Kasus Heatstroke di Surabaya Meningkat Drastis!

Kasus Heatstroke di Surabaya Meningkat Drastis!

Esti Widiyana - detikJatim
Selasa, 13 Okt 2026 16:45 WIB
Passersby take a break under a cooling mist as the Japanese government issued a heatstroke alert in Tokyo and other prefectures, in Tokyo, Japan July 9, 2024. REUTERS/Issei Kato
Ilustrasi panas ekstrim (Foto: REUTERS/Issei Kato)
Surabaya -

Kasus heatstroke di Surabaya meningkat di tengah cuaca panas yang mencapai 35-37 derajat Celsius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya mencatat ada 10 kasus heatstroke selama Januari-September 2026, meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya, pada 2024 tercatat satu kasus heatstroke. Jumlahnya meningkat menjadi tiga kasus pada 2025, kemudian mencapai 10 kasus hingga September 2026.

Selain heatstroke, cuaca panas juga memicu gangguan kesehatan lain, salah satunya dehidrasi. Hingga September 2026, Dinkes Surabaya mencatat 141 kasus dehidrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinkes Surabaya dr Billy Daniel Messakh mengatakan, cuaca panas ekstrem dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi masyarakat yang terpapar suhu tinggi dalam waktu lama.

"Dampak yang dapat dirasakan antara lain dehidrasi, kelelahan, pusing, sakit kepala, lemas, kram otot, hingga gangguan akibat panas. Pada kondisi yang lebih berat, paparan panas dapat menyebabkan heat exhaustion bahkan heatstroke yang membutuhkan penanganan segera," kata dr Billy, Selasa (13/10/2026).

ADVERTISEMENT

dr Billy menjelaskan, secara umum, terdapat peningkatan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi cuaca panas dibandingkan tahun 2025. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak perlu panik, karena sebagian besar keluhan dapat dicegah dengan menjaga kecukupan cairan, mengurangi paparan panas berlebihan, dan menerapkan pola aktivitas yang lebih aman.

"Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain dehidrasi, kelelahan akibat panas, pusing, sakit kepala, lemas, dan keluhan kesehatan lainnya yang dapat dipicu atau diperberat oleh paparan suhu tinggi," jelasnya.

Ciri-ciri orang yang mengalami dehidrasi dan mudah dikenali, di antaranya rasa haus berlebihan, mulut dan bibir kering, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, serta buang air kecil yang lebih sedikit dan berwarna lebih pekat.

"Jika disertai kebingungan, penurunan kesadaran, tubuh sangat panas, atau kondisi semakin memburuk, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat merupakan tanda kondisi yang lebih serius," urainya.

Lalu, kelompok usia yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bayi dan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil. Kemudian orang dengan penyakit tertentu, terutama penyakit jantung, paru, ginjal, dan penyakit kronis lainnya juga perlu waspada.

"Selain itu, pekerja atau masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan juga memiliki risiko lebih tinggi karena terpapar panas secara langsung dalam waktu yang lebih lama," ujarnya.

Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di bawah terik matahari, terutama pada waktu suhu sedang tinggi. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, cukup minum sebelum merasa haus, gunakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, gunakan pelindung seperti topi atau payung, serta manfaatkan tempat teduh untuk beristirahat.

"Yang tidak kalah penting, kenali tanda-tanda tubuh ketika mulai mengalami kelelahan atau dehidrasi. Jangan memaksakan diri dan segera beristirahat di tempat yang lebih sejuk apabila mulai merasa pusing, lemas, mual, atau tidak enak badan," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads