Kisah Kampung Mati yang Ditinggal Penghuninya di Ponorogo

Kisah Kampung Mati yang Ditinggal Penghuninya di Ponorogo

Charolin Pebrianti - detikJatim
Sabtu, 01 Okt 2022 12:00 WIB
Kampung mati yang ditinggal penghuninya di Ponorogo
Rumah yang ditinggal penghuninya di kampung mati Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Dusun Sumbulan, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Ponorogo disebut sebagai kampung mati. Meskipun ada bangunan masjid, makam, serta empat rumah, namun tidak tampak satu orang pun yang tinggal di kawasan ini. Kampung ini disebut telah ditinggal penghuninya.

Saat detikJatim menyambangi Dusun Sumbulan, kawasan ini tampak sepi. Terkadang, ada beberapa warga pencari rumput yang hanya sekadar melintasi kawasan tersebut.

Masuk dari arah timur, suasana sepi langsung menyapa. Sedangkan di ujung barat jalan, tampak masjid tua berdiri. Ketika mendekati masjid, di belakang tampak pemakaman warga.

Sementara, di sisi selatan jalan setapak, ada satu bangunan rumah yang sudah tampak rusak. Lalu di di sisi utara jalan, ada 3 bangunan rumah yang masih berdiri kokoh. Meskipun bangunan tersebut tampak kuno dan tidak terawat.

detikJatim meneruskan langkah menyusuri sisi selatan dan utara makam. Rupanya di sana ada sungai besar dan curam. Pertemuan dua aliran sungai itu berada tepat di belakang sisi makam, warga sekitar menyebut tempuran.

Salah satu mantan warga Sumbulan, Sumarno (62) mengatakan, kondisi Sumbulan sepi sejak 4 tahun lalu. Sebelumnya, ayah Sumarno, Salamun bersama Mustofa masih tinggal di sana.

Kampung mati yang ditinggal penghuninya di PonorogoKampung mati yang ditinggal penghuninya di Ponorogo Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim

"Tapi sejak 4 tahun lalu, sudah ditinggal sama Mbah Salamun, bapak saya sama Pak Topa. Pak Topa pindah ke Tegalsari, Jetis," tutur Sumarno kepada detikJatim, Sabtu (1/10/2022).

Sumarno menerangkan sebenarnya fasilitas di Sumbulan termasuk lengkap, seperti air dan listrik. Namun sayang, akses jalan menuju sana masih susah. Sebab, satu-satunya jalan ke lokasi Sumbulan masih makadam atau bebatuan khas jalan sawah.

"Banyak warga Sumbulan, setelah selesai sekolah, punya kerjaan memilih meninggalkan Sumbulan karena akses jalan tadi. Kemana-mana jauh, sebab dikelilingi sawah dan sungai," terang Sumarno.

Sumarno sendiri sebagai generasi kelima, mengaku masih sering mengunjungi Sumbulan. Tujuannya hanya sekadar merawat dan mengenang masa kecilnya di kawasan tersebut. Tak peduli siang atau malam hari, kadang ia menyempatkan waktu ke Sumbulan.

"Malam hari, siang hari kadang saya ke Sumbulan, merawat semampu saya rumah di sana. Meski tidak setiap hari ke sana," ujar Sumarno.

Menurut Sumarno, sosok yang membabat alas di kawasan Sumbulan sebelum tahun 1850-an adalah kakek buyutnya, Ali Usman. Kemudian, diteruskan oleh anak menantunya, Ali Murtadho. Setelah itu terus dilanjutkan anaknya, Nur. Kemudian turun ke Salamun dan terakhir ke Sumarno.

"Saya itu generasi ke lima, selesai saya kuliah tahun 1985. Saya dapat kerja kemudian pergi dari Sumbulan, tinggal di Plalangan juga tapi di kawasan yang sudah ramai dan mudah diakses," pungkas Sumarno.



Simak Video "Ketika Pemain Reog Ponorogo Angkat Dadak Merak dengan Gigi"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/iwd)