Nasib Peternak Rakyat Blitar yang Susah Eksis di Kampung Sendiri

Erliana Riady - detikJatim
Selasa, 22 Feb 2022 12:52 WIB
Yang kaya makin kaya, pepatah ini mengungkapkan kondisi para peternak rakyat di Kabupaten Blitar. Satu per satu bisnis yang mereka bangun harus tumbang karena kebijakan yang tidak berpihak pada pelaku UMKM ini.
Peternak rakyat di Blitar/Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar -

Sebanyak 402 peternak ayam petelur gulung tikar selama pandemi COVID-19. Fluktuasi harga telur dan harga pakan yang melambung, membuat usaha yang mereka bangun bertahun-tahun, tumbang.

Seperti yang disampaikan Suroto, peternak di Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan. Sejak berlakunya larangan pemberian Antibiotik Growth Promoter (AGP) pada Februari 2018, para peternak rakyat mulai limbung. Pasalnya, ketahanan kesehatan ayam mereka turun. Produktivitas juga turun sehingga banyak yang mengurangi populasi ayam di kandang.

"Apalagi yang isi kandangnya hanya 2.500 ekor itu. Banyak biaya untuk kesehatan ayam, biaya pakan yang makin mahal. Tapi saat itu masih mampu bertahan karena harga telur masih stabil. Nah sekarang, naik cuma dua hari, turunnya bisa hitungan berbulan-bulan. Ya banyak yang kukut. Kandangnya kosong, gak mampu bertahan," papar Suroto kepada detikjatim, Selasa (22/2/2022).

Kondisi ini makin parah ketika virus Corona mewabah. Penerapan pembatasan aktivitas warga, membuat beberapa kota besar membatasi pengiriman telur dari Blitar. Seperti kiriman ke Jakarta dan Jawa Barat.

Dalam data dari Disnakkan Pemkab Blitar, sebelum Corona mewabah ada 4.322 peternak rakyat. Namun angka itu turun menjadi 3.390 per September 2021.

"Angka itu makin turun sejak awal 2022 ini ya. Tapi kami belum ada data masuk," kata Kabid Budidaya Peternakan Disnakkan Pemkab Blitar, Indriawan Wicaksono.

Dengan berkurangnya jumlah peternak rakyat, maka jumlah populasi ayam petelur juga menurun. Masih dalam data per September 2021, Indri menyebut, populasi ayam petelur turun sampai 6.283.562 ekor. Karena sebelum pandemi, ada 26.820.000 ayam petelur yang dipelihara para peternak. Namun turun menjadi 20.536.438 ekor.

"Namun ada beberapa kandang close house baru. Yang jelas populasinya di atas 10.000 itu. Tapi kami tidak pegang datanya. Silahkan ditanyakan di dinas perizinan," imbuhnya.

Indri mengakui, ada penurunan jumlah produksi ketika jumlah populasi ayam petelur turun. Semula Kabupaten Blitar mampu menghasilkan telur 12.000 ton per hari. Angka ini turun menjadi sekitar 8.000 ton per hari.

Turunnya produksi telur tak berlangsung lama. Karena muncul kandang close house baru di beberapa lokasi. Seperti di Kecamatan Panggungrejo, Kademangan dan Talun.

"Iya yang terbaru di Bumiayu, Kecamatan Panggungrejo. Itu daftarnya perizinan online. Sudah ada NIB-nya tapi harus migrasi. Dari bisnis risiko rendah menuju bisnis dengan risiko tinggi. Mereka juga harus mengurus amdal sepertinya," kata Kasi Layanan Perizinan DPMPTS Pemkab Blitar, Sunarko.

Koordinator peternak rakyat Blitar, Yesi Yuni Astuti menilai, fakta ini menunjukkan, di Blitar ini yang kaya makin nambah populasi dan lokasi. Sementara yang menengah ke bawah makin tergilas habis.

"Harusnya Pemkab Blitar melindungi yang UMKM, karena kalau tidak dilindungi, ya tentu gak mampu bersaing," pungkasnya.



Simak Video "Harga Pakan Melejit, Peternak Ayam Petelur di Parepare Menjerit"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/sun)