- Asal-usul Festival Lentera
- Pantangan Cap Go Meh 1. Menyalakan dan menikmati lentera 2. Memakai Pakaian Rapi dan Bernuansa Cerah 3. Menjaga Stabilitas Keuangan dan Tidak Sembarangan Meminjamkan Uang 4. Makan Tangyuan dengan Sopan 5. Menjaga Ucapan dan Emosi 6. Perhatian Khusus bagi Ibu Hamil dan Orang Sakit
- Pantangan Makanan pada Malam Festival Lentera
- Makna di Balik Pantangan dan Anjuran
Malam Cap Go Meh tidak hanya menjadi penutup rangkaian Imlek, tetapi juga sarat dengan pantangan dan anjuran yang diwariskan turun-temurun dalam tradisi Tionghoa. Berbagai aturan tersebut dipercaya menjaga keharmonisan, kesehatan, sekaligus membawa harapan akan keberuntungan di tahun yang baru.
Perayaan Tahun Baru Cina merupakan hari besar yang penting bagi masyarakat Tionghoa, termasuk di Surabaya. Masyarakat luas kerap menyebutnya Imlek. Dalam tradisi Tionghoa sendiri, perayaan ini dikenal sebagai 春節 (Chūnjié atau Festival Musim Semi), 農曆新年 (Nónglì Xīnnián atau Tahun Baru Penanggalan Lunar), maupun 過年 (Guònián).
Istilah Imlek berasal dari dialek Hokkian, yakni 陰曆 (im lek), yang berarti penanggalan bulan. Perayaan ini berlangsung sejak hari pertama bulan pertama dalam kalender Tionghoa hingga hari kelima belas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penanggalan tersebut tidak hanya didasarkan pada peredaran bulan, tetapi juga melibatkan perhitungan matahari, konsep yin dan yang, rasi bintang, 24 musim, lima unsur, hingga astrologi shio.
Rangkaian perayaan itu mencapai puncaknya pada hari ke-15 bulan pertama yang bertepatan dengan bulan purnama. Hari ini dikenal sebagai Cap Go Meh sekaligus Festival Lentera atau 元宵節 (Yuan Xiao Jie).
Pada malam inilah keluarga berkumpul kembali, menutup rangkaian Imlek dengan doa dan harapan baru, sekaligus menjalankan berbagai anjuran serta menghindari sejumlah pantangan yang telah diwariskan turun-temurun.
Lantas, apa pantangan dan anjuran yang harus dilakukan saat Cap Go Meh atau tepatnya pada Festival Lentera?
Asal-usul Festival Lentera
Festival Lentera yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar menjadi puncak rangkaian Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek. Malam ini bukan sekadar penutup perayaan, tetapi juga sarat makna emosional dan kenangan budaya bagi masyarakat Tionghoa.
Portal asal Tiongkok, Sohu, menyebut asal-usul Festival Lentera kerap ditelusuri hingga masa Dinasti Han. Dalam catatan sejarah, perayaan ini berkaitan dengan peristiwa politik setelah wafatnya Kaisar Liu Ying.
Pada masa itu, kekuasaan berada di tangan Permaisuri Lü yang mengangkat kerabatnya ke posisi penting dan menyingkirkan anggota klan Liu serta pejabat berpengaruh. Setelah Permaisuri Lü meninggal, terjadi ketegangan politik yang memicu upaya perebutan kekuasaan.
Raja Liu Xiang dari Qi bersama tokoh-tokoh seperti Liu Zhang, Zhou Bo, dan Chen Ping kemudian menyusun strategi untuk mengembalikan kekuasaan ke tangan keluarga Liu. Melalui langkah militer dan politik, mereka berhasil mengambil alih pasukan, memasuki istana, serta menumpas kekuatan klan Lü.
Peristiwa tersebut secara kebetulan terjadi pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar. Untuk menandai berakhirnya konflik dan kembalinya stabilitas pemerintahan, Kaisar Wen dari Han menetapkan hari itu sebagai hari perayaan.
Ibu kota dihiasi lampu dan lentera, sementara rakyat merayakannya bersama sebagai simbol kedamaian dan harapan baru. Sejak saat itu, tradisi menyalakan lentera pada malam kelima belas berkembang menjadi festival rakyat.
Meski demikian, sejumlah catatan menunjukkan bahwa kebiasaan menyalakan lampu pada awal tahun sebenarnya sudah ada sejak Dinasti Qin, hanya saja belum menjadi perayaan resmi. Festival Lentera baru benar-benar populer ketika Kaisar Wen secara rutin keluar dari istana untuk merayakannya bersama masyarakat.
Tradisi inilah yang kemudian diwariskan turun-temurun hingga menjadi bagian penting dari penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Tradisi menyalakan lampu pada malam kelima belas bulan pertama ini lah dipercaya berkaitan dengan perayaan atas situasi politik yang kembali damai pada masa itu.
Seiring waktu, praktik tersebut bertransformasi menjadi tradisi rakyat yang sarat simbol cahaya. Lentera dimaknai sebagai penerang jalan kehidupan, penolak kesialan, sekaligus lambang harapan akan masa depan yang lebih terang.
Di Indonesia, perayaan ini sering kali dipadukan dengan kirab budaya, pertunjukan barongsai, serta tradisi makan bersama keluarga.
Pantangan Cap Go Meh
Pada Festival Lentera, terdapat sejumlah anjuran yang masih dijaga sebagian masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.
Sohu, menyebut dalam pepatah rakyat, siang hari tidak ada larangan, tetapi malam hari memerlukan enam kehati-hatian. Ungkapan ini menunjukkan bahwa justru pada malam Cap Go Meh terdapat sejumlah anjuran dan pantangan yang diyakini membawa keberkahan sekaligus menjaga harmoni keluarga.
1. Menyalakan dan menikmati lentera
Salah satu tradisi utama pada malam Festival Lentera adalah menyalakan lampu sebagai simbol penerangan dan penolak kesialan sekaligus "untuk menghormati Buddha".
Dalam praktik lama, lampu utama di ruang keluarga dibiarkan menyala sepanjang malam sebagai harapan agar rumah tangga tetap terang, rezeki lancar, dan energi buruk tidak masuk.
Tradisi ini juga berkaitan dengan kebiasaan menyalakan lampu untuk penghormatan spiritual yang kemudian berkembang menjadi festival lentera nasional.
Menurut Sejarah Singkat Para Biksu, tradisi kuil menyalakan lampu untuk memuja Buddha pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar bermula pada Dinasti Han Timur di bawah Kaisar Ming. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi festival lentera nasional.
Ahli folklor mencatat bahwa rumah tangga harus menjaga rumah tetap terang sepanjang malam, dengan lampu utama ruang tamu menyala terus-menerus untuk melambangkan mengusir kesialan dan menyambut berkah.
Sementara dalam konteks modern, menyalakan lampu kecil atau lampu malam sudah dianggap cukup untuk menjaga makna simboliknya. Karena itu, para orang tua dengan tegas memperingatkan untuk tidak mematikan lampu atau bertengkar pada malam Cap Go Meh karena dipercaya dapat membawa perselisihan dalam keluarga sepanjang tahun.
2. Memakai Pakaian Rapi dan Bernuansa Cerah
Pada malam Cap Go Meh, pakaian juga memiliki makna simbolik. Warna merah dianggap membawa keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif. Oleh karena itu, merah tidak hanya melengkapi suasana perayaan tetapi juga mewakili keyakinan budaya dalam mengusir kejahatan dan menarik keberuntungan.
Sebaliknya, pakaian yang kusam, robek, atau terlalu gelap dipandang sebagai pertanda kurang baik karena diasosiasikan dengan "kebocoran rezeki" sejalan dengan tabu tradisional untuk tidak memperbaiki pakaian selama bulan lunar pertama.
Tradisi ini berangkat dari kebiasaan lama masyarakat yang mengenakan pakaian terbaik saat festival sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar.
Sohu juga menyebutkan bahwa dalam Teks Dinasti Tang, Catatan Beragam dari Youyang, mencatat kebiasaan kuno wanita mengenakan blus sutra putih selama Festival Lentera, yang telah berkembang menjadi kode berpakaian modern "merah adalah pertanda baik, hitam adalah larangan"
Dalam praktik sekarang, masyarakat tidak harus mengenakan busana tradisional, namun tetap dianjurkan memakai pakaian yang rapi dan cerah untuk memperkuat suasana perayaan.
3. Menjaga Stabilitas Keuangan dan Tidak Sembarangan Meminjamkan Uang
Ada kepercayaan bahwa kehilangan uang pada malam Festival Lentera melambangkan kebocoran rezeki sepanjang tahun. Karena itu, dompet dianjurkan tetap berisi, meski hanya uang kecil sebagai simbol keberlangsungan finansial.
Meminjamkan uang pada malam Cap Go Meh juga dihindari karena dianggap sama dengan "memberikan" keberuntungan kepada orang lain. Dalam tafsir modern, tradisi ini bisa dimaknai sebagai momentum refleksi finansial yaitu mengecek kondisi keuangan, merapikan catatan pengeluaran, dan menyusun rencana ekonomi untuk setahun ke depan.
4. Makan Tangyuan dengan Sopan
Sohu menyebut bahwa Teks Dinasti Song Broad Record of Seasons mencatat, pada Festival Lentera, keluarga berkumpul untuk makan bola beras ketan rebus. Ini berkembang menjadi kebiasaan modern menyajikan tangyuan dalam jumlah genap.
Orang Utara lebih menyukai isian manis yang melambangkan kebahagiaan, sementara orang Selatan menikmati tangyuan asin yang melambangkan inklusivitas.
Saat menyantapnya, terdapat etika yang dijaga, seperti tidak mengetuk mangkuk atau sumpit karena dianggap tidak sopan dan dapat merusak makna keberuntungan. Selain itu, karena tangyuan berbahan ketan yang cukup berat dicerna, orang tua dan anak-anak dianjurkan makan secukupnya agar tidak mengganggu kesehatan.
5. Menjaga Ucapan dan Emosi
Festival Lentera identik dengan suasana sukacita. Oleh karena itu, kata-kata yang bernada negatif seperti "pecah", "hancur", atau ungkapan kemarahan sebaiknya dihindari. Tangisan anak-anak biasanya segera ditenangkan agar tidak membawa energi kesedihan ke dalam rumah.
Hal ini sejalan dengan Jingchu Sui Shi Ji dalam Sohu yang mencatat perayaan Festival Lentera sebagai "para pria dan wanita bersenang-senang tanpa batas dalam ucapan," dengan tradisi rakyat tetap menekankan "pengendalian kata-kata".
Dalam praktik modern, anjuran ini dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan mental dan keharmonisan keluarga. Topik pembicaraan yang berat atau penuh tekanan dianjurkan diganti dengan obrolan ringan, rencana tahun baru, dan doa-doa baik.
Bahkan, topik negatif seperti tekanan kerja pun dianjurkan untuk diminimalisir. Pendekatan ini lah yang disebut Sohu sebagai menghormati tradisi sekaligus menjaga kesehatan mental.
6. Perhatian Khusus bagi Ibu Hamil dan Orang Sakit
Tradisi juga memberikan perhatian pada kelompok rentan. Sohu menukil teks kuno Yue Ling Caiji secara khusus menyebutkan bahwa pada malam Festival Lentera, wanita hamil harus menghindari kerumunan yang bising.
Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan menghindari keramaian yang terlalu bising agar tetap nyaman dan tenang. Sementara itu, orang yang sedang sakit disarankan tidak mengonsumsi makanan mentah atau terlalu dingin.
Jika dilihat dari sudut pandang modern, anjuran ini memiliki dasar kesehatan yang kuat karena lingkungan bising memang dapat mengganggu istirahat, dan kondisi tubuh yang lemah membutuhkan pola makan yang lebih terkontrol.
Pantangan Makanan pada Malam Festival Lentera
Masih melansir dari laman yang sama, pada malam Festival Lentera, terdapat kepercayaan untuk menghindari konsumsi makanan hewani seperti ayam, ikan, dan daging. Pantangan ini tidak hanya berakar pada simbolisme budaya, tetapi juga berkaitan dengan kondisi alam pada masa tersebut.
Hari ke-15 bulan pertama kalender lunar berada pada masa peralihan dari akhir musim dingin menuju awal musim semi. Pada periode ini suhu mulai menghangat dan aktivitas mikroorganisme meningkat. Dalam kondisi tubuh yang relatif masih beradaptasi setelah musim dingin, sistem imun dianggap lebih rentan terhadap penyakit. Sementara itu, makanan hewani cenderung lebih berat dicerna serta berpotensi mengandung bakteri dan parasit dipandang dapat membebani sistem pencernaan.
Karena itu, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan vegetarian yang ringan pada malam Cap Go Meh. Pola makan sederhana tersebut dipercaya membantu menjaga keseimbangan tubuh, mengurangi risiko gangguan kesehatan seperti pilek dan gangguan pencernaan, sekaligus memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan perubahan musim.
Di luar pertimbangan kesehatan, pantangan ini juga memiliki makna simbolik. Ayam, ikan, dan daging merupakan hidangan mewah yang biasanya hadir sepanjang rangkaian perayaan Imlek.
Menghindarinya pada malam penutup menjadi bentuk pengendalian diri setelah masa perayaan yang identik dengan kelimpahan makanan. Praktik ini mengajarkan kesederhanaan, rasa syukur, serta kesadaran untuk tidak berlebihan.
Dengan demikian, pantangan makanan pada malam Festival Lentera tidak semata-mata dipahami sebagai larangan, melainkan sebagai refleksi keseimbangan antara tubuh, alam, dan nilai-nilai hidup yang menekankan moderasi serta keharmonisan.
Makna di Balik Pantangan dan Anjuran
Sebagian besar pantangan pada malam Cap Go Meh berakar pada kebutuhan psikologis masyarakat untuk memohon berkah, menghindari kesialan, serta menjaga keharmonisan keluarga. Sebagian lainnya lahir dari pengalaman hidup di masa lalu ketika kondisi ekonomi dan kesehatan lebih rentan, sehingga tradisi menjadi sarana pengingat untuk hidup lebih tertata.
Meskipun seiring berjalannya waktu banyak larangan ketat telah ditinggalkan dalam arti tidak semua aturan dijalankan secara kaku, dengan memahami makna di baliknya membantu menjaga nilai utama Festival Lentera, yaitu kebersamaan, ketenangan batin, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Pada akhirnya, Festival Lentera Cap Go Meh bukan sekadar penutup rangkaian Imlek. Ia menjadi ruang refleksi tentang cahaya, keseimbangan, kesederhanaan, dan harapan.
Melalui anjuran dan pantangan yang dijaga, masyarakat Tionghoa menegaskan satu pesan utama, yaitu memasuki tahun baru dengan hati yang terang dan relasi yang harmonis adalah keberuntungan terbesar itu sendiri.
(hil/irb)











































