SD Antawirya Islamic Javanese School di Desa Junwangi, Kecamatan Krian, Sidoarjo, menggelar kegiatan penulisan aksara Jawa di atas kain sepanjang 600 meter. Kegiatan ini ditargetkan memecahkan rekor penulisan aksara Jawa pada media kain terpanjang yang saat ini tercatat sekitar 500 meter.
Kegiatan tersebut digelar di Pendopo Giri Kedaton, Ponpes Modern Al-Amanah, Junwangi, Kecamatan Krian, Sidoarjo, pada Minggu (11/10/2026). Sebanyak 600 peserta yang merupakan siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD Antawirya Islamic Javanese School turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Setiap siswa mendapat bagian kain sepanjang sekitar satu meter untuk ditulisi aksara Jawa. Selain sebagai upaya memecahkan rekor, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembelajaran sekaligus upaya sekolah menjaga kelestarian budaya Jawa agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Kepala SD Antawirya Islamic Javanese School, Air Langga Budi Prasetya, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar pemecahan rekor.
"Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi SD Antawirya Islamic Center. Kami menyelenggarakan momen penulisan aksara Jawa di atas media kain terpanjang. Kalau rekor yang ada saat ini sekitar 500 meter, insyaallah kami akan memecahkannya menjadi 600 meter," kata Air Langga, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Setiap peserta menuliskan aksara Jawa pada kain yang telah dibagi sesuai dengan bagiannya masing-masing.
Air Langga menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk menjadikan budaya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
"Kami ingin menyampaikan bahwa budaya tidak kemudian hilang karena kemajuan zaman. Justru budaya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Salah satunya melalui penggunaan bahasa Jawa dan aksara Jawa," jelasnya.
Upaya pelestarian bahasa dan budaya Jawa juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah. Salah satunya melalui program penggunaan bahasa Jawa setiap hari Selasa.
Pada hari tersebut, para siswa mengenakan pakaian lurik dan dibiasakan menggunakan unggah-ungguh atau tata krama berbahasa Jawa saat berinteraksi. Mereka juga diajarkan cara menyapa teman sesuai dengan tata krama, seperti menggunakan panggilan "Mas" dan "Mbak".
Selain itu, aksara Jawa yang dituliskan dalam kegiatan tersebut bukan sekadar rangkaian huruf. Para siswa juga menuliskan kata-kata mutiara dan pitutur luhur yang mengandung nilai pendidikan serta pesan kehidupan.
Beberapa di antaranya berupa paribasan Jawa, seperti "becik ketitik, ala ketara", yang mengandung pesan moral bahwa kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan terlihat.
"Jadi kami tidak hanya melakukan pemecahan rekor. Di balik itu ada makna yang mendalam. Anak-anak mendapatkan pesan-pesan leluhur yang memiliki nilai luhur dan bisa menjadi bagian dari pembelajaran mereka," ujarnya.
Air Langga menambahkan, pembelajaran bahasa dan budaya Jawa telah dipersiapkan dalam kurikulum sekolah dan diberikan secara bertahap kepada siswa, mulai kelas 1 hingga kelas 6.
"Ini merupakan bagian dari wujud komitmen kami untuk mengenalkan dan melestarikan budaya kepada anak-anak. Harapannya, mereka tidak hanya bisa membaca dan menulis aksara Jawa, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya," pungkasnya.
Simak Video "Pertamina Patra Niaga Pecahkan Rekor MURI Lewat 8.100 Porsi Ayam Kecap Nusantara"
(ihc/dpe)