belum memahami bahasa Indonesia.
Baca juga: Koeli Tinta, Sebutan Pers Era Hindia Belanda |
Panjebar Semangat juga mengusung motto 'Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti', yang bermakna bahwa segala bentuk angkara murka dapat dilebur dengan kelembutan. Motto ini diambil dari naskah kuno Jawa Witaradya dan menjadi landasan nilai yang dipegang majalah ini sejak awal penerbitannya.
Dari rahim Soeara Oemoem inilah Panjebar Semangat kemudian tumbuh, melanjutkan peran sebagai media perjuangan, namun dengan pendekatan budaya dan bahasa yang lebih membumi bagi masyarakat Jawa.
Sejak awal penerbitannya, Panjebar Semangat menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada edisi perdana, majalah ini mencetak sekitar 2.000 eksemplar. Angka tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1937, saat Dr Soetomo menjalankan tugas ke luar negeri, ia menyampaikan harapan kepada Imam Supardi agar Panjebar Semangat mampu mencetak 4.000 eksemplar.
Namun realisasi di lapangan melampaui ekspektasi. Menjelang akhir 1937, oplah Panjebar Semangat telah mencapai sekitar 7.500 eksemplar dan terus bertambah hingga menembus 13.500 eksemplar pada 1942. Capaian ini menjadikan Panjebar Semangat sebagai media berbahasa Jawa dengan oplah terbesar pada masanya.
Majalah Panjebar Semangat Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Situasi berubah ketika kekuasaan kolonial Belanda bergeser ke Jepang. Pada 1942, pemerintah pendudukan Jepang menghentikan peredaran Panjebar Semangat. Seluruh aktivitas redaksi terhenti, alat produksi disita, dan sarana penerbitan dibredel. Awak redaksi pun tercerai-berai.
Meski demikian, Panjebar Semangat sempat bertahan secara terbatas. Selama sekitar tujuh tahun (1942-1949), majalah ini terbit dengan oplah kecil dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kondisi itu akhirnya membuat penerbitan benar-benar berhenti hingga Panjebar Semangat kembali terbit secara resmi dan berkantor di Surabaya pada 1953.
Kembalinya Panjebar Semangat pada 1953 menandai babak baru. Pada masa awal penerbitan ulang, majalah ini turut meliput peristiwa penting di Surabaya yakni pembangunan Tugu Pahlawan. Sejak saat itu, Panjebar Semangat terbit secara rutin setiap pekan dengan format majalah dan memiliki 50 halaman.
Puncak kejayaan Panjebar Semangat terjadi pada 1960-an. Masa ini disebut juga oleh masyarakat Jawa sebagai kencono rukmi atau masa keemasan. Sebab, oplah Panjebar Semangat pada saat itu menembus angka 100 ribu eksemplar dan menjadikannya sebagai media berbahasa daerah dengan pembaca terbanyak di Indonesia. Beberapa tahun setelahnya, jumlah penerbitan masih relatif stabil meski mengalami fluktuasi.
Perjalanan panjang Panjebar Semangat tidak lepas dari sejumlah ujian besar. Krisis moneter menjadi tantangan pertama yang mengguncang keberlangsungan majalah berbahasa Jawa ini. Pada periode tersebut, penerbitan berada dalam kondisi kembang kempis akibat keterbatasan biaya produksi dan distribusi. Meski nyaris terhenti, Panjebar Semangat tetap berupaya bertahan dan berhasil melewati segala halang rintang.
Ujian berikutnya datang saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga pada jaringan pembaca di luar negeri, khususnya Suriname. Sebelumnya pada 2018, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname menjalin kerja sama dengan Panjebar Semangat dengan membeli sekitar 500 eksemplar setiap bulan. Majalah tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada komunitas Jawa dan keturunan Jawa di Suriname.
Distribusi melalui KBRI ini berjalan rutin hingga pandemi COVID-19. Sejak 2020, kerja sama tersebut dihentikan seiring pembatasan aktivitas, tingginya ongkos pengiriman, serta kebijakan efisiensi anggaran. Sejak saat itu, Panjebar Semangat tidak lagi didistribusikan ke Suriname.
Meski diterpa dua krisis besar dalam fase waktu yang berbeda, Panjebar Semangat tetap bertahan hingga kini. Penurunan oplah dari tahun ke tahun dan menurunnya penggunaan Bahasa Jawa menjadi bagian dari proses adaptasi media terhadap perubahan zaman. Namun demikian, Panjebar Semangat terus berupaya menjaga eksistensinya melalui penerbitan rutin dan pengembangan konten di berbagai platform digital.
(auh/hil)

