Unggahan yang menyebut keluarga pelaku perundungan bocah difabel, Zulkarnain Abdil Aziz (10) hingga tewas yang problemamtik dan punya dekengan oknum TNI viral di media sosial. Kabar tersebut langsung dibantah oleh Nur, istri Ketua RT 12 Tambak Medokan Ayu IX, Surabaya.
"K ini anak kuli dan ibunya tidak bekerja, Bekingan TNI itu salah, bapaknya K pernah ikut kerja membangun rumah pensiunan TNI, tidak ada ikut campur," kata Nur kepada detikJatim, Kamis (22/10/2026).
Tak hanya itu, Nur juga menepis bahwa salah satu pelaku berinisial F yang menjadi saksi merupakan anak asuhnya, melainkan hanya memberikan bantuan beasiswa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus F ini bukan anak asuh, saya hanya memberikan beasiswa untuk kakak F dari lurah, kami hanya membantu memberikan bantuan," terang Nur.
Isu keluarga pelaku F mendapat bekingan oknum TNI setelah warganet mengunggah kabar tersebut di akun Threads.
"FYI keluarga F dan K iki ancen problematik gaes. Dulu omnya F pernah maling besi (dee asli madura) terus kalo ada yg mau laporin diancem dibacok. Ini valid. Pokoknya mereka dari Gen nya dah Setan lah banyak banget kasusnya," tulis akun @rabbit.854xxx dalam unggahan yang dikutip detikJatim, Senin (19/10/2026).
Unggahan itu kemudian mendapat tanggapan dari warganet lain yang mengaku mengetahui persoalan keluarga tersebut. Salah satunya menyebut, kakak dari anak berinisial F pernah bermasalah dengan keluarganya dan diduga mengancam akan melakukan kekerasan ketika hendak dilaporkan ke polisi.
Dalam kolom komentar muncul pula dugaan bahwa keluarga tersebut merasa memiliki koneksi dengan anggota TNI.
"Kalau gasalah dia ada dekengan orang TNI kak," tulis akun @xynbixxx dalam komentar.
Sebelumnya, Zulkarnain Abdil Aziz (10), bocah penyandang disabilitas di Surabaya ditemukan dalam kondisi membiru dengan tali sepatu menjerat lehernya di depan rumah pada 12 September 2026 pukul 09.20 WIB.
Ayah korban, Selaras Abdul, menduga anaknya menjadi korban perundungan hingga meninggal dunia oleh dua anak tetangganya berusia 10 dan 8 tahun.
Zulkarnain ditemukan dalam kondisi membiru dan terjatuh dari kursi rodanya, ketika ibunya, Nurul Fadilah, baru pulang berjualan dari pasar. Saat itu, ia mendapati anak keduanya itu dalam kondisi mengenaskan di depan rumah mereka di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya.
"Saya di dalam, langsung kaget. Saya buka pintu, langsung saya ke depan sana," kata Laras, sapaan Selaras Abdul kepada detikJatim, Sabtu (17/10/2026).
Saat menghampiri anaknya, Laras mendapati tali sepatu menjerat leher Zulkarnain, sehingga ia segera melepaskan jeratan tersebut dan memeriksa kondisi korban yang saat itu masih bernapas meski wajahnya telah membiru.
Laras kemudian meminta bantuan warga untuk membawa anaknya ke RSUD Eka Candrarini, tetapi nyawa Zulkarnain tidak tertolong dan ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Merasa penasaran dengan penyebab kematian anaknya, Laras memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di jalan dan mendapati dua anak tetangganya berinisial K (10) dan F (8) memasuki gang menuju rumahnya pada pagi hari sebelum korban ditemukan dalam kondisi kritis.
Laras mengatakan kedua anak tersebut merupakan warga sekitar rumahnya. Salah satunya tinggal satu gang dan lainnya berada di gang sebelah, sehingga ia menduga keduanya mengetahui kejadian yang menimpa Zulkarnain.
