Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memanggil Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya, Kepala UPTD Parkir, dan Kepala Bidang Pengawasan untuk meminta penjelasan sekaligus mengevaluasi pengawasan parkir di kawasan Ampel dan Blauran.
Langkah itu dilakukan setelah Eri menerima laporan mengenai dugaan pelanggaran parkir dan keberadaan juru parkir (jukir) liar di kedua kawasan tersebut. Ia mempertanyakan kinerja petugas Dishub yang berada di lapangan, tetapi dinilai tidak bertindak saat menemukan pelanggaran.
"Itu siapa anak buahmu meneng ae ngadek tok? arek-arek jogo ga se jane? ternyata ada jukir liar, kok meneng ae arek-arek nang ndi? (Itu siapa petugas yang hanya diam berdiri? Sebenarnya mereka menjaga atau tidak? Ternyata ada jukir liar, tapi petugas hanya diam. Mereka ke mana?)," kata Eri dalam video yang diunggah di akun Instagramnya @ericahyadi_.
Dalam laporan yang diterimanya, ditemukan sejumlah dugaan pelanggaran, mulai dari jukir liar yang memungut tarif parkir tunai Rp 5.000 hingga kendaraan yang diparkir dalam dua lajur. Padahal, rambu di lokasi hanya memperbolehkan parkir satu lajur.
Eri juga menyoroti keberadaan petugas Dishub di lokasi yang dinilai tidak diikuti tindakan tegas terhadap pelanggaran tersebut.
"Kok isok nang kunu onok arek dishub ngadek tapi parkire tetep lebih tekok sak jalur. Nang titik sito e onok sing jogo, tapi tetep bayar 5 ribu gak nggawe Qris, tapi tunai mlebu nang kantong (Kok bisa di lokasi tersebut ada petugas Dishub yang berjaga, tapi parkir kendaraan tetap melebihi satu lajur? Di titik lain juga ada petugas yang berjaga, tapi tetap membayar 5 ribu tunai tanpa QRIS dan uangnya masuk ke kantong)," lanjutnya.
Mengetahui hal tersebut, Eri meminta agar petugas yang tidak menjalankan tugas dengan benar dapat diganti dengan petugas yang lain. Hal ini agar kejadian tersebut tidak terulang terus menerus.
"Anak buahmu gantien kabeh, nggolek seng bener. Kalau kayak gini kan capek kita (Ganti semua petugasnya, cari orang yang benar-benar bisa bekerja. Kalau kondisinya seperti ini, kita juga lelah)," ungkapnya.
Ia juga menyarankan agar posisi tersebut digantikan oleh warga Surabaya. Menurutnya, warga setempat juga membutuhkan pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk ikut menjaga ketertiban Kota Surabaya.
Eri juga menegaskan bahwa kejadian tersebut sebagai catatan terakhir bagi Dishub dan memastikan pelanggaran serupa tidak kembali terjadi.
"Gantien arek surabaya, arek surabaya butuh kerjaan yo an, arek Surabaya isok jogo Surabaya, pilihen. Iki gae catatanmu terakhir. Kamu mampu gak melu? nek gak mampu ya, Wis (Ganti dengan warga Surabaya. Warga Surabaya juga butuh pekerjaan, dan mereka bisa jaga Surabaya. Silakan pilih. Ini buat catatan terakhirmu. Kamu mampu gak ikut? Kalai gak mampu ya udah)," pungkasnya.
Simak Video "Video: Sosialisasi Penerapan Parkir Digital di Surabaya Berujung Ricuh"
(auh/abq)