Hijaunya daun semanggi pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Surabaya. Diolah menjadi pecel dengan siraman bumbu khas, tanaman sederhana ini menjelma hidangan yang melegenda. Namun, waktu tak selalu berpihak pada warisan rasa. Di tengah popularitas lontong balap, tahu tek, dan rujak cingur, pecel semanggi justru kian terpinggirkan. Belum selesai menghadapi tantangan regenerasi peminat, para petaninya kini harus berhadapan dengan cuaca ekstrem yang mengancam hasil panen. Dari ladang yang kian sulit diprediksi, muncul ikhtiar baru mengubah semanggi menjadi produk instan dan camilan agar warisan kuliner ini tak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Kartini (52) baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya. Siang itu, sejumlah petani semanggi mulai beranjak pulang dari lahan garapan mereka. Namun, Kartini bukan salah satu di antara mereka. Perempuan itu tak memiliki lahan untuk menanam semanggi, sebagaimana sebagian warga lain di kampungnya.
Meski bukan petani, nama Kartini dan suaminya cukup lekat dengan kehidupan Kampung Semanggi. Pasangan ini menjadi salah satu rujukan bagi siapapun yang ingin mengenal lebih dekat tanaman yang menjadi identitas kuliner khas Surabaya tersebut. Mulai dari mahasiswa, peneliti, wisatawan lokal hingga mancanegara, bahkan pejabat Pemerintah Kota Surabaya, kerap diarahkan warga untuk menemui mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan tanpa alasan. Kampung Semanggi di Surabaya Barat bukan sekadar permukiman yang kebetulan memiliki nama serupa dengan tanaman air itu. Di kampung ini, semanggi tumbuh menjadi bagian dari denyut kehidupan warga.
Mereka merawatnya sejak proses penanaman, memanen, mengolahnya menjadi hidangan pecel semanggi, hingga menjajakannya kepada para pembeli. Tak berlebihan jika kampung ini disebut sebagai salah satu sentra semanggi di Kota Pahlawan. Sebab, banyak penjual pecel semanggi yang selama ini berkeliling Surabaya berasal dari kampung tersebut.
"Jadi orang-orang disini itu punya cita-cita, kalau kampung semanggi yang ada di Kendung ini jadi kampung wisata yang edukatif, juga biar bisa melestarikan budaya Surabaya sendiri, kalau kampungnya semakin terkenal, kan makin banyak wisatawan yang datang, nanti UMKM bakal naik," tutur Kartini pada Selasa (13/10/2026).
Kartini, pengusaha UMKM sekaligus istri ketua paguyuban kampung Semanggi. Foto: Fadli Yusuf Aprinanta |
Dahulu, penjual semanggi yang ada di kampung ini masih berjualan dengan cara digendong layaknya tukang jamu tradisional, yakni wadah anyaman yang berisi berbagai bumbu, sayur semanggi, dan kerupuk ditaruh di dalamnya dan ditimang dengan kain batik di punggung.
"Dulu ya digendong, jalan kaki keliling-kelilng kampung. Ada juga yang sepedaan, terus ada juga yang naik motor, dikasih kayak rombong gitu di belakangnya," Kenangnya.
Bahkan, sampai saat ini ada 2 teman Kartini yang masih menggunakan cara dagang semanggi seperti itu di daerah Mulyorejo Surabaya Timur sekitar kampus ITS. Di Kampung Semanggi sendiri, penjual semangginya sekarang mempunyai lapak di Jalan Bukit Palma Citraland, mereka berjualan dengan jarak yang hampir berjejer.
Baca juga: Makanan Khas Jatim dengan Bumbu Kacang Lezat |
Tapi semenjak itu, menurut Kartini pihak pengembang kawasan perumahan itu kemudian melihat keberadaan Kampung Semanggi dan para penjualnya turut membantu orang mengenali lokasi Citraland dan Bukit Palma. Kampung Semanggi pun menjadi penanda patokan lokasi bagi orang-orang yang hendak menuju kawasan tersebut. Maka penjual semanggi di area Bukit Palma pun diberi ruang.
Di Bawah Panas, Di Tengah Hujan
Tepat di sebelah utara Kampung Semanggi, petak lahan-lahan semanggi akan terlihat dengan jelas bak hamparan sawah. Petani semanggi di kampung ini tidak hanya dilakoni oleh laki-laki, perempuan atau ibu-ibu lokal pun menapakkan kakinya di lahan semanggi yang basah.
Peta wisata Kampung Semanggi, menunjukan lokasi lahan semanggi hingga spot edukasi. Foto: Diky Kurniawan Arief |
Kartini membenarkan apa yang dikatakan petani semanggi itu. Lahan pertanian semanggi menurutnya sensitif terhadap volume air, sebab jika musim panas tiba, air yang seharusnya menggenangi semanggi akan menyusut kering dan berpotensi gagal panen. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, air hujan yang deras akan menggenangi lahan terlalu tinggi.
Tanaman semanggi atau nama ilmiahnya disebut sebagai Marsilea crenata memang tanaman air, tapi volume air yang berlebih juga membuat perkembangan semanngi tak maksimal. Belum lagi, krisis iklim juga membuat pola musim tidak beraturan, terkadang musim panas akan terasa lebih lama, dan musim hujan jadi mundur. Begitu pula sebaliknya.
Terkait hal ini, detikJatim menghubungi Ariesta Sulistyo Asih, dosen teknik lingkungan di UPN Veteran Jawa Timur. Dengan maksud memperoleh penjelasan ilmiah sekaligus menjembatani persoalan yang dihadapi petani dengan perspektif ahli lingkungan.
"Genangan yang terlalu tinggi atau terlalu lama dapat menurunkan ketersediaan oksigen di zona perakaran dan mengubah kondisi kimia tanah, sehingga penyerapan unsur hara menjadi terganggu. Jadi, faktor pentingnya bukan hanya banyak atau sedikitnya air, melainkan kestabilan tinggi muka air, lama genangan, dan kualitas air yang diterima tanaman," jelas Ariesta, Selasa (20/10/2026).
Ariesta juga menjelaskan serta menanggapi pertanyaan petani, tentang mengapa semanggi tumbuh liar itu rasanya justru lebih manis ketimbang semanggi yang dibudidakayan para petani di lahan. Menurut Ariesta, Kualitas dan rasa semanggi dapat dipengaruhi oleh kondisi tanah atau sedimen, kualitas air, ketersediaan unsur hara, intensitas cahaya, suhu, umur tanaman, serta tingkat stres lingkungan.
"Perbedaan rasa antara semanggi liar dan semanggi budidaya sangat mungkin terjadi karena kondisi mikrohabitatnya berbeda. Secara fisiologis, lingkungan tumbuh memengaruhi fotosintesis dan metabolisme tanaman, termasuk pembentukan gula, mineral, dan senyawa metabolit yang berkontribusi terhadap rasa," ungkapnya.
Dosen teknik lingkungan itu juga memberi saran kepada para petani semanggi agar produktivitas meningkat meskipun dilanda krisis iklim El Nino dan semacamnya. Yakni dengan cara memperbaiki sistem drainase, sedimentasi saluran, dan pengelolaan irigasi juga perlu dievaluasi.
Wajah Baru Pecel Semanggi
Pecel Semanggi tradisional yang ada di Kampung Semanggi Surabaya. Foto: Diky Kurniawan Arief |
Bak bara pejuang kombatan Kota Pahlawan yang tak kunjung padam. Krisis iklim yang membuat lahan pertanian semanggi naik turun kualitas panennya tak membuat pelaku usaha UMKM pecel semanggi berkecil hati. Berbagai upaya telah dilakoni para pedagang UMKM untuk keluar dari jeratan masalah ini, salah satunya dengan membuat produk Semanggi instan dan aneka camilan dari semanggi.
"Kalau pecel semanggi biasa kan harus diganti atau beli bahan baru lagi kalau melewati beberapa hari buat dijual lagi, tapi kalau semanggi instan ini tahan lama, soalnya bumbu dan bahannya itu kering. Cara buatnya itu kayak bikin mie instan, tinggal seduh air panas, juga ini itu masa kedaluwarsanya bisa sampai 4 bulan," ujar ibu dua anak itu.
Pecel semanggi instan dan aneka produk olahan semanggi lain produk Kampung Semanggi. Foto: Fadli Yusuf Aprinanta |
Kartini kemudian mengungkapkan, jika produk semanggi instan ini sebenarnya masa kedaluwarsanya 6 bulan, namun karena aturan BPOM, ia buat lebih pendek jadi 4 bulan. Berbeda dengan stik semanggi dan kue kering semanggi yang bisa tahan hingga 1 tahun. Dan ini semua ia buat di rumahnya secara organik tanpa bahan pengawet sintesis.
"Sejak 2023 udah dilakukan, dijual di toko oren sama toko ijo juga. Kalo yang semanggi instan ini harganya Rp 65.000 per kotak, itu buat 3 porsi makan. Pernah juga saya dapat orderan kirim ke Australia, sampai ke Prancis juga pernah, jadi ceritanya ada pelanggan yang anaknya kuliah di Prancis ngidam semanggi, sama orang tuanya dikirimkan langsung," kenangnya.
Selain Prancis dan Australia, ia mengaku pernah mendapatkan pesanan banyak ke Kota Roma, Italia. Kala itu ada kenalannya seorang biarawati yang ingin sedang berziarah ke Vatikan, dan biarawati itu ingin mencicipi semanggi khas Surabaya, maka dikirimlah semanggi instan itu ke Vatikan.
Kartini juga mengaku jika para diaspora, TKI, hingga mahasiswa yang berkuliah di luar negeri itu justru yang biasanya order dengan kuantitas yang banyak. Biasanya selalu lebih dari 5 box, dan hasil dari penjualan itu diputar lagi untuk membeli bahan baku dan membantu biaya hidupnya dan kedua anaknya.
Agar Semanggi Tak Tinggal Nama
Di balik upaya membawa pecel semanggi mengikuti perkembangan zaman, ada persoalan lama yang belum selesai. Kartini mengingat masa ketika pedagang semanggi kerap diusir Satpol PP karena berjualan di pinggir jalan ketika berkiling. Dan menurutnya, beberapa temannya yang berjualan di daerah Surabaya Timur masih dihadapkan dengan hal itu.
Ia mewakili kesah pedagang lain yang masih berkeliling, mereka berharap kepada pihak Satpol PP atau Pemkot Surabaya agar setidaknya memberikan ruang berjualan yang aman bagi pedagang semanggi keliling tanpa harus terus dihantui pengusiran ketika berhenti sejenak. Dengan begitu, mereka tetap bisa mencari nafkah sekaligus menjaga kuliner khas Surabaya agar terus dikenal lintas generasi.
Selain itu, tantangan lain muncul ketika lahan budidaya semakin terdesak oleh perkembangan permukiman kampung dan perumahan. Kartini berharap Pemerintah Kota Surabaya membuat peraturan khusus untuk melindungi Kampung Semanggi, terutama lahan budidaya agar tidak terus menyusut.
Meskipun begitu, Kampung Semanggi bukan tanpa perhatian. Pemerintah Kota Surabaya beserta sejumlah dinas terkait, berbagai perguruan tinggi, hingga perusahaan swasta telah turut memberi atensi terhadap pengembangan kampung dan produk olahan semanggi.
"Sebelumnya ada dari Dinas Pertanian itu kita para warga diajari bikin bolu dari semanggi, terus dari Badan Pertahanan Nasional itu kita diajarin bikin donat, dari semanggi juga. Terus ada juga dari pihak Astra (PT Asra International) diajarin bikin soft cookies sama bakpia," ungkapnya.
Bahkan, warga kampung semanggi sempat menjuarai lomba Inotek yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jatim, dengan bantuan pembangunan gedung baru serbaguna di dekat lapangan sebagai hadiahnya.
"Kita berekspektasi maunya itu kampung ini akan menjadi kampung wisata edukasi kuliner juga. Kemarin kita juga ada pelatihan dari mahasiswa yang menerima beasiswa dari Djarum. Diajari untuk mengelola kampung, tentang bagaimana tujuan kita menjadi kampung wisata edukasi dan kuliner. Terus untuk dari Kampus Widya Mandala kita dibantu untuk cek kandungan dari semanggi instan juga," tandasnya.
Upaya mempertahankan semanggi juga diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro di Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkompumdag) Kota Surabaya T. L Juwita. Menurutnya, Dinkompumdag telah memberi atensi banyak di Kampung Semanggi.
"Kami sudah memberikan perhatian bahkan sejak zaman Bu Risma dulu, termasuk membantu pelaku UMKM dalam pengurusan perizinan PIRT agar produk yang dihasilkan memiliki legalitas. Selain itu, kami juga mendorong pemasaran produk melalui website Peken Surabaya sehingga produk olahan semanggi bisa lebih dikenal masyarakat dan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas," katanya pada Jumat (30/10/2026).
Ia menegaskan, pihaknya tak akan mengabaikan perihal masalah iklim yang berimbas pada perairan lahan. Hal ini butuh koordinasi dengan dinas lainnya.
"Kalau berkaitan dengan ketersediaan air dan irigasi lahan, perlu ada koordinasi dengan dinas yang menangani sumber daya air maupun pengairan dulu. Tapi tetap, persoalan yang dihadapi petani semanggi ini tetap menjadi perhatian dan akan kami komunikasikan dengan perangkat daerah terkait agar bisa dicari jalan keluarnya, sebab ini kampung binaan kami," tuturnya.
Dinkompumdag mengaku juga mendata penerima manfaat dan program-program yang telah diberikan ke Kampung Semanggi, sehingga pemberdayaan atau pertumbuhan UMKM juga diawasi oleh mereka, namun Dinkompumdag belum bisa mempublikasikan data itu dengan alasan teknis administratif.
Namun, saat data resmi belum bisa diakses, penelitian ilmiah bisa jadi pembanding. Studi Ahmad Lutfi Al-ansori dkk yang berjudul Analisis Tingkat Pendapatan Masyarakat Penjual Makanan Tradisional Pecel Semanggi (2019), menyasar 37 pedagang semanggi yang mayoritas perempuan di Kampung Semanggi mencatat omset rata-rata sekitar Rp 11,4 juta per bulan, dengan laba sekitar Rp 3,98 juta. Saat itu, seporsi pecel semanggi dijual sekitar Rp 8.000.
Enam tahun kemudian, studi Aulia Riska Ayu Assami dkk yang berjudul Analisis Business Model Canvas Pada Pengembangan Usaha Komunitas Kampung Semanggi Kota Surabaya (2025) mencatat harga Rp 10.000 per porsi di dalam kampung, Rp 12.000 di luar kampung, dan hingga Rp 15.000 di kawasan wisata.
Harga di dalam kampung naik sekitar 25%, atau sekitar 3,8% per tahun, belum dikurangi inflasi. Studi ini juga mencatat produk baru seperti pecel instan Rp 65.000 untuk tiga porsi, sama seperti yang disebut Kartini.
Meski begitu, secara jujur angka-angka itu menunjukkan bahwa berjualan semanggi belum tentu dapat dijadikan penghasilan pokok, melainkan penghasilan tambahan. Laba pada studi Ahmad Luthfi pada 2019 pun belum menghitung tenaga si penjual sendiri. Tetapi bagi banyak keluarga, hasilnya tetap berarti. Seluruh responden studi 2019 adalah perempuan yang berjualan untuk membantu ekonomi keluarga, dan di kampung ini banyak penjual adalah ibu rumah tangga.
Penghasilan dari semanggi bisa menjadi tambahan di samping gaji pokok suami, untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak. Dengan harga yang naik dan produk olahan yang mulai dikenal sampai luar negeri, tambahan itu masih punya peluang tumbuh, asal panen tetap terjaga dan pembeli terus datang.
Dari semua cerita itu, Kampung Semanggi memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari industri besar atau investasi berskala luas. Dari petak-petak lahan yang dikelola petani, hasil panen yang menghidupi pedagang lain, hingga inovasi produk olahan yang menjangkau konsumen lintas negara, warga membangun roda ekonominya sendiri.
Setiap orang memiliki peran dalam rantai usaha tersebut, baik sebagai petani, pengolah, maupun penjual. Meski masih dihadapkan pada persoalan perubahan iklim dan keterbatasan lahan, semanggi tetap menjadi sumber penghidupan yang terus mereka pertahankan. Di Kampung Semanggi, ekonomi tumbuh bukan semata karena potensi kulinernya, melainkan karena kemauan warganya untuk mengolah potensi lokal menjadi peluang usaha yang dapat menopang kehidupan bersama.




