Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang di Kota Malang membawa dampak kepulan asap pekat ke sejumlah wilayah.
Sebaran asap kebakaran hingga menjangkau kawasan pemukiman penduduk di Lowokwaru, Kota Malang Kecamatan Dau dan Karangploso Kabupaten Malang hingga Kota Batu.
Dosen keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Titik Agustiyaningsih mengingatkan, masyarakat akan bahaya kandungan toksik dalam asap kebakaran sampah domestik, organik, dan plastik dari TPA Supiturang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Asap pembakaran sampah mengandung partikular halus PM2.5 dan PM10 yang mampu menembus jauh hingga ke kantung udara paru-paru," ujar Titik kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Selain itu, lanjut Titik, dampak asap kebakaran TPA Supiturang juga terdapat gas karbon monoksida (CO) yang menghambat distribusi oksigen dalam darah.
"Serta zat karsinogenik seperti Sulfur Dioksida, Nitrogen Dioksida, Dioksin, dan Furan hasil pembakaran plastik yang memicu kanker dan melemahkan imun," sambung Titik.
Menurut Titik, paparan zat tersebut dapat memicu dampak kesehatan jangka pendek berupa iritasi mata, batuk, pusing, kelelahan hingga serangan asma akut dan perburukan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Dalam jangka panjang, warga berisiko mengalami penurunan fungsi paru permanen serta penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke.
Titik juga menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi kelompok rentan. Pada balita, paparan asap berisiko menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat dan menghambat tumbuh kembang paru.
Untuk ibu hamil, penurunan suplai oksigen dapat memicu kelahiran prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Sementara pada lansia, beban kerja organ yang menurun meningkatkan risiko gagal napas dan gagal jantung.
Sebagai langkah perlindungan di dalam rumah, masyarakat diimbau menutup rapat pintu dan jendela, menutup celah ventilasi dengan kain basah, menggunakan air purifier, serta mengatur pendingin ruangan (AC) ke mode sirkulasi internal.
"Untuk aktivitas di luar ruangan, hindari masker kain atau masker medis tipis karena tidak efektif menyaring partikel mikro," katanya.
Titik menyarankan agar masyarakat menggunakan masker berstandar N95, KN95, atau KF94.
Sementara bagi pekerja lapangan seperti pengemudi ojek daring, wajib mengenakan masker tersebut secara rapat, memakai kacamata pelindung atau menutup visor helm, serta rutin minum air putih untuk menjaga hidrasi dan detoksifikasi alami.
"Jika mengalami iritasi mata ringan, warga disarankan membilas mata dengan air mengalir atau cairan saline steril tanpa menguceknya," tegasnya.
Sementara untuk keluhan tenggorokan gatal dapat diredakan dengan memperbanyak minum air hangat dan berkumur air garam hangat.
Kendati demikian, Titik meminta warga segera menuju puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila muncul tanda bahaya seperti sesak napas berat, nyeri dada, batuk berdahak gelap atau berdarah, pusing ekstrem, hingga bibir dan kuku tampak kebiruan (sianosis).
Kewaspadaan khusus juga diperlukan bagi anak-anak dan lansia yang kerap terlambat mengeluhkan gejala.
Pada balita, tanda darurat ditunjukkan dengan tarikan dinding dada yang cekung saat bernapas, pernapasan cuping hidung yang cepat, serta kondisi anak yang sangat lemas atau menolak menyusu.
Sedangkan pada lansia, perhatikan gejala napas yang sangat cepat saat istirahat, penurunan nafsu makan drastis, hingga perubahan status mental mendadak seperti linglung atau mengantuk berlebihan.
Melalui panduan ini, ia berharap masyarakat Malang Raya dapat tetap tenang namun sigap dalam melindungi kesehatan keluarga di tengah kepulan asap.
"Kami juga berharap penanganan kebakaran di TPA Supiturang segera tuntas, sehingga kualitas udara kembali membaik dan warga dapat beraktivitas dengan aman seperti sedia kala," pungkasnya.
Sebelumnya Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin mengaku telah menginstruksi puskesmas dan tenaga medis untuk melakukan jemput bola terhadap masyarakat yang terdampak asap kebakaran TPA Supiturang.
"Puskesmas sudah siap siaga, jadi kalau ada warga masyarakat yang terdampak langsung bisa dilakukan penanganan," ujar Ali terpisah.
Sejumlah titik panas atau hotspot masih ditemukan di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang hingga hari ketiga kebakaran. Pemadaman pun dilakukan dengan sistem injeksi.
Kepala UPT Damkar Kota Malang Pandu Rizki Darmawan menyampaikan, kepulan asap yang masih terlihat pada hari ketiga kebakaran disebabkan adanya titik api di zona new landfile TPA Supiturang.
"Kondisi di zona new landfile sisi timur minim ditemukan titik api. Hanya saja masih ditemukan adanya titik panas ditengarai dari adanya beberapa titik kepulan asap," ungkap Pandu.
