Batik Sidoarjo dari Motif Udang-Bandeng hingga Hidupi Ratusan Perajin

Batik Sidoarjo dari Motif Udang-Bandeng hingga Hidupi Ratusan Perajin

Suparno - detikJatim
Jumat, 02 Okt 2026 16:15 WIB
Batik tulis di Sidoarjo
Batik tulis di Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Batik Sidoarjo tak hanya menjadi bagian dari identitas budaya daerah. Di balik motif khas seperti udang, bandeng, Brahmana hingga kembang tebu, terdapat roda ekonomi yang menghidupi para perajin, mayoritas di antaranya perempuan.

Perajin batik Sidoarjo, Nurul Huda mengatakan, keberlangsungan industri batik lokal berkaitan erat dengan keberadaan pasar. Saat ini, salah satu pasar utama batik Sidoarjo berasal dari instansi pemerintah, dinas, dan aparatur sipil negara (ASN).

Menurutnya, kebijakan pemerintah daerah yang mendorong penggunaan batik Sidoarjo dapat memberikan kepastian pasar bagi para perajin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ada kebijakan atau surat edaran yang kuat untuk memakai batik Sidoarjo, permintaan meningkat. Tapi kalau penegasannya longgar, masyarakat bisa kembali memakai batik dari luar Sidoarjo," kata Nurul Huda ditemui detikJatim di rumahnya, Jumat (2/10/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menyebut, kondisi tersebut menjadi tantangan karena pasar batik Sidoarjo masih cukup terkonsentrasi pada lingkungan pemerintahan.
Bagi perajin, keberadaan pasar lokal bukan hanya soal penjualan kain. Industri batik juga menyerap tenaga kerja dan memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Nurul menyebut, sebagian besar pekerja di sektor batik merupakan perempuan. Dalam sehari dengan waktu kerja sekitar tujuh jam, penghasilan pekerja berkisar Rp 125 ribu hingga Rp 200 ribu.

"Ini bukan hanya soal kain atau budaya. Ada ibu-ibu yang mendapatkan penghasilan dari sini. Penghasilannya kemudian digunakan untuk kebutuhan keluarga," ujarnya.

Menurut dia, satu perajin bahkan dapat melibatkan lebih dari 100 orang dalam aktivitas produksi. Karena itu, ketika permintaan batik lokal meningkat, dampaknya ikut dirasakan pekerja dan keluarga mereka.

Sebaliknya, apabila penggunaan batik dari luar daerah lebih dominan, uang yang seharusnya berputar di Sidoarjo berpotensi mengalir ke daerah lain.

Nurul menjelaskan, batik Sidoarjo memiliki identitas yang membedakannya dengan batik dari daerah lain. Sejumlah motif yang dikenal antara lain udang, bandeng, Brahmana dan kembang tebu. Selain motif, karakter warna batik Sidoarjo yang cenderung cerah dan penuh warna juga menjadi salah satu daya tarik.

"Kalau dipakai, orang bisa mengenali. Motifnya ada udang, bandeng, kembang tebu, kemudian warnanya juga full color. Itu menjadi identitas Sidoarjo," jelasnya.

Karakter warna tersebut juga dinilai memudahkan pemakainya, terutama perempuan, untuk memadukan kain batik dengan berbagai warna busana maupun jilbab.

Nurul juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai perbedaan batik tulis dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik printing.

Menurutnya, batik tulis memiliki proses produksi dan nilai yang berbeda. Pembuatan dilakukan menggunakan malam atau lilin dengan canting maupun cap sehingga setiap lembar memiliki karakter tersendiri.

Sementara produk printing dibuat melalui proses pencetakan sehingga dapat diproduksi secara massal dengan harga lebih terjangkau.

"Printing tetap ada pasarnya. Tidak perlu dilawan karena memang segmennya berbeda. Yang penting masyarakat tahu mana batik tulis dan mana printing," katanya.

Ia menilai edukasi menjadi penting agar konsumen tidak hanya melihat perbedaan harga, tetapi juga memahami proses, tenaga, nilai seni, dan keunikan produk.

Batik tulis, lanjut Nurul, bahkan memungkinkan konsumen memesan dalam jumlah sedikit. Setiap lembar juga memiliki karakter yang tidak sepenuhnya sama.

"Kalau batik tulis, satu atau dua potong bisa dibuat. Motifnya tidak akan benar-benar sama. Justru itu nilai keunikannya," tuturnya.

Untuk menjaga minat konsumen, para perajin juga dituntut terus berinovasi. Nurul menyebut desain baru perlu dibuat secara berkala agar konsumen tidak merasa monoton.

"Desain harus terus diperbarui. Misalnya dua minggu sekali ada desain baru, sehingga pembeli punya pilihan dan tidak bosan," ujarnya.

Menurutnya, konsumen batik tulis memiliki selera yang beragam. Keunikan dan eksklusivitas produk menjadi salah satu alasan pelanggan tetap memilih batik tulis meski harganya lebih tinggi.

Tak Semua Sekolah Harus Wajib Batik Tulis
Di sisi lain, Nurul memahami apabila harga batik tulis menjadi pertimbangan ketika hendak dijadikan seragam wajib bagi seluruh siswa.

Menurutnya, batik tulis memiliki harga yang relatif tinggi sehingga penerapan sebagai seragam sekolah secara menyeluruh perlu mempertimbangkan kemampuan ekonomi orang tua.

"Kalau untuk siswa, jangan sampai kebijakan justru memberatkan orang tua. Batik Sidoarjo tetap bisa dikenalkan melalui kegiatan tertentu, misalnya Hari Batik atau acara budaya," katanya.

Nurul berharap pemerintah tidak hanya membuat kebijakan penggunaan batik Sidoarjo, tetapi juga memberikan pembinaan dan edukasi kepada masyarakat.

Ia juga mendorong pelibatan paguyuban atau perwakilan perajin dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan industri batik.

"Yang kami harapkan pemerintah membantu menjaga pasar, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan melibatkan perajin dalam setiap kebijakan. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya budaya, tetapi juga ekonomi masyarakat," pungkasnya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads