8 Daerah di Jawa Timur yang Dijuluki Kota Santri

- detikJatim
Kamis, 22 Okt 2026 09:00 WIB
Ilustrasi Kota Santri Jawa Timur. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Jawa Timur dikenal memiliki tradisi pendidikan pesantren yang kuat. Di berbagai daerah, pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga berperan dalam kehidupan sosial, pelestarian tradisi Islam, serta lahirnya tokoh-tokoh ulama.

Tradisi tersebut membuat sejumlah daerah di Jawa Timur lekat dengan julukan Kota Santri. Julukan ini tidak selalu berasal dari penetapan resmi, melainkan berkembang karena sejarah pesantren, peran ulama, dan kuatnya kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Delapan daerah yang dikenal dengan tradisi pesantrennya antara lain Jombang, Pasuruan, Gresik, Tuban, Kediri, Ponorogo, Situbondo, dan Jember. Masing-masing memiliki sejarah dan ciri khas tersendiri dalam perkembangan pendidikan Islam di Jawa Timur.

Mengapa Jawa Timur Dikenal sebagai Wilayah dengan Tradisi Pesantren yang Kuat?

Keberadaan pondok pesantren menjadi salah satu ciri penting kehidupan pendidikan Islam di Jawa Timur. Pesantren berkembang di berbagai wilayah, mulai dari kawasan perkotaan hingga pedesaan.

Lembaga-lembaga ini menyelenggarakan pembelajaran agama melalui beragam pendekatan, mulai dari kajian kitab kuning dan pendidikan salaf hingga sistem pendidikan modern yang menggabungkan pelajaran agama dengan pendidikan formal.

Menurut data Kementerian Agama (Kemenag), Jawa Timur memiliki 4.692 pondok pesantren dengan total 654.404 santri, atau setara dengan 16,93 persen dari jumlah pesantren di Indonesia. Pemprov Jawa Timur menyebut provinsi ini memiliki lebih dari 7.300 pondok pesantren.

Di luar jumlah pesantren, julukan Kota Santri juga berkaitan dengan sejarah dan identitas suatu daerah. Sejumlah pesantren telah berdiri selama puluhan hingga ratusan tahun.

Sementara itu, daerah lain dikenal melalui peran tokoh penyebar Islam, tradisi ziarah, serta jaringan pendidikan pesantren yang menarik santri dari berbagai wilayah. Lantas, daerah mana saja yang dikenal dengan julukan Kota Santri di Jawa Timur?

1. Jombang

Jombang menjadi salah satu daerah yang paling dikenal dengan julukan Kota Santri. Kabupaten ini memiliki sejumlah pesantren besar yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, seperti Pondok Pesantren Tebuireng, Darul Ulum, Bahrul Ulum Tambakberas, dan Mambaul Ma'arif Denanyar.

Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur (Foto: Dokumentasi PBNU)

Salah satu pesantren yang memiliki peran penting dalam sejarah tersebut adalah Pondok Pesantren Tebuireng. Pesantren ini didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 1899, dan berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh.

KH Hasyim Asy'ari juga dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam yang memiliki peran besar dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.

Dari lingkungan pendidikan dan pergerakan Islam di Jombang, lahir sejumlah tokoh yang berpengaruh di tingkat nasional. Di antaranya, KH Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, serta Nurcholish Madjid.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa pesantren di Jombang tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang tumbuhnya pemikiran sosial, pendidikan, dan kebangsaan.

Keberadaan pesantren dengan beragam sistem pembelajaran tersebut memperkuat identitas Jombang sebagai Kota Santri. Tradisi pendidikan Islam yang terus berkembang menjadikan daerah ini dikenal sebagai salah satu tujuan belajar agama bagi santri dari berbagai wilayah.

2. Pasuruan

Pasuruan juga dikenal sebagai salah satu daerah dengan tradisi pesantren yang kuat. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang paling dikenal dari wilayah ini adalah Pondok Pesantren Sidogiri, yang berada di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: dok. PBNU)

Pesantren Sidogiri dikenal memiliki sejarah panjang. Lembaga ini didirikan Sayyid Sulaiman pada 1745 M atau 1158 H. Selama perkembangannya, Sidogiri mempertahankan tradisi pendidikan Islam bercorak salaf dengan fokus pada pembelajaran akidah, fikih, akhlak, dan kitab-kitab klasik.

Sistem pembelajaran di pesantren salaf menempatkan penguasaan ilmu agama sebagai bagian penting dari pendidikan santri. Kajian kitab kuning, bimbingan kiai, dan pembiasaan adab menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung secara bertahap.

Keberadaan Sidogiri membuat Pasuruan dikenal sebagai salah satu tujuan pendidikan pesantren bagi santri dari berbagai daerah. Tradisi pendidikan yang telah berlangsung lama tersebut menjadi salah satu alasan wilayah ini kerap disebut sebagai Kota Santri.

3. Gresik

Gresik memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa. Daerah ini dikenal melalui jejak dua tokoh penting dalam sejarah Islam di Nusantara, yakni Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Makam kedua tokoh tersebut berada di Kabupaten Gresik, dan menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah. Keberadaan situs sejarah tersebut memperlihatkan peran Gresik dalam perkembangan Islam, khususnya melalui jaringan dakwah dan pendidikan keagamaan pada masa lalu.

Pondok Pesantren Modern Sunanul Muhtadin, Kertosono, Sidayu, Gresik (Foto: Dok. MPR)

Selain dikenal sebagai Kota Wali, Gresik juga memiliki lingkungan pendidikan Islam yang berkembang melalui pondok pesantren dan madrasah. Salah satu pesantren yang dikenal di wilayah ini adalah Pondok Pesantren Qomaruddin. Ada pula lembaga pendidikan Islam lain yang melayani kebutuhan belajar di berbagai jenjang.

Perkembangan pendidikan pesantren di Gresik tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kehidupan keagamaan masyarakatnya. Tradisi dakwah, kegiatan keilmuan, dan keberadaan tempat ziarah membentuk karakter Gresik sebagai daerah yang memiliki warisan Islam kuat.

Dengan demikian, identitas Gresik tidak hanya berkaitan dengan julukan Kota Wali, tetapi juga dengan keberlanjutan pendidikan agama dan tradisi keislaman di tengah masyarakat.

4. Tuban

Tuban dikenal dengan julukan Bumi Wali karena memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa. Salah satu tokoh Wali Songo yang makamnya berada di wilayah ini adalah Sunan Bonang. Makamnya menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah.

Di samping warisan sejarah tersebut, Tuban memiliki sejumlah pondok pesantren yang menjadi bagian dari perkembangan pendidikan Islam di Jawa Timur. Salah satu yang paling dikenal adalah Pondok Pesantren Langitan di Kecamatan Widang.

Pondok Pesantren Langitan memiliki tradisi pendidikan salaf yang menekankan penguasaan ilmu agama dan pembelajaran kitab kuning. Tradisi tersebut menjadi salah satu ciri khas pendidikan pesantren yang diwariskan melalui hubungan pembelajaran antara kiai dan santri.

Selain Langitan, terdapat pula lembaga pendidikan pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Roudhotul Ma'rufiyah dan Daruth Tholibin, yang turut menjadi bagian dari lingkungan pendidikan Islam di Tuban.

Kombinasi antara sejarah Wali Songo, kegiatan ziarah, dan keberadaan pesantren membuat Tuban memiliki identitas keagamaan yang kuat. Karena itu, daerah ini kerap dimasukkan dalam pembahasan mengenai wilayah di Jawa Timur yang dikenal sebagai Kota Santri.

5. Kediri

Kediri menjadi salah satu tujuan pendidikan pesantren yang dikenal luas di Jawa Timur. Salah satu lembaga yang paling terkenal adalah Pondok Pesantren Lirboyo, yang didirikan pada 1910 oleh KH Abdul Karim.

Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (Foto: Andhika Dwi/detikJatim)

Lirboyo berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam bercorak salaf di Indonesia. Kajian kitab kuning menjadi bagian penting dari tradisi pendidikannya, disertai pembinaan akhlak dan kedisiplinan santri.

Selain Lirboyo, Kediri memiliki sejumlah pesantren lain, di antaranya Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dan Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean di wilayah Pare. Keberadaan pesantren-pesantren tersebut menunjukkan luasnya perkembangan pendidikan Islam di Kediri.

Setiap pesantren memiliki sejarah dan tradisi pembelajaran masing-masing. Namun, pendidikan agama dan pembentukan karakter tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan santri.

Keberadaan pesantren besar dan jaringan pendidikan tersebut menjadikan Kediri dikenal sebagai salah satu tujuan menimba ilmu agama bagi santri dari berbagai daerah di Indonesia.

6. Ponorogo

Ponorogo memiliki karakteristik pendidikan pesantren yang berbeda dari sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Kabupaten ini dikenal melalui Pondok Modern Darussalam Gontor, lembaga pendidikan Islam yang memiliki jaringan hingga tingkat internasional.

Gontor menerapkan sistem pendidikan modern yang memadukan pembelajaran agama, pendidikan umum, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta pembentukan kemandirian santri. Pendekatan ini menjadi salah satu ciri khas pendidikan pesantren di Ponorogo, yang turut memperkaya tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Pesantren Tegalsari di ponorogo (Foto: Charoline Pebrianti/ detikjatim)

Selain kampus pusat Gontor, Ponorogo memiliki lembaga pendidikan yang tergabung dalam jaringan Gontor, termasuk Gontor 2 dan Universitas Darussalam Gontor. Daerah ini juga memiliki pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Muqaddasah, Al-Mawaddah, Sulamul Huda, Arrisalah, dan Al-Khair Jenangan.

Keberadaan berbagai pesantren tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Ponorogo berkembang melalui beragam pendekatan. Selain menerapkan sistem pendidikan modern, sejumlah pesantren memiliki tradisi dan karakteristik pembelajaran masing-masing.

Di sisi lain, Ponorogo juga dikenal sebagai daerah asal kesenian Reog. Tradisi budaya dan kehidupan pesantren menjadi dua bagian yang turut membentuk identitas daerah ini, sekaligus memperkaya karakter Ponorogo di Jawa Timur.

7. Situbondo

Situbondo merupakan salah satu daerah di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, yang memiliki tradisi pendidikan pesantren kuat. Salah satu lembaga yang dikenal luas adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo di Kecamatan Banyuputih.

Pesantren ini berdiri pada 1914 dan memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pendidikan Islam. Kajian kitab kuning, pembelajaran bahasa Arab, serta pembinaan kehidupan keagamaan menjadi bagian dari tradisi pendidikannya.

Seiring perkembangannya, Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo juga menyelenggarakan pendidikan formal melalui berbagai jenjang. Dengan demikian, santri dapat mendalami ilmu agama sekaligus mengikuti pendidikan formal.

Keberadaan pesantren tersebut turut memperkuat identitas Situbondo sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Jawa Timur. Santri dari berbagai daerah datang untuk menimba ilmu, sementara pesantren juga berperan dalam pembinaan karakter dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

8. Jember

Jember memiliki tradisi pendidikan pesantren yang berkembang di berbagai wilayah, termasuk kawasan pedesaan. Keberadaan pesantren tersebut memberi masyarakat akses untuk mempelajari ilmu agama sekaligus mengikuti pendidikan yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Salah satu pesantren yang dikenal di Jember adalah Pondok Pesantren Al-Qodiri. Selain menyelenggarakan pendidikan agama, pesantren ini juga menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat yang datang untuk berziarah dan mengikuti kegiatan keagamaan.

Pondok pesantren (ponpes) Mahfilud Duror. (Foto: Yakub Mulyono./ detikjatim)

Pesantren di Jember memiliki karakteristik beragam, mulai dari kajian kitab kuning dan tradisi salaf hingga penyelenggaraan pendidikan formal serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Keberadaannya di kawasan perkotaan maupun pedesaan menunjukkan bahwa pesantren menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik dalam pendidikan agama maupun pembentukan karakter.

Selain dikenal dengan tradisi pesantrennya, Jember juga memiliki identitas budaya Pandalungan yang terbentuk dari pertemuan budaya Jawa dan Madura. Beragam tradisi tersebut turut mewarnai kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.



Simak Video "Video: Terungkap Pimpinan Ponpes di Lombok Lecehkan Santriwati Modus Mandi Tobat"

(Myesha Fatina Rachman/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork