Kapan Bayi Boleh Diberi MPASI? Ini Usia dan Tanda Kesiapannya

Kapan Bayi Boleh Diberi MPASI? Ini Usia dan Tanda Kesiapannya

Myesha Fatina - detikJatim
Senin, 12 Okt 2026 20:30 WIB
Ilustrasi bayi 6 bulan makan MPASI.
Ilustrasi bayi 6 bulan makan MPASI. Foto: Unsplash/NHN
Surabaya -

Bayi berusia di bawah enam bulan dianjurkan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tanpa tambahan makanan maupun minuman lain. Pada periode ini, ASI dapat memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi bayi untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangannya.

Pemberian air putih, jus, bubur, atau makanan lain sebelum bayi berusia enam bulan tidak dianjurkan. Selain belum membutuhkan makanan pendamping, pemberian asupan tambahan terlalu dini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti diare, serta membuat bayi lebih jarang menyusu.

Lantas, bolehkan bayi di bawah 6 bulan diberi makanan selain ASI, dan kapan waktu yang tepat untuk mulai memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI)?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Boleh Diberi Makanan Selain ASI

Bayi di bawah usia 6 bulan sebaiknya hanya diberikan ASI. Prinsip ini dikenal sebagai ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, teh, jus, dan bubur, kecuali obat-obatan tertentu dalam bentuk sirup sesuai kebutuhan medis.

Pada 6 bulan pertama kehidupan, ASI mengandung zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang. Karena itu, bayi belum memerlukan makanan tambahan selama kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi melalui ASI.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari laman UNICEF, bayi berusia di bawah 6 bulan tidak membutuhkan makanan atau cairan lain selain ASI. Pemberian makanan padat sebaiknya dimulai ketika bayi berusia 6 bulan, saat kebutuhan energi dan nutrisinya mulai meningkat.

Pemberian makanan atau minuman tambahan sebelum waktunya juga dapat meningkatkan risiko diare. Kondisi tersebut bisa membuat bayi kehilangan cairan dan mengalami gangguan pertumbuhan jika tidak ditangani dengan tepat.

Selain itu, bayi yang diberikan air putih atau cairan lain bisa merasa kenyang sehingga frekuensi menyusunya berkurang. Jika bayi lebih jarang menyusu produksi ASI ibu juga berisiko menurun.

Mengapa ASI Eksklusif Penting untuk Bayi?

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, ASI merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. Pemberian ASI eksklusif memiliki sejumlah manfaat, antara lain sebagai berikut.

1. Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Bayi

ASI mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan bayi pada awal kehidupannya. Oleh karena itu, ASI dapat menjadi satu-satunya sumber makanan bayi selama enam bulan pertama.

2. Membantu Melindungi Bayi dari Infeksi

ASI membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Sebaliknya, pemberian makanan atau minuman tambahan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan termasuk diare.

3. Mendukung Perkembangan Otak dan Mata

Nutrisi dalam ASI berperan dalam mendukung perkembangan bayi, termasuk perkembangan otak dan mata selama masa pertumbuhan awal.

4. Mendukung Kesehatan Ibu

Menyusui juga memberikan manfaat bagi kesehatan ibu. Selain itu, proses menyusui dapat memperkuat ikatan emosional atau bonding antara ibu dan bayi.

5. Mendukung Kesehatan Jangka Panjang

Pemberian ASI turut dikaitkan dengan penurunan risiko sejumlah masalah kesehatan pada masa mendatang, termasuk beberapa penyakit tidak menular.

Bagaimana Jika Bayi Terlihat Masih Lapar Sebelum Usia 6 Bulan?

Bayi yang mulai sering memasukkan tangan ke mulut, memperhatikan orang yang sedang makan, atau menunjukkan perubahan perilaku menyusu belum tentu makanan padat.

Tanda-tanda tersebut dapat menjadi bagian dari perkembangan normal bayi seiring bertambahnya usia. Perilaku itu tidak otomatis menunjukkan bahwa ASI yang diberikan tidak mencukupi.

Orang tua dianjurkan tetap memberikan ASI sesuai permintaan bayi, bukan hanya berdasarkan jadwal tertentu. Pertumbuhan bayi juga perlu dipantau secara rutin setiap bulan untuk mengetahui apakah kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

Jika bayi tampak terus lapar setelah menyusu, berat badannya tidak bertambah sesuai harapan, atau terdapat kekhawatiran mengenai kecukupan ASI, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Jangan langsung makanan padat atau minuman tambahan tanpa mempertimbangkan kondisi bayi.

Kapan Bayi Boleh Mulai Diberi MPASI?

Makanan pendamping ASI atau MPASI mulai diberikan ketika bayi berusia 6 bulan. Pada usia ini, kebutuhan energi dan nutrisi bayi meningkat sehingga ASI saja tidak lagi cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.

Mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, pemberian MPASI dilakukan bersama dengan pemberian ASI yang tetap dilanjutkan. Makanan yang diberikan perlu memiliki tekstur, jumlah, dan kandungan gizi yang sesuai dengan tahap perkembangan bayi. Beberapa tanda bayi siap menerima MPASI meliputi berikut.

  • Kepala sudah dapat ditegakkan dengan baik.
  • Dapat duduk dengan bantuan.
  • Refleks menjulurkan lidah mulai berkurang.
  • Menunjukkan ketertarikan terhadap makanan.
  • Mencoba meraih makanan dan membuka mulut ketika disodori makanan.

Sebagian besar bayi menunjukkan tanda kesiapan makan pada usia sekitar enam bulan. Tanda-tanda tersebut perlu dilihat bersama usia dan perkembangan bayi, bukan dijadikan alasan untuk memberikan MPASI terlalu dini.

Apa Makanan Pertama yang Bisa Diberikan kepada Bayi Usia 6 Bulan?

Pada awal pemberian MPASI, bayi dapat diperkenalkan dengan makanan bertekstur lembut, seperti bubur, buah yang dihaluskan, atau sayuran yang dilumatkan.

UNICEF menyarankan pemberian awal sebanyak dua hingga tiga sendok makan makanan lembut, dua kali sehari. Jumlah dan tekstur makanan kemudian disesuaikan secara bertahap dengan kemampuan makan serta kebutuhan bayi.

MPASI tidak cukup hanya berupa sumber karbohidrat. Makanan bayi juga perlu mengandung protein dan lemak sebagai sumber energi, serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Beberapa kelompok makanan yang dapat diperkenalkan sejak usia enam bulan meliputi berikut.

  • Sumber karbohidrat: nasi, kentang, dan bahan pangan lain yang diolah hingga sesuai dengan kemampuan makan bayi.
  • Sumber protein hewani: daging, ayam, telur, dan ikan yang dimasak matang serta diolah sesuai tekstur bayi.
  • Sayuran dan buah: diberikan dalam tekstur yang sesuai dengan kemampuan bayi.
  • Sumber zat besi: antara lain daging merah dan makanan lain yang sesuai dengan kebutuhan gizi bayi.

Tidak ada keharusan untuk mengenalkan sayur sebelum buah atau menunda telur dan ikan sampai usia satu tahun semata-mata untuk mencegah alergi. Jenis makanan dapat diperkenalkan secara bertahap dengan memperhatikan keamanan, tekstur, dan respons bayi.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads