Kenaikan harga plastik terjadi di Indonesia termasuk wilayah Jawa Timur. Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak menyebut penyebab plastik naik karena kondisi global.
"Jadi plastik ini memang harganya naik karena kondisi bahan baku dan rantai pasok globalnya memang demikian (dampak perang)," kata Emil di Surabaya, Kamis (9/4/2026).
Emil mendorong warga untuk menggunakan alternatif pengganti plastik, semisal membawa tas sendiri saat belanja di pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya orang belanja sekarang memang didorong agar belanjanya menggunakan tas belanja, jangan pakai kresek, itu sudah dibudidayakan," jelasnya.
"Tapi, kalau penjual es itu memang harus ada plastiknya. Kita mau pastikan dulu mana UMKM yang bisa menyesuaikan, mana yang tidak," jelasnya.
Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mencatat lonjakan harga dipicu oleh naiknya harga bahan baku hingga gangguan pasokan global.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian menyebut harga bahan baku utama plastik, yakni biji plastik, kini mencapai sekitar Rp 30.000 per Kilogram atau naik hingga 50%.
"Kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar. Dari sebelumnya sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98 per barel, bahkan sempat menyentuh USD 115 per barel," ujarnya.
Selain itu, bahan utama plastik kemasan seperti polipropilena (PP) juga mengalami kenaikan harga sekitar 24%. Dampaknya, harga plastik di tingkat pedagang di Surabaya melonjak antara 30-70%, tergantung jenis dan bahan baku.
"Beberapa jenis plastik bahkan mulai sulit ditemukan di pasaran. Yang paling terdampak di antaranya plastik jenis PP, HD, dan PE, termasuk gelas cup, lid, tas kresek, hingga plastik kemasan berbagai ukuran," tambahnya.
Berdasarkan data Geographical Industry Information System (GIIS), terdapat 427 industri plastik dan produk turunannya di Jawa Timur. Industri tersebut tersebar di wilayah Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. Dari jumlah itu, sebanyak 298 unit merupakan IKM/UKM, sementara 129 unit merupakan industri besar.
Di sisi perdagangan luar negeri, terdapat 44 pelaku usaha ekspor plastik dan produk turunannya di Jatim. Namun, ketergantungan terhadap impor bahan baku masih cukup tinggi.
Lucky menyebut, sekitar 50-60% bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari impor. Hal ini disebabkan kapasitas produksi dalam negeri yang hanya mampu memenuhi maksimal 50 persen kebutuhan.
"Nilai impor plastik dan barang dari plastik di Jawa Timur pada 2025 mencapai USD 1,43 miliar, sementara nilai ekspornya sebesar USD 317 juta. Mayoritas impor berupa biji plastik yang kemudian diolah menjadi berbagai produk," paparnya.
Adapun negara asal impor biji plastik terbesar antara lain China, negara-negara ASEAN, Amerika Serikat, hingga Arab Saudi. Bahan baku utama biji plastik, yakni nafta, sebagian besar dipasok dari kawasan Timur Tengah.
"Kondisi geopolitik di kawasan tersebut turut mempengaruhi pasokan dan harga nafta. Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Timur Tengah, sehingga ketika terjadi ketegangan, dampaknya langsung terasa," ujarnya.
Di dalam negeri, pasokan juga menghadapi tantangan. Salah satu produsen utama, PT Chandra Asri Pacific Tbk, yang merupakan pabrik pengolahan nafta terbesar di Indonesia, sempat mengumumkan kondisi force majeure pada Maret lalu akibat ancaman kekurangan bahan baku.
Disperindag Jatim menyiapkan sejumlah langkah. Di antaranya melakukan pemantauan ketat terhadap industri, distributor, dan pedagang plastik untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah praktik penimbunan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber impor dengan berkoordinasi dengan pelaku usaha agar mendatangkan bahan baku dari negara di luar wilayah konflik.
"Koordinasi juga dilakukan dengan asosiasi seperti APINDO, KADIN, dan INAPLAS agar pelaku industri bisa melakukan efisiensi biaya produksi tanpa membebani konsumen akhir," tandasnya.
(auh/hil)
