Ekskavasi Situs Pandegong di Dusun Kwasen, Desa Menganto, Mojowarno, Jombang berlanjut ke tahap 5. Para arkeolog memburu pagar keliling candi dari abad 10 masehi tersebut. Pada tahap ini pula, fakta terkait parahnya perusakan candi di masa lalu kian kuat.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Pandegong Vidi Susanto mengatakan ekskavasi tahap 5 Situs Pandegong bergulir sejak 24 Mei sampai 3 Juni 2023. Pada tahap ini, tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim memburu pagar keliling candi.
Karena Candi Masahar di Situs Gemekan, Sooko, Mojokerto yang berdenah sama dengan Situs Pandegong, juga mempunyai pagar keliling. Jika dibandingkan dengan Candi Masahar, Vidi memperkirakan candi di Situs Pandegong berjarak 12 meter dengan pagarnya.
Untuk menemukan pagar keliling candi di Situs Pandegong, tim ekskavasi melakukan Pile Integrity Testing (PIT). Namun, tes PIT tahap pertama hanya menemukan fragmen bata merah. Menurut Vidi, pecahan bata itu berasal dari aktivitas produksi bata merah di masa modern.
"Ternyata sekeliling situs ini pernah dipakai linggan (tempat produksi bata merah). Namun, kami tidak mendapatkan informasi ketika masyarakat produksi bata merah sudah menemukan apa saja di sekitar sini," kata Vidi kepada wartawan di lokasi ekskavasi, Selasa (30/5/2023).
Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim ini menjelaskan ekskavasi tahap 5 untuk melengkapi data Situs Pandegong. Sebab situs purbakala ini akan ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kabupaten. Selain memburu pagar keliling candi, pada tahap ini pihaknya juga menyingkap keseluruhan lapis budaya.
Lapis budaya pada konteks ini merujuk pada permukaan tanah asli saat candi di Situs Pandegong dibangun. Vidi berharap dengan menampakkan seluruh permukaan tanah asli bisa menemukan arca yang hilang. Sebab dari 4 tahap ekskavasi sebelumnya hanya ditemukan arca Nandiswara, Mahakala dan tangan memegang kendi bagian dari arca Agastya.
"Harusnya arca di candi ini lengkap, ada Nandiswara, Mahakala, Durga, Ganesha dan Agastya. Namun, yang ditemukan hanya Nandiswara dan Mahakala, juga satu tangan pegang kendi yang diduga arca Agastya, tapi tidak ada badannya. Ini membuktikan kerusakannya memang parah," terangnya.
Alih-alih menemukan arca-arca yang hilang, lanjut Vidi, menampakkan lapis budaya justru semakin menguatkan hipotesisnya tentang masifnya perusakan di masa lalu terhadap Situs Pandegong. Menurutnya, perusakan terhadap candi di situs ini terjadi berulang kali.
"Karena di sekeliling candi penuh pecahan bata merah. Seluruh penampil struktur candi sisi timur hilang, sama sudut tenggara dan sisi selatan, terdapat lubang bekas pencurian tembus sampai kedalaman 4,5 meter," ungkapnya.
Oleh sebab itu, Vidi meyakini rusaknya candi di Situs Pandegong bukan akibat bencana alam. Jika candi ini sekadar runtuh oleh banjir bandang, tentunya reruntuhan berupa bongkahan-bongkahan bata merah. Selain itu, tidak ditemukan lapisan pasir ciri khas banjir bandang di atas tanah aslinya.
"Dugaan saya hilangnya arca karena vandalisme niatan untuk mencari sesuatu," jelasnya.
Lapis budaya atau tanah asli Situs Pandegong, kata Vidi, berupa lantai tanah biasa yang datar. Hanya lantai di bahan pondasi candi yang dibuat keras menggunakan bata merah yang ditumbuk. "Memang sengaja sebagai dasar pondasi candi," cetusnya.
Ekskavasi tahap 4 Situs Pandegong bergulir pada 15-26 Februari 2023. Pada tahap itu, tim dari BPK Wilayah XI Jatim menemukan fragmen arca berupa bagian dada, sedikit leher, serta sedikit lengan atas kanan dan kiri. Lebar pecahan arca berbahan batu andesit ini sekitar 15 cm, begitu pula dengan tingginya. Sehingga belum diketahui bagian dari arca apa.
Temuan lepas lainnya ketika itu berupa fragmen keramik dari Dinasti Song, 1 koin kuno dari Dinasti Tang, serta sebuah bandul jala berbahan terakota. Bandul jala tersebut berbentuk bola kecil dengan lubang di tengahnya. Juga ditemukan 2 struktur di sebelah utara candi utama dan di sebelah barat perwara tengah.
Simak Video "Video: Momen Pemakaman Gary Iskak"
(abq/iwd)