Hampir 12 tahun, Fitrisiana Budikartiko Sari (60) atau akrab disapa Bunda Iis, mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi anak penderita kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI).
Tak hanya menjadi orang tua asuh, Bunda Iis juga merangkap sebagai sopir ambulans yang mengantar pasien berobat. Bahkan, ketika harus berangkat ke Rumah Sakit tengah malam sekalipun. Meski usianya tak lagi muda. Namun, semangat pengabdiannya mendampingi anak-anak pejuang kanker tak mengenal kata lelah.
"Jam berapapun, walaupun sakitpun, saya tetap kerja, tetap mengantar mereka. Jam 01.00 WIB, jam 02.00 WIB malam, ada apa-apa, saya berangkat mengantar ke IGD," kata Bunda Iis kepada saat ditemui, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, tidak ada kalender merah di dalam hidupnya. Semua tenaganya ia curahkan untuk membantu pasien penderita kanker. Meski seringkali rasa jenuh datang menghampirinya.
"Enggak pernah libur, Lebaran, Natal, tahun baru, tanggal merah, tetap 24 jam di sini," ujarnya.
"Kalau jenuh itu saya jalan-jalan sama anak-anak, jalan kaki kompleks sekitar sini. Kalau ada rezeki, saya bawa anak-anak jalan-jalan ke Taman Harmoni. Rasa jenuh itu pasti ada," lanjutnya.
Bunda Iis menuturkan, semula ia bergabung di YPKAI karena ajakan dari Bunda Rubiyah untuk membuat kue yang hasilnya dibagi untuk yayasan dan dirinya. Namun, karena seluruh karyawan di sana mengundurkan diri. Ia akhirnya diberi tanggung jawab untuk turut serta menjadi pengasuh rumah singgah tersebut.
"Awal mulanya ya sebetulnya saya dulu diajak kerjasama sama Bunda Rubia, pemilik yayasan ini, untuk bikin kue, bikin roti. Keuntungannya separuh buat saya, separuh untuk YPKI. Ternyata karyawannya semuanya keluar, jadi saya disuruh bantu-bantu di sini," terangnya.
Saat itu umurnya masih 48 tahun, ia mengurus segala kebutuhan yang ada di rumah singgah. Hingga kini, usianya telah menginjak 60 tahun. Namun, semangatnya tidak pernah memudar.
"Dulu itu usia saya masih 48 tahunan kira-kira, sekarang sudah 60 tahun. Masih semangat, masih kayak dulu," ucapnya.
Ada banyak sekali tantangan yang dihadapi Bunda Iis selama mendampingi anak-anak penderita kanker. Salah satunya ketika melihat anak-anak kecil yang menangis menahan rasa sakitnya. Ia sering merasa kasihan dan ingin membantu. Tetapi terkadang kesulitan memahami apa yang mereka inginkan.
"Tantangannya itu ya, kalau yang kecil-kecil itu, kalau anak-anak nangis, kepinginnya bantu, tapi enggak tahu apa yang dipinginin anaknya. Kan enggak bisa ngomong, bisa cuma nangis. Jadi kadang-kadang di sini itu sakit. Ya, segini kecilnya sudah kesakitan. Sakit banget, yang besar saja kesakitan, apalagi yang kecil-kecil itu," tuturnya.
Pengalaman menyakitkan yang sering dialami Bunda Iis adalah kehilangan anak-anak yang didampinginya selama masa pengobatan. Bahkan, ia menganalogikan kedekatan itu seperti perangko yang menempel.
"Saya enggak membayangkan seberapa kuat. Yang awalnya, saya juga, apa ya, lihat anak-anak kesakitan, lihat anak-anak meninggal, ya. Terus sudah kayak perangko sama saya, semua nempel anak-anak itu. Terus meninggal. Itu rasanya kehilangan. Nangis sakitnya, sampai saya enggak bisa nangis. Jadi saya kadang-kadang minta maaf sama ibunya. Maaf ya, Bu. Aku enggak bisa nangis. Memang sudah banyak sekali yang meninggal dari sini," ucapnya.
Bunda Iis mengaku justru banyak belajar dari anak-anak didampinginya. Terutama, perihal kesabaran, kepedulian, hingga ketulusan dalam menghadapi berbagai keadaan.
"Jadi saya yang belajar dari anak-anak. Bukan anak-anak atau mereka yang belajar dari saya, tapi saya yang belajar dari mereka. Belajar di ikhlas, belajar peduli, belajar sabar," pungkasnya.
