Melihat Saksi Bisu Pembantaian Korban PKI di Lubang Buaya Banyuwangi

Melihat Saksi Bisu Pembantaian Korban PKI di Lubang Buaya Banyuwangi

Ardian Fanani - detikJatim
Sabtu, 01 Okt 2022 14:34 WIB
Lubang Buaya Banyuwangi
Monumen Lubang Buaya Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/detikJatim)
Banyuwangi -

Peristiwa berdarah Gerakan 30 September/PKI atau G30S/PKI yang merenggut tujuh pahlawan revolusi pada 1965 tak hanya terjadi di Jakarta. Banjir darah juga terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebanyak 62 pemuda GP Ansor dibunuh secara sadis oleh gerombolan PKI. Kemudian, jasadnya dibuang di lubang buaya di Desa Cemetuk, Celuring, Banyuwangi.

Ada tiga lubang pembuangan jasad puluhan pemuda Ansor yang dikenal dengan Pemuda Pancasila itu. Untuk mengenang peristiwa kelam itu, dibangun monumen Lubang Buaya.

Di monumen ini, terdapat patung Garuda Pancasila raksasa lengkap dengan relief peristiwa pembunuhan keji di samping patung. Perspektif sejarah G30S/PKI itu dikemas dengan simbol-simbol relief, lubang buaya, dan beberapa teks di sekitar dinding patung yang menekankan kekejaman kelompok PKI.

Lubang Buaya BanyuwangiLubang Buaya Banyuwangi Foto: Ardian Fanani/detikJatim

Di bagian belakang patung garuda, terdapat tiga lubang berbentuk persegi. Ketiga lubang yang dimaksud sebagai monumen lubang buaya itu merupakan tempat pembuangan para korban usai dibantai massal pada 30 September 1965 silam.

Dalam teks di monumen tertulis "Monumen Pancasila Jaya di sini pada tanggal 18-10-1965 telah terjadi pembunuhan massal terhadap 62 Pemuda Pancasila oleh kebiadaban G30S/PKI".

Juru kunci Lubang Buaya Semetuk, Suyoto menuturkan, lokasi ini menjadi tempat ditimbunnya jenazah anggota GP Ansor. Luas lahannya sekitar 500 meter persegi. Lokasinya di tengah perkampungan.

Di tempat ini terdapat tiga lubang, sekaligus dijadikan makam. Masing-masing, satu lubang besar berukuran 2x7 meter. Konon, menampung sebanyak 42 jenazah. Lalu, dua lubang lainnya berukuran 2x3 meter masing-masing berisi 10 jenazah.

"Lahan ini dahulu milik kakek saya, Wono Karyo, lalu diwakafkan ke desa," kata Suyoto yang merupakan cucu dari pemilik lahan ini, Sabtu (1/10/2022).

Kesaksian Suyoto saat pembantaian terjadi. Baca di halaman selanjutnya!