Sejarah Pembuatan dan Penemuan Arca Joko Dolog

Urban Legend

Sejarah Pembuatan dan Penemuan Arca Joko Dolog

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 13:43 WIB
Arca Joko Dolog ada di Surabaya. Tepatnya di Jalan Taman Apsari, Kecamatan Genteng, Surabaya Pusat.
Sugianto, Juru Kunci Arca Joko Dolog/Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim
Surabaya -

Sugianto, Juru Kunci Arca Joko Dolog berkisah. Ia juga mengatakan, Arca Joko Dolog merupakan perwujudan Raja Kertanegara atau Raja Singosari yang terakhir.

Menurut pria yang biasa disapa Pak To, Kertanegara adalah cucu dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Sementara dalam data yang diperoleh detikJatim dari beragam sumber dijelaskan, Tunggul Ametung dan Ken Dedes mempunyai seorang cucu bernama Ranggawuni. Ranggawuni memperoleh gelar Raja Wisnu Wardhana. Wisnu mempunyai anak bernama Kertanegara.

Dalam sejarah tercatat, awalnya Kertanegara menjadi Raja Gelang-Gelang Madiun. Kerajaan itu di bawah Kerajaan Singosari. Ia menjadi raja sejak 1254 sampai 1269.

Setelah Raja Wisnu Wardhana meninggal, Kertanegara menggantikan ayahnya menjadi raja besar di Singosari pada 1269-1293.

Kertanegara membawa kerajaan ke puncak kejayaan. Setelah Kertanegara meninggal, Mpu Barada membuat patung atau arca.

Arca tersebut memiliki panjang 1 meter, tinggi 1,6 meter, dan lebar 1 meter. Arca itu menggambarkan sosok Kertanegara, pengikut ajaran Budhha Tantrayana di eranya.

"Ia (Mpu Barada) merupakan pembuat Arca Airlangga. Joko Dolog adalah maha karya Mpu Barada di tahun 1289," ujar Pak To kepada detikJatim, Jumat (30/9/2022).

Ditemukannya Arca Joko Dolog

Arca Joko Dolog ditemukan di Desa Kandang Gajah, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tahun 1812. Pada versi pertama, arca itu disebut berasal dari Candi Jawi Nganjuk atau Malang.

"Karena, yang membawa ke Trowulan itu orang-orang Majapahit (era Kerajaan Majapahit). Yang tahu orang-orang Majapahit (kala itu)," tuturnya.

Mulanya, Arca Joko Dolog ditemukan dalam tanah. Tepatnya di bawah tumpukan gelondongan kayu dolog atau jati.

"Makanya (dinamakan) Patung Dolog," terangnya.

"Njogo Dolog (sebenarnya) nama aslinya, karena lidah (penyebutan/aksen) orang Jawa, jadi Joko Dolog," sambungnya.

Pada 1817, Belanda membawa Arca Joko Dolog ke Kota Surabaya dan menempatkannya di Museum Von Faber, sebelah Grahadi yang kini menjadi SMA Trimurti. Lalu, semua barang bersejarah dipindah ke Museum Von Faber anyar, lokasinya berada di Wonokromo yang dikenal dengan Museum Mpu Tantular.

Dalam pemindahan itu, rupanya Joko Dolog tak turut dipindah. Malah, sengaja diletakkan di bawah pohon beringin yang kini menjadi Taman Apsari.

Alkisah, lahan itu menjadi titik atau lokasi keramat yang dikenal sebagai tempat Mbah Simpang Jaengan atau sosok misterius waktu itu. Petilasan Mbah Simpang Jaengan diyakini berbentuk gundukan tanah, layaknya makam tanpa nisan.

Arca Joko Dolog ada di Surabaya. Tepatnya di Jalan Taman Apsari, Kecamatan Genteng, Surabaya Pusat.Arca Joko Dolog ada di Surabaya/ Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim

Pak To menyatakan, berdasarkan kesaksian para juru kunci terdahulu, gundukan tanah itu tak bisa diratakan dan kerap kembali dalam bentuk aslinya usai 3 hari diubah. Itu menjadi salah satu pertimbangan mengapa Arca Joko Dolog ditaruh di sana.

"Sampai saat ini, dinamakan Mbah Jogo Dolog. Patung itu ditempatkan di gundukan dengan pondasi bebatuan," ujarnya.

Mulanya, posisi Joko Dolog menghadap timur laut. Tanpa pelindung kecuali pohon beringin besar di dekatnya. Kala itu, yang menjadi juru kunci adalah Sunarjo.

Saat itu, ada seorang pengunjung bernazar. Bila keinginannya tercapai, bakal merenovasi area sekitar Joko Dolog, salah satunya membangun pondasi untuk tempat khusus. Sebab, ketika hujan, air menggenangi sekitaran arca.

"Dulu, (saat hujan) airnya menghanyutkan bunga, malah (genangan) sampai dada patung (Joko Dolog)," pungkasnya.

Sekarang, sekitar Arca Joko Dolog sudah rapi. Banyak pengunjung yang datang.



Simak Video "Seruput STMJ, Minuman Penghangat Badan di Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/dte)