Siapa Pemuda Perobek Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya?

Siapa Pemuda Perobek Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya?

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Kamis, 18 Sep 2025 15:55 WIB
Siapa Pemuda Perobek Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya?
Refleksi drama kolosal perobekan bendera di depan Hotel Majapahit tahun 2023/Foto: Esti Widiyana/detikJatim
Surabaya -

Peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945, menyisakan teka-teki. Siapa sebenarnya pemuda-pemuda pemberani yang memanjat atap hotel lalu merobek biru bendera Belanda hingga menjadi Merah Putih? Sejarah mencatat banyak versi, dari nama Kusno Wibowo hingga karyawan RRI, membuat kisah bersejarah ini semakin penuh teka-teki.

Banyak versi menyebut bahwa terdapat empat pemuda yang melakukan perobekan bendera. Hal itu sesuai dengan foto yang berhasil diabadikan oleh Wartawan Antara, Abdul Wahab Saleh. Meski terdapat keterangan lain yang banyak mengaku terlibat dalam perobekan tersebut.

Menurut Ketua Komunitas Begandring Soerabaia Achmad Zaki Yamani, hanya dua pemuda yang berhasil teridentifikasi, yaitu Kusno Wibowo dan Hariyono. Semula, Hariyono berusaha merobek bendera, tetapi karena kurang kuat sehingga bendera tersebut digigit oleh Kusno Wibowo dan berhasil lepas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ada yang menyebut selain Pak Kusno, saya kira itu akan menjadi kajian sejarah yang menarik, tapi harus dilandasi bukti yang kuat. Saya juga pernah membaca bukunya RRI Surabaya yang memberikan kesaksian bahwa yang ikut merobek adalah karyawan RRI. Meski fakta yang ada di foto itu (Antara) empat orang," kata Zaki saat dihubungi detikJatim, Kamis (18/9/2025).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, terdapat peran orang-orang bawah tanah yang jarang sekali disebut dalam sejarah. Padahal, mereka berperan memobilisasi pergerakan perobekan bendera. Di antaranya Johan Syahrunsyah, Soemarsono, Atmadji dan masih banyak lagi.

"Mereka datang mendekati daerah Tunjungan yang menjadi pusat gerakan bawah tanah dipimpin Johan Syahrunsyah dan anggotanya lumayan banyak, dimobilisasi. Dengan cepat mereka hadir di lokasi dan mendukung penurunan Belanda," terang Zaki.

Ia menegaskan bahwa banyaknya versi sejarah memang perlu dihimpun untuk membentuk satu garis sejarah yang sama.

Peringatan sejarah ini menjadi tradisi juang yang menarik, terutama bagi warga Surabaya. Hal ini merupakan wujud rasa nasionalisme dalam wajah baru.

"Rasa perjuangan tidak hanya sebatas mengibarkan bendera maupun aksi tempel bendera merah putih saja. Momen ini menjadi satu tahunan yang menarik untuk generasi muda, agar mereka selalu mengingat bahwa peristiwa yang terjadi ini tidak hanya menjadi perhatian secara lokal, tetapi perhatian dunia terutama di Negeri Belanda sendiri," pungkas Zaki.

Hingga kini, bendera yang ada di menara paling utara Hotel Majapahit memiliki ukuran yang berbeda di seluruh Indonesia, karena menyesuaikan dengan peristiwa perobekan Belanda pada saat itu.




(irb/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads