Perayaan Cap Go Meh membawa berkah bagi perajin lontong di Kampung Lontong, Banyu Urip Lor, Surabaya. Permintaan lontong melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa. Mengingat, Lontong Cap Go Meh menjadi sajian wajib saat perayaan malam ke-15 setelah Imlek tersebut.
Salah satu produsen lontong, Lisnur menyebut produksi meningkat signifikan jelang dan saat perayaan Cap Go Meh. Jika pada hari biasa hanya memproduksi sekitar 18 hingga 20 keranjang lontong, saat momen Cap Go Meh jumlahnya melonjak drastis.
"Kalau hari biasa kita bikin 18 sampai 20 keranjang. Tapi kalau Cap Go Meh ini bisa dua sampai tiga kali lipat. Kemarin sampai 45 keranjang, hari ini 35 keranjang," ujar Lisnur dikonfirmasi detikJatim, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Geliat warga Kampung Lontong menyiapkan pesanan saat hari H Perayaan Cap Go Meh Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Permintaan mulai berdatangan sejak dua hari sebelum perayaan. Namun, puncaknya terjadi tepat pada hari Cap Go Meh atau hari ini. Bahkan, lanjut Lisnur, tahun ini menjadi yang paling ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Biasanya cuma dua sampai tiga hari ramai pesanannya. Tahun ini sampai empat hari. Lebih ramai dari tahun kemarin," katanya.
Berbeda dengan hari biasa yang didominasi lontong ukuran kecil, saat Cap Go Meh pembeli lebih banyak memesan lontong ukuran besar. Lontong besar tersebut dijual seharga Rp 3.000 per buah, dengan ukuran lebih panjang dari lontong standar. Sementara lontong kecil pada hari biasa dibanderol Rp 1.300 dan saat mendekati Lebaran naik menjadi Rp 1.500.
Untuk pemasaran, hasil produksi Kampung Lontong biasanya dijajakan ke Pasar Banyu Urip, Pasar Genteng Kali, dan Pasar Pakis. Permintaan paling tinggi saat Cap Go Meh berasal dari Pasar Genteng Kali dan Pasar Pakis, yang lokasinya banyak dihuni warga Tionghoa.
Baca juga: Pantangan dalam Festival Lentera Cap Go Meh |
Tak hanya Lisnur, hampir satu kampung turut merasakan dampak lonjakan pesanan ini. Warga lainnya, Mutiana menuturkan tradisi produksi lontong di kampung tersebut memang nyaris tak pernah beristirahat, bahkan pada hari biasa.
"Dari jam empat pagi sudah mulai (ke pasar), selesai masaknya jam dua pagi. Di waktu orang tidur, kita melek (bangun). Waktunya orang bangun, ya tetap melek," ujarnya.
Di hari Ramadan seperti saat ini, para warga bahkan rela menyantap sahur di pasar demi memastikan kebutuhan lontong pelanggan tetap terpenuhi. Caption foto: Geliat warga Kampung Lontong menyiapkan pesanan saat hari H Perayaan Cap Go Meh
(auh/hil)












































