Balap liar reli, atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai trek-trekan, hingga kini masih menjamur di berbagai daerah di Indonesia. Aksi ini kerap terjadi di jalan umum spontan, minim pengamanan, dan berujung pada kecelakaan fatal.
Meski aparat rutin melakukan penertiban, praktik balap liar seolah tak pernah benar-benar hilang dari ruang publik. Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, budaya adu kecepatan di jalan raya sudah muncul sejak era Hindia Belanda. Lalu, bagaimana sebenarnya jejak balap liar ini?
Jejak Awal Adu Kecepatan di Jalan Raya
Pada masa kolonial atau tempo dulu, pada tahun 1906 di Surabaya, sudah ada organisasi semacam IMI (Ikatan Motor Indonesia) namanya Java Motor Club (JMC). Kemudian menjadi Koninklijke Nederlandsch-Indische Motor Club atau KNIMC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Organisasi ini menjadi wadah bagi para penggemar otomotif yang didominasi warga Eropa dan elite pribumi. Mereka secara rutin mengadakan ajang kompetisi, tur bersama, dan perlombaan ketahanan yang menarik perhatian publik luas.
Motor-motor menjadi salah satu barang berharga yang hanya dimiliki priyayi. Tidak semua orang mampu memiliki motor. Merek yang ada di era tersebut seperti Harley Davidson, Exelsior, Indian, serta Douglas.
Menurut Algemene Sportblaas sebagai bulletinnya Java Motor Club, motor masuk ke Surabaya pertama kali pada tahun 1893. Pada era tersebut, merek-merek kelas atas tersebut jarang atau hampir tidak mungkin digunakan untuk acara trek-trekan ngawur (sembarangan) di jalan seperti sekarang.
Reli motor bukan hanya soal kecepatan, tapi juga soal prestise. Para penonton biasanya memadati pinggir jalan di kota-kota yang dilewati hanya untuk melihat sekilas deretan motor keren dan pembalapnya yang menggunakan pakaian kulit serta kacamata goggle yang khas.
Balap Liar Era Hindia Belanda
Berbeda dengan balap modern, reli di masa kolonial minim standar keselamatan. Helm belum menjadi kewajiban, pengamanan lintasan hampir tidak ada, dan interaksi langsung dengan masyarakat sekitar tak terhindarkan.
Di beberapa catatan surat kabar lama, reli kerap menuai keluhan karena membahayakan pengguna jalan lain. Helm tempo dulu terbuat dari kulit dan jika dilihat bentuknya sangat pas dengan kepala.
Pakaian pembalap jaman dulu dilengkapi dengan kulit pembungkus betis dan berfungsi sebagai pelindung kaki. Dilansir dari Soerabaia Tempo Doeloe, pada tahun 1917 juga pernah diadakan Rally Tour de Java yang diikuti pembalap top, di antaranya sebagai berikut.
- Goudy Yong dengan motor Harley Davidson
- Barrenten Dam dengan motor Indian;
- Gerrit de Raadt dengan motor Reading Standard
- Frits Sluymers berboncengan dengan Wim Wygechelals dengan motor Exelsior
Menurut catatan lama Rally Tour de Java dimenangkan oleh Goudy Young dengan motor HD nya. Ia memecahkan rekor paling lama yaitu 14 jam dan 11 menit.
Pada 1924, diadakan pula tour gila-gilaan menyusuri dataran tinggi Dieng di Bazoeki. Pada saat itu Kembali lagi Harley Davidson yang dikendarai Meeuwenmoord memenangkan tour ini. Dalam ketinggian 7.000 kaki di atas permukaan laut, ia bertahan di sana selama 63,5 jam.
Meski begitu, aktivitas ini justru menumbuhkan budaya adu nyali dan kebut-kebutan di jalan raya. Anak muda pribumi yang bekerja sebagai montir atau pembantu teknisi bengkel Eropa mulai terpapar dunia otomotif. Dari sinilah, perlahan muncul minat terhadap motor dan balap, meski dalam keterbatasan fasilitas dan regulasi.
Motor Jadul vs Motor Brong
Jika dulu kendaraan balap identik dengan motor impor berkapasitas mesin besar dan teknologi mutakhir pada masanya, kini balap liar identik dengan motor brong. Motor modifikasi dengan knalpot bising, rangka ringan, dan mesin yang dioprek demi kecepatan maksimal.
Perbedaannya, pada masa kolonial, adu kecepatan lebih banyak dilakukan oleh kalangan elit dengan kendaraan mahal. Sementara saat ini, balap liar justru tumbuh dari kalangan anak muda kelas menengah ke bawah yang memodifikasi motor harian menjadi kendaraan balap dadakan. Jalanan sepi pada malam hari menjadi "sirkuit alternatif" yang murah dan mudah diakses.
Pembalap Liar vs Pembalap Sirkuit
Perbedaan paling mencolok antara pembalap liar dan pembalap sirkuit terletak pada ruang dan regulasi. Pembalap sirkuit berlatih dengan aturan ketat, perlengkapan keselamatan lengkap, serta pengawasan resmi.
Sementara pembalap liar mengandalkan keberanian, insting, dan solidaritas komunitas tanpa jaminan keselamatan. Namun, tak sedikit pembalap profesional Indonesia yang mengakui bahwa ketertarikan mereka pada dunia balap bermula dari trek-trekan jalanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa balap liar bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, tetapi juga gejala sosial yang berkaitan dengan minimnya ruang ekspresi, fasilitas balap murah, dan akses pembinaan bakat.
Dari Sejarah ke Realita Hari Ini
Balap liar yang kini dianggap sebagai masalah ketertiban umum ternyata memiliki akar sejarah panjang sejak era Hindia Belanda. Dari Rally Tour de Java hingga trek-trekan modern, benang merahnya sama, yakni hasrat manusia untuk adu kecepatan, pengakuan, dan eksistensi.
Memahami sejarah ini penting agar penanganan balap liar tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga solusi jangka Panjang.
Solusi seperti penyediaan sirkuit komunitas, pembinaan balap resmi, dan ruang aman bagi anak muda untuk menyalurkan minatnya. Tanpa itu, balap liar kemungkinan akan terus hidup, sebagaimana ia telah bertahan sejak lebih dari satu abad lalu.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)











































