Apa jadinya bila sebuah bangsa kehilangan ingatan akan sejarahnya? Itulah yang sedang menjadi kegelisahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah pembangunan gedung pencakar langit, jejak perjuangan yang jadi fondasi kedaulatan bangsa satu per satu disulap jadi pabrik, area parkir, hingga rumah pribadi.
Prabowo baru-baru ini melontarkan pertanyaan tajam yang menampar kesadaran. Di mana martabat sejarah jika fisiknya saja tak lagi dijaga? Dia sampaikan itu dalam sejumlah pertanyaan sekaligus sentilan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Senin (2/2/2026).
Dia tak kuasa menahan keprihatinan dengan mempertanyakan keberadaan sejumlah situs-situs krusial mulai dari peninggalan Majapahit hingga Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya. Prabowo mengingatkan sejarah penjajahan yang pedih harusnya membuat bangsa ini lebih menghargai peninggalan masa lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo pada pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa sudah menjadi pabrik," ujar Presiden Prabowo.
Ia menegaskan bahwa pengabaian terhadap sejarah adalah bentuk ketidakhormatan terhadap martabat bangsa.
"Kadang-kadang kita tidak menghargai sejarah kita. Situs-situs sejarah dibongkar, ini para kepala daerah harus memikirkan," tegasnya.
Apa yang dikhawatirkan Presiden bukan isapan jempol. Di Surabaya, Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 yang menjadi dapur semangat perlawanan 10 November 1945 kini tinggal cerita. Meski berstatus Cagar Budaya, bangunan itu diratakan pada 2016.
Pemerhati sejarah, Kuncarsono Prasetyo mengenang momen pilu ketika dirinya mendapati situs itu sudah hilang. Tinggal puing-puing bangunan yang sudah tidak bisa kembali disatukan.
"Penemuan itu tidak sengaja waktu itu. Sekitar jam 07.00 WIB pagi, aku lagi cari sarapan. Kemudian aku duduk di (depan) pagarnya. Pas tak buka sudah rata dengan tanah," kenang Kuncar.
Ironisnya, di lahan itu kini berdiri bangunan baru bergaya modern-Eropa yang tertutup pagar tinggi. Tak ada lagi plakat cagar budaya, tak ada lagi identitas sejarah. Kuncar menekankan bahwa alasan bangunan lapuk hanya dalih semata.
"Enggak kok, bangunan itu nggak lapuk. Lagian itu bukan jadi alasan untuk dibongkar. Sebelum diratakan itu masih dijadikan kantor," pungkasnya.
Ironi Parkiran di Atas Lahan Cagar Budaya Bekas VOC di Gresik
Penyakit "amnesia sejarah" ini ternyata menular. Saat Presiden bersuara di Bogor, di Gresik justru terjadi pembongkaran eks asrama VOC untuk dijadikan area parkir komersial. Padahal, bangunan tersebut adalah cagar budaya tingkat kabupaten.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, Endah Budi Heryani, mengaku geram dengan aksi sepihak tersebut.
"Kami menyesalkan, kok bisa bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya dilakukan pembongkaran," kata Endah.
Ia menambahkan bahwa alasan ketidaktahuan pemilik aset atas status cagar budaya tidak bisa diterima secara hukum maupun etika pelestarian.
"Seharusnya itu dicek terlebih dahulu. Tidak bisa langsung dibongkar tanpa kajian dan tanpa izin," ujarnya.
Rentetan peristiwa ini menunjukkan adanya celah dalam komitmen pelestarian sejarah bangsa. Cagar budaya seringkali dianggap sebagai hambatan pembangunan padahal seharusnya ia menjadi identitas yang harus terus dijaga.
