Riwayat Probolinggo yang Dulu Bernama Banger

Riwayat Probolinggo yang Dulu Bernama Banger

Dina Rahmawati - detikJatim
Selasa, 04 Okt 2022 18:46 WIB
Masjid Tiban Babussalam Probolinggo
Masjid Tiban Babussalam di Kota Probolinggo/Foto: M Rofiq
Probolinggo -

Kota Probolinggo merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur. Kota ini berada di wilayah Tapal Kuda, dan menjadi jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Bagian utara Kota Probolinggo berbatasan langsung dengan Selat Madura, sementara bagian timur, selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo.

Luas wilayah Kota Probolinggo sekitar 56,67 km2. Yang terbagi menjadi Kecamatan Kademangan (6 kelurahan), Kanigaran (6 kelurahan), Kedopok (6 kelurahan), Mayangan (5 kelurahan), serta Kecamatan Wonoasih (6 kelurahan).

Sejarah dan asal-usul Kota Probolinggo

Pada masa pemerintahan Raja Kerajaan Majapahit yang ke-IV (1350-1389) Prabu Radjasanagara, Probolinggo lebih dikenal dengan nama Banger. Banger adalah nama sungai yang mengalir di tengah daerah Banger.

Mengutip dari laman resmi Kota Probolinggo, Banger merupakan pedukuhan kecil yang berada di bawah pemerintahan Akuwu di Sukodono. Nama Banger dapat ditemukan di buku Negarakertagama yang ditulis oleh seorang Pujangga Kerajaan Majapahit yang terkenal, yakni Mpu Prapanca.

Seiring berkembangnya politik kekuasaan di Kerajaan Majapahit, pemerintahan di Banger juga mengalami sejumlah perkembangan. Dari pedukuhan kecil, kemudian berkembang menjadi Pakuwon yang dipimpin oleh seorang Akuwu di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Selanjutnya, Banger dikuasai oleh Bhre Wirabumi. Wilayah Banger bahkan pernah menjadi lokasi perang saudara antara Bhre Wirabumi dengan Prabu Wikramawardhana yang dikenal dengan Perang Paregreg.

Pada masa Pemerintahan VOC, Sunan Pakubuwono II di Mataram membuat perjanjian untuk menyerahkan seluruh daerah di sebelah timur Pasuruan, termasuk Banger kepada VOC pada tahun 1743.

Pada tahun 1746, VOC mengangkat Kiai Djojolelono sebagai Bupati Pertama di Banger dengan gelar Tumenggung. Kiai Djojolelono adalah putra dari Kiai Boen Djolodrijo, Patih Pasuruan.

VOC terkenal dengan politik adu domba. Kiai Djojolelono pun dipengaruhi untuk membunuh Patih Tengger Panembahan Semeru yang memusuhi VOC. Akhirnya, Panembahan Semeru terbunuh di tangan Kiai Djojolelono.

Setelah menyadari kesalahannya karena terpengaruh oleh politik adu domba VOC, Kiai Djojolelono pun menyesal. Akhirnya, Kiai Djojolelono meninggalkan jabatannya sebagai Bupati I Banger pada tahun 1768. Sebagai pengganti Kiai Djojolelono, VOC mengangkat Raden Tumenggung Djojonegoro sebagai Bupati Banger II.

Banger semakin makmur di bawah pimpinan Tumenggung Djojonegoro. Pada tahun 1770, Tumenggung Djojonegoro mengubah nama Banger menjadi Probolinggo. Probo berarti sinar, sedangkan linggo berarti tugu, badan, tanda peringatan, atau tongkat.

Jika digabung, Probolinggo memiliki arti sinar yang berbentuk tugu atau tongkat. Nama tersebut diyakini merujuk pada penggambaran meteor atau bintang jatuh.

Hari Jadi Kota Probolinggo jatuh pada 4 September 1359. Tanggal tersebut bertepatan dengan kehadiran Hayam Wuruk di daerah Banger.

Untuk mendekatkan diri dengan rakyat, Hayam Wuruk dengan didampingi Patih Gadjah Mada melakukan perjalanan keliling ke berbagai daerah. Tujuannya agar Hayam Wuruk dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat di pedesaan.

Dalam perjalanan tersebut, Hayam Wuruk singgah di Banger. Masyarakat sekitar menyambut Hayam Wuruk dengan penuh sukacita. Hayam Wuruk memerintahkan kepada rakyat Banger agar memperluas wilayah dengan membuka hutan yang ada di sekitar. Perintah itu yang akhirnya menjadi landasan sejarah hari lahirnya Kota Probolinggo.



Simak Video "Greenpeace Soal Penghadangan Aktivis: Mencederai Demokrasi!"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/iwd)