Harga Rajungan Masih Anjlok, Nelayan Lamongan Beralih Tangkap Udang

Harga Rajungan Masih Anjlok, Nelayan Lamongan Beralih Tangkap Udang

Eko Sudjarwo - detikJatim
Kamis, 29 Sep 2022 17:36 WIB
Turunnya harga rajungan membuat nelayan merugi. Pasalnya, pendapatan dan pengeluaran tidak seimbang.
Harga rajungan anjlok membuat nelayan Lamongan kini menangkap udang (Foto: Eko Sudjarwo/file)
Lamongan -

Belum stabilnya harga rajungan di pasaran membuat nelayan Lamongan beralih tangkapan. Jika sebelumnya mereka menangkap rajungan, kini mereka beralih menangkap udang sebagai gantungan hidupnya.

Salah satu nelayan Paciran, Abdullah Bahris mengakui jika banyak nelayan yang dulunya menangkap rajungan kini putar haluan dengan beralih menangkap udang. Pasalnya, aku Abdullah, harga rajungan hingga saat ini masih belum stabil dan terlalu rendah sehingga memberatkan nelayan.

"Sekarang banyak yang beralih menangkap udang karena harga rajungan masih belum stabil," kara Abdullah kepada wartawan, Kamis (29/9/2022).

Abdullah mengatakan lesunya ekspor rajungan selama 8 bulan terakhir membuat mereka terpaksa putar haluan agar bisa bertahan karena harga rajungan kini hanya berkisar Rp 45 ribu perkilogram. Harga udang, menurut Abdullah, saat ini lebih baik dari harga rajungan karena untuk satu kilogram udang mereka bisa menjualnya dengan harga Rp 120 ribu.

"Untuk sementara beralih menangkap udang putih dari yang mulanya menangkap rajungan karena harga udang sekarang cukup tinggi, yaitu Rp 120 ribu per kilogram," ujar Abdullah.

Rata-rata, dalam sehari nelayan tradisional di Paciran mampu menangkap udang antara 5 sampai 10 kilogram. Hasil tangkapan udangpun, aku Abdullah, masih lumayan melimpah sehingga cukup membuat lega para nelayan.

"Harga rajungan masih terpuruk, meski sekarang ada kenaikan menjadi Rp 45 ribu perkilogram, dari yang semula hanya Rp 30 ribu," akunya.

Beralihlah para nelayan Pantura Lamongan dari semula menangkap rajungan menjadi menangkap udang itupun diakui oleh Ketua Rukun Nelayan Paciran Muchlisin Amar. Tingginya harga udang, ungkap Muchlisin, membuat nelayan memilih untuk beralih menangkap udang menggunakan jaring gondrong.

"Gairah nelayan bangkit lagi setelah 8 bulan nelayan rajungan dihadapkan dengan lesunya harga. Udang menjadi primadona tangkapan nelayan tradisional Pantura Lamongan, sehingga untuk sementara bergeser dari menangkap rajungan beralih menangkap undang putih karena harganya cukup tinggi," terangnya.

Muchlisin mengaku, diversifikasi alat tangkap yang dimiliki nelayan tradisional Pantura membuat mereka tetap bisa bertahan melaut setiap hari dan bisa menafkahi anak istri di rumah, sekaligus bisa menyekolahkan anak-anaknya. Banyaknya jenis alat tangkap ini, imbuh Muchlisin, membuat nelayan Lamongan bisa bertahan.

"Dengan mempunyai banyak jenis alat tangkap, seperti bubu, jaring cumi, jaring bringsang, alat menangkap rebon, jaring gondrong alat tangkap khusus udang putih, memungkinkan nelayan tradisional bisa melaut sesuai musim dan sesuai harga komoditas hasil tangkapan," tambahnya.

Kasat Polair Polres Lamongan AKP Erni Sugiastuti juga mengakui ketangguhan nelayan Lamongan ini. Nelayan, jelas Erni, menyikapi turunnya harga rajungan dengan beralih tangkapan, yaitu udang.

"Luar biasa para nelayan ini dalam menyikapi turunnya harga rajungan yaitu dengan beralih alat tangkap udang yang harganya di pasar ekspor lebih tinggi. Salut, semoga ketahanan pangan nelayan tetap kuat dan terjaga," pungkasnya.



Simak Video "Karyawan Curi 1,3 Ton Lebih Udang Milik WNA di Jembrana"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)