Menjelang Hari Raya Idul Fitri, produksi ketupat di Kampung Lontong, Surabaya meningkat signifikan. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur ini menjadi salah satu pelengkap hidangan Lebaran yang banyak dicari masyarakat.
Biasanya produksi ketupat dimulai saat dua sampai tiga hari sebelum Idul Fitri. Seperti hari ini, Rabu (18/3/2026) terpantau salah satu rumah produksi di Banyu Urip Lor gang X Surabaya itu sudah sibuk mengisi anyaman janur berbentuk segi empat tersebut dengan beras.
Rumah produksi itu bernama "Lontong Ayu" dijalankan oleh Lisnur (29) bersama kedua orang tua, adik, dan kerabat dekat lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lisnur mengatakan, ketupat umumnya tidak diproduksi setiap hari. Produksi baru dilakukan saat ada pesanan, kecuali menjelang Lebaran.
Ketupat yang diproduksi di Kampung Lontong Surabaya Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
"Kalau ketupat itu hari-hari nggak ada, cuma Lebaran ini. Kalau Lebaran ini banyak, bisa sampai 1.000 (buah) per hari," ujarnya saat ditemui detikJatim, Rabu (18/3/2026).
Hal senada disampaikan Winarti (45), ibu Lisnur. Ia menyebut, dalam sehari produksi ketupat saat Lebaran bisa mencapai sekitar 1.000 buah. Bahan baku janur sebagai 'bungkus' ketupat diperoleh dari pasar dan dipilih dari langganan agar kualitas anyaman rapat.
"Ambil di pasar soalnya kan langganan mbak. Kalau nggak langganan itu dia nutup e (menutupnya) ga rapat. Jadi berasnya kan keluar semua. Kalau ini kan rapat ga ada yg keluar," kata Winarti.
Setelah diisi beras, ketupat kemudian direbus seperti lontong, namun menggunakan dandang terpisah. Prosesnya pun berbeda karena ketupat tidak ditata rapi seperti lontong.
"Nggak jadi satu sama lontong (dandangnya), ini langsung cemplung-cemplung, diikat lima-lima," ujarnya.
Ketupat yang diproduksi di Kampung Lontong Surabaya Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Ketupat dijual dalam bentuk ikatan berisi lima buah dengan harga sekitar Rp 20.000, sementara ukuran lebih besar bisa mencapai Rp 25.000 per ikat. Perbedaan ukuran ini dipengaruhi oleh ukuran janur yang tidak seragam.
Winarti juga menyebut ciri khas ketupat produksinya terletak pada warna yang cenderung putih.
"Pelanggan itu hafal mbak, kalau warnanya putih itu biasanya ketupat saya. Itu pengaruh dandangnya saja," katanya.
Selain ketupat, rumah produksi ini juga menyediakan lepet. Namun, lepet tidak diproduksi sendiri karena keterbatasan tenaga kerja. Rumah produksi Lontong Ayu memilih mengambil dari pemasok untuk kemudian dijual kembali.
"Kalau lepet langsung pesan jadi, tangane nggak ngatasi (tenaganya nggak mencukupi)," ujarnya.
Lepet dijual sekitar Rp 3.500 per buah dan kerap lebih cepat habis dibanding ketupat. Lepet maupun ketupat biasanya disajikan bersama berbagai hidangan khas Lebaran seperti opor, kari, hingga kikil. Permintaan datang dari pembeli langsung maupun pedagang yang membeli untuk dijual kembali.


