Rengginang Moro Seneng di Mojokerto eksis sebagai camilan Lebaran di tengah gempuran aneka kue kekinian. Omzet camilan tradisional ini naik 70% menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Rengginang Moro Seneng di Sawahan Gang 3, Kelurahan Sawahan, Mojosari, Mojokerto tergolong legendaris karena diproduksi sejak 1978 atau 48 tahun silam. Saat ini, bisnis keluarga tersebut dikelola generasi ketiga, yaitu Muhammad Bagus Dwi (32).
Dibantu enam pekerja yang semuanya emak-emak, setiap harinya Bagus memasak 100 kilogram beras ketan menjadi rengginang. Awalnya, ketan direndam dengan air selama satu malam. Kemudian, pukul 03.00 WIB, para pekerja mengukus ketan selama 1 jam sampai matang sempurna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyiapan bahan dilanjutkan mengaduk ketan dengan bumbu sesuai varian rasa yang diinginkan. Yaitu rengginang rasa asin udang dan manis jahe. Sedangkan pop rice berbahan ketan mempunyai 7 varian rasa, yakni original, balado, pedas manis, jagung bakar, keju, sapi panggang dan barbeku.
Pembuatan rengginang di Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
"Untuk rengginang, bahan bumbunya segar dari pasar, dimasak, diblender, baru dicampur ketan yang sudah dikukus. Yang pop rice pakai perisai rasa (flavouring)," terang Bagus kepada wartawan di tempat usahanya, Sabtu (7/3/2026).
Setelah bahan utama siap, produksi rengginang dilanjutkan ke tahap pencetakan. Meski masih manual, emak-emak sangat cepat mencetak setiap rengginang, lalu ditata rapi di atas papan dari anyaman bambu. Selanjutnya hasil cetakan dijemur di bawah terik matahari.
Tahap pengeringan juga menggunakan oven berbahan bakar elpiji, baik untuk rengginang maupun pop rice. Baru keesokan harinya, rengginang digoreng pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB. Menurut Bagus, rengginang siap digoreng apabila kadar airnya maksimal di angka 14%.
"Tingkat kering menentukan, kering sempurna akan menghasilkan rengginang yang sempurna saat digoreng, mengembang dengan bagus," jelasnya.
Penggorengan rengginang maupun pop rice menggunakan 36 liter minyak goreng per hari. Suhu penggorengan di atas 100 derajat Celcius. Bagus memastikan minyak goreng hanya satu kali pakai untuk menjaga mutu produknya.
"Minyak goreng tak bisa dipakai ulang karena risiko rengginang tengik," ujarnya.
Dengan proses produksi yang dijaga ketat, setiap harinya Bagus menghasilkan 120 Kg rengginang siap santap. Penjualannya ke kota-kota besar di Jatim, yaitu Mojokerto, Surabaya, Malang, Madiun, Magetan, Sidoarjo dan Gresik.
Harganya bervariasi tergantung kemasan. Rengginang kemasan 200 gram Rp 9.000, kemasan 1 Kg Rp 45.000, rengginang mentah kemasan 500 gram Rp 20.000, sedangkan pop rice Rp 10.000 isi 100 gram.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, omzet rengginang Moro Seneng tak kalah dengan kue-kue modern. Menurut Bgus, rengginangnya laris manis untuk isian hampers maupun oleh-oleh. Khususnya varian asin udang. Pemesannya mulai dari perorangan, reseller hingga toko oleh-oleh.
"Omzet rata-rata bulan biasa Rp 10 juta per bulan. Menjelang Lebaran alhamdulillah omzet meningkat 70%," tandasnya.
(auh/hil)

