Mengapa Ketupat Selalu disajikan Saat Lebaran? Ini Filosofinya

Mengapa Ketupat Selalu disajikan Saat Lebaran? Ini Filosofinya

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Selasa, 17 Mar 2026 09:50 WIB
Ketupat lebaran.
Ilustrasi ketupat. Foto: iStock
Surabaya -

Sama seperti THR (tunjangan hari raya) yang sangat dinanti saat Lebaran, menyantap opor ketupat setelah sholat Id bersama keluarga juga jadi salah satu momen Lebaran yang ditunggu.

Ternyata, tradisi menyajikan ketupat saat Idul Fitri ini diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga pada masa penyebaran Islam di Jawa. Namun, mengapa bisa ketupat bisa begitu identik dengan Lebaran? Simak filosofi dibaliknya ya detikers!

Alasan di Balik Ikoniknya Ketupat dengan Lebaran

Tradisi ketupat yang kita kenal saat Lebaran sebenarnya punya cerita panjang. Konon, kebiasaan ini mulai populer di Jawa sekitar abad ke-15 hingga ke-16, pada masa penyebaran Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir situs Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, sosok yang memperkenalkan ketupat adalah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang dikenal dengan cara berdakwahnya yang sangat dekat dengan budaya masyarakat.

Sunan Kalijaga tidak menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang kaku. Ia justru memilih pendekatan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Salah satu caranya dengan memanfaatkan ketupat yang saat itu sudah dikenal sebagai makanan yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur.

ADVERTISEMENT

Dari sinilah ketupat punya makna baru yang lekat dengan nilai-nilai Islam. Ketupat dimaknai sebagai pengingat untuk mengakui kesalahan, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi, terutama setelah menjalani bulan Ramadan.

Akulturasi tradisi lokal dengan nilai agama inilah yang membuat dakwah Islam lebih mudah diterima masyarakat Jawa pada masa itu. Hingga akhirnya, tradisi ketupat pun melekat kuat dan menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia sampai sekarang.

Filosofis Ketupat dalam Tradisi Lebaran

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kata ketupat sering dihubungkan dengan ungkapan "ngaku lepat", yang artinya mengakui kesalahan. Setelah sebulan menjalani puasa Ramadan, Lebaran menjadi momen untuk saling meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Karena itu, ketupat sering dianggap sebagai pengingat bahwa setiap orang pasti pernah berbuat salah, dan Lebaran adalah waktu yang tepat untuk mengakui kesalahan tersebut dengan rendah hati.

Makna Filosofi Anyaman Janur

Ketupat dibuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur. Kalau diperhatikan, anyamannya terlihat cukup rumit dan saling bertaut. Dalam filosofi Jawa, bentuk anyaman ini sering dimaknai sebagai gambaran kesalahan manusia yang berlapis-lapis dalam kehidupan.

Namun ada makna menarik ketika ketupat dibelah. Di dalamnya, nasi terlihat putih dan bersih. Hal ini sering diartikan sebagai simbol hati yang kembali suci setelah seseorang saling meminta dan memberi maaf.

Makna Bentuk Ketupat

Dirangkum dari NU Online, Sunan Kalijaga juga mengaitkan ketupat dengan sebuah konsep dalam budaya Jawa yang dikenal sebagai "laku papat", yaitu empat sikap atau perjalanan hidup yang menjadi pengingat dalam kehidupan spiritual.

Yang pertama adalah lebo. Maknanya adalah kesadaran bahwa sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Entah disadari atau tidak, kita bisa saja berbuat khilaf kepada orang lain.

Yang kedua adalah luber. Ini berkaitan dengan sikap murah hati. Setelah menjalani Ramadhan, diharapkan umat Muslim menjadi pribadi yang lebih ringan tangan untuk berbagi.

Ini termasuk berbagi rezeki, perhatian, maupun memaafkan kesalahan orang lain. Dalam pandangan masyarakat Jawa, rezeki yang kita terima bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain.

Lalu yang ketiga adalah lebar. Maknanya mengingatkan bahwa meskipun Ramadhan telah berakhir, nilai-nilai yang dipelajari selama bulan puasa seharusnya tidak ikut berakhir. Sikap sabar, kemampuan menahan diri, serta kepedulian terhadap sesama sebaiknya tetap dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Terakhir adalah labur. Ini menggambarkan keadaan hati yang kembali bersih setelah seseorang saling meminta dan memberi maaf. Ibarat kain putih yang baru dilabur, hati diharapkan kembali suci.



(dpe/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads