Jangan Lakukan! Ini Risiko Cekoki Telur Mentah kepada Bayi

Jangan Lakukan! Ini Risiko Cekoki Telur Mentah kepada Bayi

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 12 Okt 2026 15:15 WIB
Telur Mentah Populer Dikonsumsi, Apa Halal untuk Muslim?
Ilustrasi. (Foto: Ilustrasi/Site)
Surabaya -

Viral di media sosial Bayi di Surabaya bernama Alena meninggal dunia diduga usai dicekoki neneknya telur mentah. Bayi yang berusia 28 hari itu sebelumnya sempat kritis dan menjalani perawatan intensif di RSU Dr Soetomo akibat infeksi saluran penceranaan.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), R Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio (K) menjelaskan risiko pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi.

"IDAI menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," tegas dr Piprim, Senin (12/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Risiko pertama adalah infeksi salmonella. Di mana telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis.

"Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Kedua, telur mentah bukan makanan yang sesuai untuk bayi. Selain risiko infeksi, telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang membenarkan risiko pemberiannya kepada bayi.

"Keamanan, tekstur, dan cara penyajian makanan harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan bayi," ujarnya.

Dr Piprim mengatakan bila dikonsumsi anak dengan usia yang sudah diperbolehkan makan, telur matang merupakan sumber gizi baik. Telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting bagi pertumbuhan anak.

Proses pemasakan yang tepat meningkatkan keamanan pangan serta daya cerna protein telur. Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima MPASI, dengan tekstur yang disesuaikan dengan kemampuan makan bayi.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads