Kisah Loper Koran di Jember yang Bertahan di Era Media Digital

Kisah Loper Koran di Jember yang Bertahan di Era Media Digital

Yakub Mulyono  - detikJatim
Minggu, 28 Jun 2026 17:40 WIB
Loper koran di Jember.
Loper koran di Jember. Foto: Yakub Mulyono/detikJatim
Jember -

Di bawah terik matahari di perempatan lampu merah Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, seorang pria paruh baya tampak sigap melangkah. Begitu lampu lalu lintas berwarna merah, dengan cekatan ia mendekati para pengendara yang berhenti, menawarkan lembaran-lembaran koran di tangannya.

Pria itu bernama Nur Hasan. Usianya sekitar 53 tahun. Dia akrab disapa Pak Nur. Warga Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember ini merupakan satu dari sedikit loper koran yang masih setia bertahan, meski zaman telah berubah ke arah digital.

"Saya mulai berjualan sejak pukul 06.00 WIB, biasanya pukul 08.30 WIB sudah pulang. Dulu saya bisa bertahan sampai jam 1 atau jam 2 siang karena masih ramai pembeli. Namun, semenjak ada Android (HP), penjualan saya menurun," katanya saat ditemui, Minggu (28/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjadi loper koran telah dilakoni Pak Nur sejak ia baru memiliki dua anak. Kesetiaannya pada aroma kertas koran terus berlanjut hingga ia dikaruniai tiga anak dan dua cucu.

ADVERTISEMENT

Awalnya, menjual koran hanyalah pekerjaan sampingan bagi Pak Nur. Namun, seiring berjalannya waktu, pekerjaan ini justru menjadi mata pencaharian utamanya demi menyambung hidup keluarga.

Meski pendapatan dari menjual koran kini tak lagi sebesar dulu, Pak Nur tetap bersyukur.

"Kalau pendapatan itu tidak pasti. Tapi, kalau dibilang cukup, alhamdulillah cukup," ucap Pak Nur dengan raut wajah datar dan menyiratkan ketabahan.

Setiap harinya, Pak Nur mengambil pasokan koran dari agen. Sistem pendapatannya pun tidak langsung cair hari itu juga.

"Melainkan baru bisa saya terima keesokan harinya setelah seluruh setoran dihitung," ujarnya.

Menjadi loper koran di jalanan tentu bukan perkara mudah. Pak Nur menceritakan, kendala terbesar yang sering dihadapinya adalah cuaca buruk dan kondisi lampu lalu lintas yang mati. Jika lampu mati, arus kendaraan menjadi tak teratur dan membahayakan dirinya.

"Kalau hujan deras, saya pindah ke trotoar. Kalau cuma gerimis masih bisa jualan. Soalnya kalau koran dari agen itu basah, tidak bisa dikembalikan (retur). Dianggap sudah habis terjual begitu keluar dari rumah juragan. Beda dengan koran Radar Jember yang masih bisa dikembalikan kalau rusak," paparnya.

Selain tantangan cuaca dan gempuran smartphone, hantaman keras juga dirasakan Pak Nur sejak pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun silam. Saat itu, omzetnya turun drastis karena masyarakat takut berinteraksi langsung dan menyentuh fisik koran.

Dampak lesunya minat baca koran cetak itu bahkan masih terasa hingga hari ini. Pak Nur terpaksa memangkas drastis jumlah koran yang ia bawa setiap pagi.

"Dulu saya biasanya membawa sekitar 35, 45, sampai 50 eksemplar koran. Tapi sekarang dikurangi karena sepi. Cuma bawa sedikit, hanya 15 koran saja," pungkas Pak Nur, sambil kembali bersiap menghampiri kendaraan yang berhenti di lampu merah.




(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads