Sapto Adi Santoso, Dalang Muda yang Jatuh Cinta ke Wayang Sejak Balita

Sapto Adi Santoso, Dalang Muda yang Jatuh Cinta ke Wayang Sejak Balita

Erliana Riady - detikJatim
Sabtu, 12 Nov 2022 09:23 WIB
Sapto Adi Santoso memang berbeda. Di tengah gempuran budaya asing, ia berani melawan arus dengan mempertahankan budaya adiluhung bangsa, wayang.
Foto: Erliana Riady/detikJatim
Blitar -

Sapto Adi Santoso memang berbeda. Di tengah gempuran budaya asing, ia berani melawan arus dengan mempertahankan budaya adiluhung bangsa, wayang.

Adi mulai tertarik dengan wayang kulit saat tetangganya punya hajat mantu. Ia yang saat itu berusia tiga tahun bahkan tidak mau diajak pulang, sebelum pertunjukan wayang usai.

Sejak saat itu, setiap mendengar bunyi gamelan, Adi langsung berlari mendekat, tanpa bisa dihalangi. Ketika sudah duduk di bangku SD, Adi sudah berani berangkat melihat wayang kulit sendiri.

Beranjak besar, sekolah Adi makin jauh dari rumahnya di Desa Kamulan, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Pergaulan Adi pun makin beragam.

Namun lagi-lagi, Adi memilih jalannya sendiri. Di saat teman-temannya berpaling ke budaya asing, Adi justru menepi di Lodoyo. Sebuah nama lawas di Kecamatan Sutojayan.

Di sana, dia menimba ilmu perdalangan kepada seniman senior Bambang Tri Bawono, alumni ISI Solo.

Makin lama, Adi tak bisa pindah ke lain aktivitas. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk belajar ilmu perdalangan yang sarat pesan moral, dengan bahasa Jawa Kawi yang merupakan sastra tinggi dan adiluhung.

Adi menemukan dirinya di dunia itu. Itu membuat kedua orang tuanya sempat menentang, karena khawatir dengan masa depan sang putra.

"Bapak saya itu perangkat desa. Beliau dulu sempat menentang, dan bilang gek besok arep dadi opo too leee (masa depanmu nanti mau jadi apa). Dan saya buktikan, kalau profesi dalang sampai saat ini bisa lebih untuk hidup," tutur Adi kepada detikJatim, Sabtu (12/11/2022).

Sapto Adi Santoso memang berbeda. Di tengah gempuran budaya asing, ia berani melawan arus dengan mempertahankan budaya adiluhung bangsa, wayang.Sapto Adi Santoso saat mendalang/ Foto: Erliana Riady/detikJatim

Eksistensi Adi mendalang mulai diakui masyarakat Blitar. Lulus SMA, dia memilih meneruskan pendidikan di ISI Solo dengan mengambil jurusan Pedalangan.

Selama hampir empat tahun, ilmunya makin terasah. Hingga ia berani tampil mendalang dalam berbagai event.

Pada bulan-bulan tertentu, seperti masa warga Jawa menggelar hajatan menantu, bersih desa atau perayaan Agustusan, Adi panen tanggapan.

Dalam sebulan, suami dari Bella Hadi Setyowati ini bisa tampil dua sampai tiga kali. Sang istri yang juga alumni ISI Solo jurusan Seni Tari, sangat mendukung profesi yang diperjuangkan sang suami.

"Setiap dalang ada standar tarifnya beda-beda. Kalau saya kan masih junior. Ya profesi dalang itu masih menjanjikan. Tapi seniman itu tanpa memikirkan tarif, mendarmabaktikan dirinya untuk seni perdalangan," ungkap Guru Tidak Tetap (GTT)Bahasa Jawa di UPT SMPN 1 Talun itu.

Adi masuk 10 besar penyaji terbaik dalam event Festival Wayang Kulit Dalang Muda 2022. Gelaran seni itu merupakan agenda tahunan Dinas Pariwisata Pemprov Jatim setiap perayaan ulang tahunnya.

Bagi Adi, budaya wayang kulit tak akan lekang oleh zaman. Karena pertunjukan ini 'manut lakone zaman'. Atau menyesuaikan perkembangan zaman.

Banyak pesan yang bisa disampaikan dalam wayang kulit sebagai media komunikasi yang efektif kepada audience-nya. Wayang kulit itu pergelaran seni yang sangat fleksibel bisa menjadi wadah semua pesan.

"Wayang kulit masih banyak disukai anak-anak, pemuda sampai manula. Memang wayang kulit itu ada pakem-pakemnya. Namun manut zaman ngelakoni, disesuaikan untuk kebutuhan audience supaya mereka mudah memahami bahasa yang disampaikan," pungkasnya.



Simak Video "Menyulap Sampah di Yogyakarta Jadi Wayang Uwuh"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/iwd)